Islami Pedia: Masjid bersejarah
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid bersejarah. Show all posts
Showing posts with label Masjid bersejarah. Show all posts

Saturday, October 31, 2020

Masjid Sultan Kasimuddin, Bulungan – Kaltara (Bagian-2)

Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (foto dari muzarkasy)

Sejarah Masjid Sultan Kasimuddin

Sejarah kesultanan Bulungan tidak secara spesifik menjelaskan sejarah pembangunan masjid ini. hanya disinggung sedikit bahwa dimasa pemerintahan Sultan ke-6 Bulungan, Datuk Alam bergelar Khalifatul Alam Muhammad Adil yang berkuasa tahun 1873 – 1875, beliau pernah merenovasi Masjid Jami’ Tanjung Palas. Namun tidak menyebutkan kapan persisnya masjid tersebut dibangun. Namun dengan sendirinya kita dapat menyimpulkan bahwa Masjid Jami Kesultanan Bulungan sudah berdiri sebelum masa pemerintahan beliau yang hanya dua tahun itu.

Dan ditambah lagi dengan kenyataan bahwa masjid yang di renovasi oleh Datuk Alam adalah masjid Jami’ yang berbeda dengan Masjid Sultan Kasimuddin, karena lokasinya berbeda tempat. Situs kemenag (kementrian agama RI) menyebutkan bahwa “Masjid Kasimuddin didirikan pada waktu pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Kasimuddin (1901-1925). Setelah meninggal, beliau dimakamkan di halaman masjid sebelah barat,sedangkan makam di sekitarnya merupakan makam keluarga raja.

Semasa hidupnya Sultan Kasimuddin terkenal sebagai sultan bulungan yang gigih melawan pengaruh Belanda di Bulungan, satu ucapan beliau yang sangat terkenal saat ia menghentikan aturan protokoler Belanda yang mengharuskan Sultan menjemput di dermaga ketika pejabat Belanda hendak berkunjung ke isana raja, “kalau kami sendiri harus menjemput tuan Belanda dari kapal untuk menghadap raja, maka raja mana lagi yang harus dikunjungi, karena saya adalah raja !,“

Ruang utama Masjid Sultan Kasimuddin dengan rangkaian tiang tiang kayu ulin yang langsing namun begitu kokoh meski sudah berusia begitu tua (foto darimuzarkasy)

Menurut H. E. Mohd Hasan, dkk, Mesjid Kasimuddin di Bangun sekitar tahun 1900-an, letaknya tak begitu jauh dari bekas mesjid pertama yang dibangun oleh Sultan Datu Alam Muhammad Adil yang berada di dekat tepi sungai Kayan.  Lokasi masjid yang kini berdiri terpaut sekitar 150 meter ke arah darat dari lokasi mesjid pertama. Pemindahan lokasi masjid ini kemungkinan besar karena lokasi masjid lama sangat dekat dengan sungai, sehingga dikhawatirkan pondasinya bisa rubuh dan membahayakan jemaah.

Kondisi tanah agak becek karena berupa tanah rawa sehingga masyarakat bergotong royong membersihkan dan menimbunnya. uniknya waktu penimbunan tanah pada siang hari untuk kaum laki-laki sedangkan pada malam hari dikerjakan oleh kaum wanita. tidak hanya masyarakat biasa, Sultan Kasimuddin, beserta staf istana dan pegawai mesjid juga turut terlibat penuh dalam pembangunan mesjid bersejarah ini.

Pada awalnya lantai masjid ini hanya dilapisi tikar, kemudian dengan biaya Sultan Kasimuddin sendiri lantai tersebut dipercantik dengan marmer sampai sekarang. marmer dimesjid Kasimuddin ini kemduian diperindah dimasa Sultan Djalaluddin. Sisi dalam masjid ini juga diperindah dengan seni kaligrafi Islam. sebagai bangunan bersejarah Masjid Sultan Kasimuddin sudah beberapa kali mengalami pemugaran yang dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Timur dari tahun anggaran 1992/1993-1993/1994.

Sebagai masjid Kesultanan, mesjid Kasimuddin memiliki kaitan yang kuat dengan istana Bulungan. pada awalnya para imam mesjid dijabat secara turun temurun. Jabatan imam merupakan jabatan penting. Di tahun 1933 Sultan Kasimuddin melantik tiga belas pejabat keagamaan di Istana Bulungan. Dan kemungkinan besar Qadi yang dilantik pada saat itu adalah Hadji Baha'Uddin, ulama asal Minangkabau, sedangkan Mufti kemungkinan besar adalah Hadji Syahabuddin Ambo' Tuwo, ulama asal Wajo yang juga guru mengaji di Istana Bulungan tempo dulu. Dimasa Sultan Kasimuddin berkuasa, jabatan Mufti Negeri, Qadi dan Imam Besar memiliki peran dan pengaruh yang besar untuk melakukan pembinaan terhadap umat.

Sisi Mihrab, ruang mihrab dan mimbar di dalam Masjid Sultan Kasimuddin. sekilas saja tampak bahwa arah kiblat di dalam masjid ini sedikit miring. karenanya kemudian deretan sajadah di dalam nya di tata sedikit miring untuk menyesuaikan dengan arah kiblat. (foto darimuzarkasy)n

Legenda Beduk di masjid Sultan Kasimuddin

Seperti masjid masjid tua di Indonesia pada umumnya, masjid Sultan Kasimuddin ini juga dilengkapi dengan Beduk yang sudah sama tuanya dengan bangunan masjidnya sendiri namun masih berpungsi dan kondisi kayunya pun masih sangat baik. Berdasarkan kisah tutur yang berkembang di masyarakat disebutkan bahwa Konon kayu yang dijadikan beduk ini hanyut dari hulu dan terdampar didalam parit dekat lokasi pembangunan mesjid kasimuddin, potongan kayu tersebut sudah berbentuk beduk (mungkin maksudnya sudah berupa potongan kayu besar dengan rongga ditengahnya).

Potongan kayu yang disebut oleh ketua-ketua kampung sebagai "nenek kayu" tersebut kemudian dijadikan beduk di Masjid Sultan Kasimuddin. Beduk berukuran panjang 274 cm, dan ber garis tengah 47 cm dengan ketebalan kayu sekitar 1 inci atau 2,4 cm ini sampai kini masih terawatt dan berfungsi dengan baik di masjid Kasimuddin.

Mimbar di Masjid Sultan Kasimuddin. Mimbar yang sudah berumur sama tuanya denganbangunan utama masjid ini di ukir dengan sangat indah dengan ukiran khas Bulungan. (foto darimuzarkasy)

Tradisi Masjid Sultan Kasimuddin

Dimasa kesultanan, pada bulan-bulan hijriyah yang penting, ada tradisi berkumpulnya para pemuka agama dan masyarakat serta kerabat kesultanan di istana Bulungan, biasanya diawali dengan tembakan salvo "Meriam Sebenua", khususnya pada awal dan akhir Ramadhan serta malam 1 Syawal. Sehari menjelang Ramadhan, semua pengawai mesjid, berkumpul di istana untuk tahlilan menyambut ramadhan. Selesai acara Sultan biasanya memberikan uang kepada pegawai mesjid atau jawatan keagamaan masing masing kepada Qadi dan juga Mufti 35 gulden, para Imam 25 gulden, khatib 15 gulden dan Santri 10 gulden.

Selama Ramadhan seluruh pegawai mesjid dan staf istana tidak ada yang meninggalkan tempat khusus melaksanakan tugas mereka. sepanjang malam mesjid dan istana raja ramai dengan acara Tadarus Al-Qur'an, Istana juga menyediakan makan bagi mereka yang tadarusan, termasuk sajian buka puasa di masjid dan istana. Khatamul Al-Qur’an dilaksanakan di masjid ini dilanjutkan dengan pembagian zakat fitrah oleh pegawai Masjid. Di masjid ini juga pada masa jayanya Sultan mengeluarkan zakat mall (harta) setiap tanggal 27 Ramadhan.

Arsitektural Masjid Sultan Kasimuddin

Luas lahan Masjid Kasimuddin 3.560,25 m2, dan luas bangunan 585,64 m2. Bangunan masjid terbuat dari kayu dan beton, berbentuk bangunan semi permanen. Dinding bangunan terbuat dari papan kayu ulin. Menurut keterangan masyarakat setempat pondasi dan lantainya terbuat dart campuran semen dan batu yang berlapiskan tegel/ubin bermotif arsitektur Eropa yang diimpor dart Belanda. Ruang utama berbentuk bujur sangkar, berukuran 19 × 19 m, tinggi bangunan sampai puncaknya 15,50 m.

Bangunan ruang utama mempunyai beberapa tiang penyangga yang terdiri dari empat tiang utama/saka guru dengan penampang segi empat, tinggi 11,15 m. Duabelas tiang pembantu dengan penampang segiempat tinggi 8 m mengelilingi tiang utama. Lima puluh buah tiang pembantu deretan ke tiga mengelilingi 12 tiang pembantu, merupakan deretan tiang paling bawah yang sekaligus menjadi pegangan konstruksi papan dinding dan pintu-pintu masjid, dan empat puluh tujuh tiang.

Beduk di Masjid Sultan Kasimuddin. (foto darimuzarkasy)

Masjid Kasimuddin tidak mempunyai jendela, namun memiliki 11 pintu yang terletak disekeliling bangunan. terdiri dari 3 pintu depan, 3 pintu kiri, 3 pintu disebelah kanan, dan 2 dua pintu lagi di bagian belakang dekat mimbar menghadap ke kompleks kuburan Sultan Bulungan dan keluarga. Bangunan mihrab masjid ini mempunyai kekhususan pada ruangan dan atapnya. Ruang mihrabnya berukuran 3,60 × 2,80 m dengan bentuk segi lima. Dinding semi permanen terdiri atas bagian bawah setinggi satu meter terbuat dari pasangan ubin/tegel bermotif dengan warna hijau papan kuning, dinding atas terbuat dari bahan papan kayu ulin.

Di bagian dinding sisi mihrab dipasang kaca berwarna putih bening dan bagian atasnya dipasang kaca berwarna hijau yang mengelilingi ruangan tersebut. Kaca kaca ini berfungsi sebagai penerangan alami ruangan masjid di siang hari. Di ruang mihrab ini terdapat enam tiang berfungsi sebagai penopang atap. Atapnya tidak bersusun tiga, berbentuk segi delapan dan meruncing ke atas dan lebih pendek dari pada atap bangunan induk. Dibagian ujung atapnya diletakkan sebuah mahkota terbuat dari kayu ukir.

Sebagaimana masjid masjid lainnya, di Masjid Sultan Kasimuddin ini juga terdapat sebuah mimbar. Mimbar tua didalam Mesjid Sultan Kasimuddin ini dihias dengan ragam seni ukir khas Bulungan yang begitu indah dengan pola ukir dedaunan sangat menonjol dihampir semua bagian mimbar terutama pada bagian tangga, kepala mimbar, bagian dalam mimbar yang semuanya diukir dengan sangat teliti dan dilapis cat berwarna keemasan. Menurut penuturan masyarakat setempat, mimbar tersebut dibuat dan dihadiahkan oleh seorang kerabat Kesultanan yang sangat ahli dalam seni ukir Bulungan. Selesai.

Kembali ke Bagian-1

Referensi

kompas.com - Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara Disambut Gembira

kompas.com - Indonesia Tambah Satu Provinsi dan Empat Kabupaten Baru

kemenag.go.id - Masjid Kasimuddin

muhzarkasy-bulungan - Selayang Pandang Sejarah Mesjid Sultan Kasimuddin.

Situs resmi kabupaten bulungan  - www.bulungan.go.id

depdagri.go.id - Bulungan

-----------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Kalimantan Lainnya

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, tertua di Pontianak (Kalbar)

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda (Kaltim)

Masjid Kiai Gede Kotawaringin, Tertua di Kalimantan Tengah

Masjid Raya Darussalam Samarinda (Kaltim)

Masjid Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Friday, October 30, 2020

Masjid Sultan Kasimuddin, Bulungan – Kaltara (Bagian-1)

Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (foto dari muhzarkasy)

Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) secara resmi disyahkan dalam sidang paripurna DRPRI pada hari Kamis tanggal 25 Oktober 2012 yang lalu. Provinsi ke 34 yang baru terbentuk ini terdiri dari  lima kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan. Tanjung Selor yang merupakan ibukota kabupaten Bulungan ditetapkan sebagai ibukota Propinsi. Pengesahan tersebut bersamaan dengan pengesahan pembentukan empat kabupaten baru masing masing adalah  Kabupaten Pangandaran, di Jawa Barat, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak di Papua Barat dan Kabupaten Pesisir Barat di Provinsi Lampung.

Pemekaran Propinsi Kaltara dari propinsi induk, Kalimantan Timur ini diharapkan dapat segera memacu pembangunan di kawasan perbatasan negara dengan Malaysia mengingat Kaltara berbatasan darat dan laut langsung dengan Negara jiran tersebut. Kabupaten Bulungan (dulunya disebut Bulongan) yang menjadi Ibukota Propinsi baru ini, merupakan kelanjutan dari Kesultanan Bulungan yang pernah memiliki sejarah gemilang hingga ke masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Di Kabupaten Bulungan masih dapat ditemui satu satunya peninggalan sejarah yang masih utuh hingga kini yakni Masjid Sultan Kasimuddin yang berada di Tanjung Palas, tak seberapa jauh dari Tanjung Selor.

Lokasi Masjid Sultan Kasimuddin

Masjid Sultan Kasimuddin

Desa Tanjung Palas Tengah, Kecamatan Tanjung Palas

Kabupaten Bulungan, Propinsi Kalimantan Utara

Indonesia

Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan

Berdasarkan legenda yang dituturkan masyarakat setempat secara turun temurun, Bulungan, berasal dari perkataan “Bulu Tengon” (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Legenda menyebutkan bahwa dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan.

Meski tak ada catatan tertulis, namun dapat diketahui bahwa masyarakat Bulungan ketika itu sudah memiliki struktur kepimpinan adat yang bernafaskan Islam. Di tahun 1555 – 1595 seorang kepala adat bernama Datu mencang memimpin masyarakat Bulungan dengan gelar Ksatria Wira. Kemudian beliau digantikan oleh menantunya yang berasal dari Filipina Selatan bernama Singa Laut dan berkuasa di kurun waktu 1595 – 1631. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh Wira Kelana lalu Wira Digedung hingga tahun 1731. Tahun 1731 terbentuklah Kesultanan Bulungan dengan Wira Amir sebagai Sultan Bulungan pertama Bergelar Sultan Amiril Mukminin berkuasa hingga tahun 1777. Kepemimpinan kesultanan berlanjut secara turun temurun.

Kota Tanjung Selor, Ibukota Kabupaten Bulungan sekaligus Ibukota bagi Provinsi Kalimantan Utara yang baru terbentuk. Tanjung Palas tempat Masjid Sultan Kasimudin berada diseberang sungai Kayan. dari Tanjung Selor harus menyeberang menggunakan jasa angkutan sungai menuju Tanjung Palas.

Berikut ini adalah para Sultan, Wali Sultan dan Pemangku Kesultanan yang pernah berkuasa di Kesultanan Bulungan, Kalimantan Utara, mulai dari Sultan Pertama yakni Sultan Amiril Mukminin (1731-1777) hingga ke Sultan terahir, Sultan Djalaluddin (1931-1959).

Sultan ke-1 : Wira Digedung, Sultan Amiril Mukminin 1731 – 1777

Sultan ke-2 : Aji Ali, Sultan Alimuddin 1777-1817

Sultan ke-3 : Aji Muhammad, Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin 1817-1861

Sultan ke-4 : Si Kiding, Sultan Muhammad Djalaluddin 1861-1866

Sultan ke-5 : Aji Muhammad, Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin 1866-1873

Sultan ke-6 : Datuk Alam, Khalifatul Alam Muhammad Adil 1873 – 1875

Sultan ke-7 : Ali Kahar, Sultan Kaharuddin II 1875 – 1889

Sultan ke-8 : Sultan Azimuddin  1889 – 1899

Wali Sultan : Puteri Sibut  (permaisuri Sultan Azimudin) 1899 - 1901

Sultan ke-9 : Datu Belembung, Sultan Maulana Muhammad Kasim Al-Din Atau Sultan Kasimuddin (1901 – 1925)

Pemangku Kesultanan : Datuk Mansyur (1925 – 1930)

Sultan ke-10 : Sultan Muhammad Sulaiman (1930 – 1931)

Sultan ke-11 : Datuk Tiras, Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin (1931 – 1959)

Aji Muhammad atau Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin, dua kali menjabat sebagai Sultan Bulungan. Periode pertama dijabatnya tahun 1817 hingga 1861. Tahun 1861 beliau mundur dan mengangkat Putranya Si Kiding sebagai sultan bergelar Sultan Muhammad Djalaluddin namun justru wafat mendahului beliau di tahun 1866. Itu sebabnya kemudian beliau kembali naik tahta untuk kedua kalinya sebagai Sultan Bulungan ke-5 hingga tahun 1873.

Sultan Kasimuddin

Ketika Sultan Bulungan ke-8, Sultan Azimudin wafat ditahun 1899, putra putra beliau masih belia dan belum layak untuk menjadi Sultan. Maka Permaisuri beliau yang juga puteri dari Sultan Kaharudin II, Puteri Sibut atau Pengian Kesuma yang kemudian bertindak sebagai wali Sultan sampai tahun 1901 dibantu oleh perdana menteri Datu Mansyur. Baru kemudian di tahun 1901 putra Sultan Azimudin yang bernama Datu Belembung di angkat menjadi Sultan Bulungan ke 9 bergelar Sultan Maulana Muhammad Kasim Al-Din Atau lebih dikenal dengan nama Sultan Kasimuddin.

Sultan Kasimuddin (1901-1925) meninggal karena tertembak di tahun 1925. Sementara Putranya Ahmad Sulaiman yang semestinya menjadi pewaris tahta waktu itu sedang mengikuti pendidikan Holands Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan. Maka untuk sementara waktu kekuasaan pemerintahan dikendalikan oleh Datu Mansyur hingga tahun 1930 sebagai pejabat pemangku kesultanan. Sultan Ahmad Sulaiman baru naik tahta saat kembali ke Bulungan setelah menyelesaikan pendidikannya. Namun masa jabatannya sangat singkat, hanya Sembilan bulan karena beliau wafat secara mendadak.

Ketika Sultan Bulungan ke-10, Sultan Muhammad Sulaiman (1930 – 1931) mangkat di tahun 1931 beliau digantikan oleh adiknya yang bernama Datuk Tiras bergelar Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin yang berkuasa sebagai Sultan Hingga tahun 1950. Di masa pemerintahan beliau, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan dan Kesultanan menetapkan meleburkan diri ke dalam NKRI. Di masa pemerintahan beliau juga untuk pertama kali dikibarkan bendera merah putih di halaman Istana Kesultanan Bulungan dalam upacara 17 Agustus 1949.

foto lama yang mengabadikan Para Imam, Qadi dan tokoh tokoh Islam sedang bersama Sultan di Istana Sultan Bulungan. Bangunan istana Sultan Bulungan sendiri ludes terbakar dalam kerusuhan massa di awal awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Tahun 1950 Kedudukan Kesultanan Bulungan Ditetapkan Sebagai Wilayah Swapraja melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor : 186/Orb/92/14/1950 dan disahkan dengan Undang-Undang Darurat RI Nomor 3 Tahun 1953 . Setahun kemudian, Melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor : 186/Orb/92/14/1950 Kedudukan Kesultanan Bulungan Ditetapkan Sebagai Wilayah Swapraja . Keputusan gubernur ini disahkan dengan Undang-Undang Darurat RI Nomor 3 Tahun 1953.

Tahun 1955 wilayah Kesultanan Bulungan ditetapkan menjadi Daerah Istimewa sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1955, Sultan Maulana Djalaluddin diangkat menjadi Kepala Daerah Bulungan Pertama sampai beliau mangkat 21 Desember 1958. Setahun setelah wafatnya Sultan Terahir Bulungan ini, di tahun 1959 melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 Status Daerah Istimewa Diubah Lagi Menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Bulungan, dan Bupati pertamanya adalah Andi Tjatjo Datuk Wiharja (1960 – 1963) yang tak lain adalah adik ipar dari Sultan Maulana Djalaluddin . Sejak itu pula pusat pemerintahan dipindahkan dari Tanjung Palas ke Tanjung Selor hingga sekarang ini.

Bersambung ke bagian-2

Referensi

kompas.com - Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara Disambut Gembira

kompas.com - Indonesia Tambah Satu Provinsi dan Empat Kabupaten Baru

kemenag.go.id - Masjid Kasimuddin

muhzarkasy-bulungan - Selayang Pandang Sejarah Mesjid Sultan Kasimuddin.

Situs resmi kabupaten bulungan  - www.bulungan.go.id

depdagri.go.id - Bulungan

-----------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Kalimantan Lainnya

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, tertua di Pontianak (Kalbar)

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda (Kaltim)

Masjid Kiai Gede Kotawaringin, Tertua di Kalimantan Tengah

Masjid Raya Darussalam Samarinda (Kaltim)

Masjid Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Saturday, October 17, 2020

Masjid Telok Manok, Tertua di Thailand

MASJID KAYU Telok Manok di provinsi Narathiwat, Thailand. Masih kokoh berdiri sampai kini meski telah berusia ratusan tahun.

Di provinsi Narathiiwat, salah satu berdasarkan empat provinsi pada wilayah selatan Thailand berdiri sebuah masjid kayu yang sudah berumur lebih kurang 300 tahun bernama Masjid Telok Manok atau dikenal pula menggunakan nama Masjid Taloh Manoh, Masjid Wadi Hussein, Masjid Talok Manok, Masjid Talo Mano Mosque, Masajid Talomanoh, Masajid Vadialhussein, Vadilhusein Mosque, Masjid Wadi Al-Hussein, atau Al-Hussein Mosque. Beragam nama tetapi merujuk pada satu masjid yg sama.

Masjid Wadi Hussein dibangun pada tahun 1768, menjadikannya menjadi masjid tertua yang masih berdiri pada Thailand. Telok Manok adalah nama desa loka masjid ini berdiri, sebuah desa mini berjarak kurang lebih 25 kilo meter menurut ibukota provinsi Narathiwat. Sedangkan Al-Hussein merupakan ulama penyebar Islam di tempat tadi, & dia jua yang (disebut sebut) membangun masjid kayu ini.

Tentang Telok Manok

Desa Telok Manok adalah keliru satu desa yg berada di ujung paling selatan daerah Thailand berbatasan menggunakan daerah utara Malaysia di daerah semenanjung. Desa ini menhadap ke teluk Thailand, kurang lebih 4 km menurut ibukota distrik Bacho & 25 km berdasarkan ibukota provinsi Natathiwat. Wilayah selatan Thailand ini sering diklaim sebagai wilayah Patani Raya lantaran memang sejarahnya daerah ini merupakan bekas wilayah kekuasaan kesultanan melayu Patani. Itu sebabnya sampai kini secara umum dikuasai penduduk daerah ini memiliki akar tradisi Islam & melayu yg sangat bertenaga. Sangat bertolak belakang dengan statistik Thailand secara nasional yang 97% penduduknya beragama Budha berdasarkan etnis Siam.

Wilayah selatan Thailand pada sejarahnya merupakan wilayah berdasarkan Kesultanan Patani yg mempunyai kemiripan dan kedekatan spesifik menggunakan Kesultanan Kelantan (kini bagian dari Malaysia). Islam masuk ke wilauaj ini dalam abad ke 12 masehi melaui perdagangan antara India, Arab dan China . Keluarga Kerajaan Patani berubah sebagai Kesultanan Islam pada tahun 1457. Dinasti Patani lalu berkembang sebagai satu wilayah menggunakan penduduk terbesar dibandingkan menggunakan kerajaan kerajaan lain disemenanjung Malaya hingga penghujung abad ke 17. Tahun 1688 Kesultanan Kelantan mengalami kemerosotan pengaruhnya di daerah dan tahun 1729 Patani pada dera perang saudara berkepanjangan. Hingga ahirnya takluk ke pada kekuasaan kerajaan Siam di tahun 1786.

Dibawah kekuasaan Siam, Sultan Kelantan dan Patani diwajibkan buat menyerahkan upeti tahunan berupa Bunga Mas ke Kerajaan Siam, tetapi ketegangan budaya dan agama berujung kepada pemberontakan berdasarkan warga Patani sampai hari ini. Dalam upaya memecah kekuatan, Kerajaan Siam lalu membagi bagi daerah Patani menjadi tujuh provinsi di tahun 1816 & tahun 1906 menjadi empat provinsi yang bertahan sampai hari ini. Perjanjian antara Inggris Raya (saat berkuasa di Malaya) menggunakan Kerajaan Siam tahun 1909 ahirnya mengukuhkan daerah utara semenanjung Malaya itu sebagai bagian berdasarkan Kerajaan Thailand.

Sejarah Masjid Telok Manok

Bangunan ini selesai dibangun tahun 1768 di penghujung masa kekuasaan Kesultanan Patani. Siapa pembangunnya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut mengingat beberapa peneliti belum bisa memastikan apakah Al-Hussein atau Wadi Al-Hussein atau Wan Hussein Az-Sanawi merupakan pembangun pertama masjid ini di abad ke 18 atau beliau yang melakukan renovasi pada tahun 1960-an.

Tak jauh dari masjid ini membentang sebatang sungai membelah desa Telok Manok yg menjadi asal air higienis primer dalam masanya buat jemaah berwudhu. Diseberang batang sungai ini membentang pemakaman Islam yg sudah sama tuanya menggunakan bangunan masjid ini. Meski sudah berusia ratusan tahun, sampai kini Masjid Telok Manok masih berfungsi menggunakan baik & sebagai galat satu objek wisata rohani andalan daerah tersebut.

Arsitektural Masjid Telok Manok

Pembangunan masjid ini seperti dengan pembangunan tempat tinggal tempat tinggal kayu di tanah jawa yg nir menggunakan paku besi. Keseluruhan struktur kayu bangunannya disatukan menggunakan sistem interloking satu sama lainnya. Berbagai tabrakan menghiasi masjidi ini dengan motif tumbuh flora seperti ukiran daun dan sulur sulurm ukiran bunga serta gesekan gesekan dengan sentuhan budaya Cina.

Ukiran di luar dan bagian dalam Masjid Telok Manok
Ukiran kerawang menghias daun jendela masjid ini, jendela kayu yang sangat menarik dan kreatif dalam pembuatannya sebagaimana keseluruhan struktur bangunannya. Ukiran khas juga menyentuh kayu kayu penopang atap masjid hingga ke bagian bagian ujung ujung penopang atap.

Pada awalnya bangunan masjid ini memakai atap daun palm, tetapi lalu diganti dengan atap genteng buatan lokal dalalam gaya Patani. Bentuk atap masjid ini memang tidak lazim, meski dibangun pada bentuk atap bersusun 2 namun atap paling atasnya itu dibangun diatas struktur yang adalah miror menurut struk atap dibawahnya. Di atap masjid sisi depannya dibangun sebuah menara kecil tempat muazin mengumandangkan azan, sebuah menara kecil yang dilengkapi ventilasi pada keempat sisinya.***.

Jemaah Masjid Telok Manok
Bagaimanapun bangunan dari kayu tapi mampu bertahan hingga ratusan tahun memang sangat luar biasa dan memiliki nilai estetika tersendiri
Masjid Telok Manok dari sudut pandang yang lain
Detil Eksterior Masjid Telok Manok
Referensi

archnet.org – mosque at taloh manok

Archnet.org – telok manoh

Baca Juga

Masjid The Foundation of Islamic Center of Thailand (FICT)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian dua)

Wednesday, September 30, 2020

Masjid Hukuru Miskiiy, Masjid Tertua di Maladewa

Hukuru Miskiiy atau Hukuru Miskit merupakan masjid tertua di Maladewa. Dibangun menurut sebuah candi.

Maladewa atau Maldives negara kepulauan di tengah samudera Hindia, terdiri rangkaian 1192 pulau pulau kecil yang sebagian besar tak berpenghuni karena ukurannya yang memang terlalu kecil dan hanya berupa pulau karang mungil di tengah samudera. Maladewa masuk dalam daftar negara terkecil di bumi. Keseluruhan luas pulau pulau nya bila digabung jadi satu seluas 298 Km2 bahkan masih lebih kecil dari luas pulau Batam (415 Km2). Ukuran pulau pulaunya yang mini dan letaknya yang berada di tengah samudera Hindia menjadikan Maladewa sebagai negara yang begitu mengkhawatirkan dampak dari pemanasan global. Elevasi pulau pulau di Maladewa paling tinggi hanya 2 meter dari permukaan laut, wajar bila meski jaraknya terpisah lebih dari 2000 kilometer dari Aceh, sebagian pulau pulau Maladewa turut luluh lantak akibat tsunami yang melanda Aceh (Indonesia) di tahun 2004 lalu.

Malé adalah kota terbesar di Maladewa dan juga Ibukota negara, dengan luas hanya 2.6 Km2, sedikit lebih luas dari pulau Penyengat (1,87 Km2) di kota Tanjung Pinang – propinsi Kepulauan Riau (Indonesia), tempat berdirinya Masjid Putih Telur Sultan Riau. Dengan luasnya tersebut menjadikan Malé sebagai ibukota negara berbentuk pulau paling kecil di bumi sekaligus sebagai ibukota negara paling padat penduduknya (90,000 dari total 385,000 penduduk Maladewa tinggal di Malé), paling rapat pula jarak antara satu masjid dengan masjid berikutnya. Maladewa juga merupakan sebuah republik yang menerapkan hukum Islam sebagai hukum negara. Islam adalah satu satunya agama yang di akui di Maladewa. Di kota Malé ibukota Maladewa berdiri sebuah masjid kuno bernama Hukuru Miskiiy, masjid pertama yang berdiri di Maladewa. Meski bentuknya sangat sederhana untuk sebuah masjid yang pernah menjadi Masjid Negara, namun masjid ini menyimpan sejarah panjang peradaban Islam di Maladewa.

Alamat dan Lokasi Masjid Huruku Miskiy ? Maladewa

Medhuziyaarai Magu Malé, Maldives

Koordinat geografi : 4° 10' 40.69" N  73° 30' 45.01" E

Masjid Huruku Miskiy hanya berjarak sekitar 140 meter dari Masjid Masjid Agung Jum’ah Malé (Grand Friday Mosque Malé) yang merupakan Islamic Center dan Masjid Nasional Maladewa atau nama resminya Masjid-al-Sultan Mohammed Thakurufaanu-al-A'z'am, Menara Masjid Islamic Center tersebut bahkan dapat dilihat dengan jelas dari halaman masjid ini. Dan hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai, sejajar dengan Istana Kepresidenan Maladewa, yang berada di tepi pantai.

Tentang Maladewa

Maladewa awalnya adalah kerajaan Budha kemudian berubah menjadi kesultanan Islam. Sejarah masuknya Islam ke Maladewa menjadi cerita tutur turun temurun dari generasi ke generasi. Letaknya yang begitu jauh dari pusat pusat peradaban dunia Islam menjadikan Maladewa seakan luput dari perhatian umat Islam dunia. Maladewa lebih dikenal dunia Internasional sebagai surga pariwisata yang tersembunyi di tengah samudera Hindia. Tak mengherankan bila disebut tersembunyi, karena letak geografisnya memang begitu terpencil dari negara manapun. Berikut gambaran betapa terpencilnya letak geografis Maladewa.

Satu satunya tetangga terdekat dan berbatasan langsung dengan Maladewa di sebelah utara adalah gugus kepulauan Lhaksadweep - India, kepulauan Lhaksadweep memilki kesamaan budaya, sejarah dan agama dengan Maladewa, bahkan salah satu pulau dari gugus kepulauan Lhaksadweep pernah diklaim sebagai milik Maladewa. Namun begitu jarak kota Malé Ibukota Maladewa ke ujung paling selatan daratan Jazirah India di kota Kanyakumari negara bagian Tamil Nadu terpisah sejauh 621 km.

Ibukota negara tetangga terdekat dengan Malé adalah kota Kolombo Ibukota Sri Lanka, berada di sebelah timur laut kota Malé. Jarak antara Masjid Hukuru Miskiiy di Malé ke Masjid Jami Ul-Alfar di Pelabuhan kota Kolombo (Sri Lanka) terpaut jarak 766 km, bukan jarak yang dekat tentunya. Jarak antara pantai timur Malé ke pantai paling barat pulau Simeulue di Aceh sejauh 2469 km. Tetangga terdekat Maladewa di sebelah tenggara adalah pulau keeling (milik Australia) sejauh 3149km.

Maladewa berada ditengah tengah Samudera Hindia membuatnya begitu terpencil menurut daerah negara lainnya.

Tetangga terdekatnya disebelah selatan adalah pulau karang Diego Garcia sejauh 1270Km. Diego Garcia adalah bagian dari gugus kepulauan British Indian Ocean Teritory (BIOT) milik Inggris namun disewa oleh Amerika Serikat untuk dijadikan sebagai pangkalan Militer. Jarak dari Pulau Malé ke kota Victoria di Seycelles yang berada di sebelah barat daya sejauh 2226Km. Pantai paling barat pulau Malé berjarak 3140 Km dengan pelabuhan Mogadishu, Somalia di pantai timur benua Afrika, Sedangkan ujung selatan Jazirah Arab di Kesultanan Oman berjarak sejauh 2470 km dari barat Laut pulau Malé.

Selain keindahan alam dan hasil laut, Maladewa terbilang miskin sumber daya alam. Pembangkit listrik di negara ini sangat bergantung dari BBM import, sumber air bersih salah satunya di dapat dari hasil penyulingan air laut. Selama berabad abad peradaban disana menggunakan batu karang laut sebagai bahan bangunan termasuk untuk membangun masjid masjid mereka. Pulau pulau mereka yang kecil bahkan tak cukup untuk membangun sebuah bandara berlandasan pacu ukuran panjang. Agar bisa didarati pesawat berbadan lebar, bandara Internasional Malé lebih dari setengahnya berdiri di atas pulau buatan. Baik warganegara biasa, pejabat pemerintah hingga presiden Maladewa harus menyeberangi laut untuk menuju dan dari bandara karena letaknya yang berada di pulau berbeda. Kota baru Hulhumale di sebelah utara pulau bandara, sebuah kota yang diproyeksikan sebagai kota masa depan Maladewa, juga dibangun di atas pulau buatan.

Kota Male, kota terbesar di Maladewa. Pada bagian belakang merupakan pulau bandara & pulau hulhumale yang dibangun menurut diatas pulau protesis output reklamasi.

Ibnu Batutah, Sejarawan Islam dari Maroko pernah singgah ke Maladewa di Abad ke 14, beliau menyebut Maladewa “sebagai salah satu keajaiban dunia, menyebut Maladewa sebagai rangkaian ratusan pulau pulau yang membentuk seperti cincin, masing masing pulau itu berdekatan saat kita meninggalkan pulau yang satu pucuk pucuk pohon kelapa di pulau berikutnya sudah nampak dengan jelas” dalam catatannya Ibnu Batutah juga menyebutkan bahwa pada saat itu Maladewa sudah menjadi sebuah kesultanan Islam di bawah pimpinan seorang muslimah bergelar Sultanah.

Ahli sejarah memang belum sepakat bulat tentang sejarah awal kerajaan kerajaan di Maladewa. Ada yang menyebut bahwa kerajaan kerajaan disana berasal dari para bangsawan Ceylon (Sri Lanka) sementara lainnya menyebut berasal dari Kerala (India). Namun penggalian arkeologi di beberapa pulau disana menemukan reruntuhan candi dan artefak artefak yang membuktikan bahwa kerajaan Budha memang pernah eksis di Maladewa disekitar abad ke 12.

Sejak tahun 1153 hingga tahun 1968 Maladewa berbentuk Kesultanan Islam. Selama jangka waktu 16 December 1887 hingga 25 Juli 1965 Maladewa menjadi daerah protektorat Inggris dibawah kendali gubernur Jendral Inggris di Ceylon (Sri Lanka) atas permintaan Sultan. Inggris memberikan proteksi dan tidak akan menyerang Maladewa namun mengontrol urusan luar negeri Maladewa. Tahun 1957 Inggris membangun pangkalan militer di pulau karang Addu dengan sewa £2000 per tahun tapi kemudian ditutup tahun 1976. Tanggal 26 Juli 1965 Inggris menyerahkan kekuasaan penuh kepada Maladewa dalam sebuah perjanjian yang ditanda tangani di kediaman Komisi Tinggi Inggris di Kolombo. 11 November 1968 kesultanan Maladewa berahir dengan Sultan Terahirnya Muhammad Fareed Didi. Ibrahim Nasir terpilih sebagai presiden pertama Maladewa.

Menara masjid Hukuru Miskiiy di perangko Maladewa

Sejarah Islam pada Maladewa

Maladewa berubah menjadi sebuah kesultanan Islam di tahun 1153 (abad ke 12) oleh seorang ulama Magribi (Afrika Utara) bernama Abul Barakat Yoosuf Al Barbary. Ketika beliau singgah di Maladewa di masa kekuasaan raja Sri Tribuvana Aditiya alias Dhovemi Kalaminja Siri Thiribuvana-aadiththa Maha Radun alias Donei Kalaminjaa alias Dhovemi of The Maldives. Raja Sri Tribuvana Aditiya naik tahta tahun 1138 sebagai raja kedua dari dinasti Theemuge (Lunar Dinasty). Setelah masuk Islam beliau berganti nama menjadi Muhammad Ibnu Abdullah Bergelar Dharumavantha (Dharumas) Rasgefaanu Dia mengirimkan para dai ke berbagai pelosok Maladewa untuk menyebarkan dan mengajarkan Islam.

Sultan Muhammed Ibnu Abdullah adalah orang Maladewa pertama yang masuk Islam di ikuti oleh istri dan anak anaknya lalu kalangan ningrat Istana dan pada ahirnya menjadi agama kerajaan, sejak itu agama Budha ditinggalkan, candi candi dirobohkan dan arca arca Budha dihancurkan dan diganti dengan bangunan Masjid. Masjid Jum’at (Friday Mosque)dan Masjid Dharumavantha Rasgefaanu Miskiy pertama kali dibangun di Malé oleh Sultan Muhammad Ibnu Abdullah.

Tentang pembawa Islam ke Maladewa, sumber cerita tutur di tengah masyarakat menyebutkan bahwa di masa pemerintahan raja Dhovemi datang seorang ulama dari Tabriz (Iran) bernama Yusuf Shamsud-din yang mengalahkan iblis Rannamaari sang penguasa laut penebar bencana. Dan sejak itu raja Dhovemi dan seluruh rakyat Maladewa masuk Islam. Namun para ahli sejarah sepakat bahwa Yusuf Shamsud-din dan Abul Barakat Yoosuf Al Barbary adalah orang yang sama.

Add caption

Konversi seluruh Maladewa ke dalam Islam terjadi di tanggal 2 Rabi'-ul-Akhir 548 H (1153M) bertepatan dengan tahun ke 17 pemerintahan Al-Muqtafi, Khalifah Islam dari dinasti Abbasiah di Baghdad memerintah tahun 1136–1160, dan sejak itu Maladewa menjadi sebuah negara Islam. Abul Barakat Yoosuf Al Barbary tetap tinggal di Maladewa untuk mengajarakan Islam, beliau wafat masih dimasa kekuasaan Sultan Muhammad Ibnu Abdullah dan dimakamkan di Medhuziyaaraiy, Malé. Tak lama setelah wafatnya Abul Barakat Yoosuf, Sultan Muhammad Ibnu Abdullah berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji di tahun 1166 namun tak pernah kembali, tampuk pemerintahan kemudian diteruskan oleh sepupunya yang bernama Sultan Muthey (Al-Sultan Muthey Kalaminja Siri Bavana Abaarana Mahaa Radun).

Sejarah Masjid Hukuru Miskiiy - Maladewa

Masjid Hukuru Miskiiy atau Hukuru Miskit atau Friday Mosque merujuk kepada masjid yang dipakai untuk keperluan sholat lima waktu dan sholat Jum’at di Malé - Maladewa. Pertama kali dibangun atas permintaan dari Siri Kalo dan perintah Sultan Muhammad Ibnu Abdullah di tahun 1153. Siri Kalo adalah saudara dari Sultan Muhammad Ibnu Abdullah. Pembangunan masjid dilaksanakan oleh Al-Wazir Shanivirazaa. Sultan Muhammad Ibnu Abdullah juga membangun masjid Dharumavantha Miskyii yang merupakan masjid untuk sholat Idul Fitri dan Idul Adha.

Masjid ini dibangun diatas pondasi sebuah candi tua yg menghadap ke arah timur loka dimana matahari terbit, bukan menghadap kiblat. Konsekwensinya baris shaf pada masjid ini menyerong tak sejajar menggunakan garis bangunan. Arah Kiblat pada mekah yang tidak segaris menggunakan bangunan membuat jemaah sholat harus menghadap ke sudut ruangan buat mendapatkan arah kiblat yang sempurna.

Add caption

Pengurus masjid sudah memasang sederetan sajadah pada arah yang tepat sehingga sangat membantu jemaah yang bukan warga setempat, untuk menemukan arah kiblat yang benar. Masjid Hukuru Miskiy kemudian dibangun ulang pada tahun 1656 di masa pemerintahan Sultan Ibrahim Iskandhar ke I (memerintah 1648-1687). Menara masjid ini terpisah jauh dari bangunan masjid. Bentuk dan bahan menara ini sama sekali tak menyiratkan umurnya yang sudah begitu tua, padahal menara ini sudah berdiri sejak tahun 1675.

Departemen warisan budaya Maladewa sudah mendaptarkan 16 situs masjid bersejarah di Maladewa untuk di damasukkan ke dalam daftar warisan budaya dunia UNESCO. Salah satunya adalah masjid Hukuru Miskiy ini bersama masjid masjid lainnya yang juga diperindah dengan ukiran batu batu karang. 5 orang dari departemen tersebut bulan Maret 2011 lalu berada di Malaysia selama tiga minggu untuk belajar tentang ‘konservasi bangunan dan situs warisan budaya’ di Malaya University, Malaysia. Upaya tersebut dilakukan untuk mengkonservasi masjid masjid bersejarah di Maladewa serta memperkenalkan masjid masjid yang tak biasa tersebut ke dunia internasional. Sekaligus menggali potensi wisata yang menjadi salah satu urat nadi devisa negeri rangkaian kepulauan di tengah samudera Hindia tersebut.

Masjid Hukuru Miskiy awalnya merupakan sebuah kuil yg dikonversi sebagai masjid. Perhatikan garis sajadah pada pada masjid ini yg terpaksa pada miringkan buat menyesuaikan menggunakan arah kiblat yg tak segaris dengan bangunannya.

Arsitektural Masjid Hukuru Miskiiy ? Maladewa

Sekilas pandang, masjid ini memang tampak sangat sederhana. Dengan bentuknya yang tak lebih berdasarkan sebuah bangunan tempat tinggal dengan atap seng gelombang rona perak. Atap masjid ini terdiri berdasarkan 3 susunan atap, mirip menggunakan struktur atap masjid masjid di Indonesia. Sepertinya bentuk atap seperti ini memang warisan menurut bentuk bentuk kuil dimasa sebelum Islam di Maladewa.

Masjid ini terkenal dengan ukiran ukiran kayunya yang detil dan dipernis  dengan baik, ukiran kaligrafi Alqur’an serta rancangan ornamen ornamenya di bagian dalam dan luar bangunan turut memperindah bangunan masjid ini. Bahan utama pembangunanya menggunakan batu karang, letak geografis kepulauan Maladewa yang berada di tengah samudera Hindia menjadikannya lebih mudah mendapatkan batu karang daipada bahan bangunan lain nya. Batu batu karang tersebut di pahat dengan ukiran ukiran indah kaligrafi Al-Qur’an dan ornamen ornamen indah lainnya. Bermacam jenis kayu juga digunakan dalam pembuatan pintu, kusen jendela serta sisi langit langit masjid tua ini.

Di lebih kurang masjid ini jua terdapat pemakaman muslim berusia tua dengan batu batu nisannya yang sangat khas pada ukuran besar . Batu nisan misalnya pemakaman di lebih kurang masjid ini memang ukuran tidak biasa bagi kita muslim Indonesia. Tinggi masing masing batu nisan itu mencapai dengan tinggi orang dewasa. Makam disekitar masjid ini terdiri berdasarkan makam para sultan, bangsawan, ulama & pahlawan Nasional Maladewa. Beberapa antara lain sudah sangat kuno.

Foto Foto Masjid Hukuru Miskiy

Baru dan lama. Menara Masjid Hukuru Miskiiy yang khas, sementara dibelakangnya adalah menara masjid dan Islamic Center Maladewa, sebuah bangunan moderen yang dibangun kemudian.
Komplek makam tua di sekitar masjid Huskuru Miskiiy.

Referensi

Lonelyplanet.com – hukuru miskiiy old

Maldives.tourism-srilanka.com – hukuru miskiiy

mymaldives.com - maldives-to-submit-sites-for-world-heritage-list

exploguide.com - hukuru-miskiiy-friday-mosque-male

maldivesstory.com.mv - Conversion of the Maldives to Islam

maldivesculture.com – history of maldives

en.wikipedia - List_of_sultans_of_the_Maldives

deplu.go.id - maladewa

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga

Masjid dan Islamic Center Sultan Mohammed Thakurufaanu Al-A zzam - Maladewa

Jejak Indonesia pada Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Jami Ul-Alfar, Kolombo - Sri Lanka

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun sang Tentara Resimen Melayu

Masjid Jami? Cheraman, Masjid Pertama di India

Sunday, September 27, 2020

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda - Kaltim

Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda (fotoratihkusumawanti)

Kota Samarinda ibukota propinsi Kalimantan Timur, salah satu kota kaya minyak bumi dengan kemajuan yang cukup pesat. Di kota ini berdiri megah Stadion Utama Palaran yang hingga kini masih tercatat sebagai stadion sepakbola termewah di tanah air. Kota ini juga memiliki Islamic Center Samarinda yang menjadi salah satu Islamic Center termegah dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Kota Samarinda dibelah oleh sungai Mahakam yang merupakan sungai terbesar di propinsi Kalimantan Timur. Dulunya kota Samarinda hanya terdiri dari 3 kecamatan yang namanya disandarkan pada letak kecamatan kecamatan tersebut terhadap sungai Mahakam, masing masing  adalah Samarinda Ulu,Samarinda Ilir danSamarinda Seberang. Saat ini kedua sisi kota Samarinda dihubungkan dengan dua jembatan yang sudah berfungsi yaitu Jembatan Mahakam (Mahkota I) dan Jembatan Mahakam Ulu, ditambah satu lagi jembatan yang sedang dalam proyek pengerjaan adalah jembatan Mahkota II yang nantinya akan menghubungkan kecamatanSambutan dan Palaran.

Di usia yg telah melampaui 120 tahun, masjid Shirothal Mustaqim

Samarinda masih terlihat kokoh & tampak rapuh bagai usianya

(foto skyscrapercity)

Di Samarinda Seberang ada sebuah kampung yang bernama “Kampung Mesjid”. Kata “Mesjid” pada nama kampung ini memang merujuk pada sebuah masjid yang sudah berdiri ditengah kampung tersebut sejak abad ke 19. Masjid tersebut merupakan masjid tertua di kota Samarinda dibangun pada tahun 1881 dengan nama Masjid Jami’ dan sejak tahun 1960 namanya berganti menjadi Masjid Shirothal Mustaqim.

Lokasi Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda

Masjid Shirotal Mustaqim terletak di Jalan Pangeran Bendahara,Kelurahan Masjid,Kecamatan Samarinda Seberang,Kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapainya dari pusat kota Samarinda, harus menyeberangi sungai Mahakam melalui Jembatan Mahakam.

Lihat Masjid Shirathal Mustaqim - Samarinda di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda

Kota Samarinda dipercayai didirikan oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa setelah Kerajaan Gowa dikalahkan oleh Belanda sekitar abad 16. Sebagian pejuang Bugis yang menentang Belanda memilih untuk berhijrah ke daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai kala itu. Kedatangan mereka ini disambut baik oleh Raja Kutai yang ditunjukkan dengan pemberian lokasi pemukiman di sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan.

Dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh. Orang-orang Bugis Wajo mulai menetap di lokasi tersebut pada bulan Januari 1668. Lama kelamaan kawasan ini berkembang dan dikenal dengan sebutan Samarinda, yang berasal dari kata “sama rendah” yang dimaksudkan untuk menunjukkan persamaan hak dan kedudukan masyarakatnya.

Foto tua menara masjid

shirothal mustaqim

(foto dari wiki)

Sekitar tahun 1880, datang seorang pedagang muslim dariPontianak,Kalimantan Barat bernama Said Abdurachman bin Assegaf ke Kerajaan Kutai untuk berdagang sembari menyiarkan AgamaIslam, ia memilih kawasanSamarinda Seberang sebagai tempat tinggalnya. Hal itu ditanggapi dengan baik oleh Sultan KutaiAji Muhammad Sulaiman. Melihat ketekunan dan ketaatan Said Abdurachman dalam menjalaankan syariat agama Islam, sultan mengizinkan Said Abdurachman tinggal di kawasan Samarinda Seberang dan memberinya gelar sebagai Pengeran Bendahara.

Sebagai tokoh rakyat, Said Abdurachman mengemban tugas & tanggungjawab yang akbar. Berawal dari keprihatianannya terhadap syarat rakyat kala itu yang masih senang berjudi (disiang hari judi sabung ayam, malam hari judi dadu) dan memyembah berhala, beliau tergerak hati buat menciptakan sebuah masjid yg lokasinya pada sentra kegiatan tersebut dengan harapan bisa menghentikan kegiatan maksiat & sesat tadi.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1881M dengan pemancangan 4 tiang utama (soko guru). Ke em[at soko guru tersebut merupakan sumbangan dari tokoh adat kala itu, 1 tiang utama dari Kapitan Jaya didatangkan dari loa Haur (Gunung Lipan), 1 tiang utama dari Pengeran Bendahara didatangkan dari Gunung Dondang, Samboja, 1 tiang utama dari Petta Loloncang di datangkan dari Gunung Salo Tireng (Sungai Tiram) dan 1 tiang utama lainnya dari didatangkan dari Suangai Karang. Pemancangan empat sokoguru ini memiliki cerita sendiri yang melegenda hingga kini ditengah masyarakat Samarinda.

Pembangunan masjid ini memakan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya sampai sepuluh tahun. Pada tanggal 27 Rajab 1311 Hijriyah (1891M), pembangunan masjid akhirnya rampung dan diresmikan oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus di daulat menjadi imam sholat untuk pertama kalinya yang diselenggarakan di Masjid Shirothal Mustaqim. Kawasan tempat masjid ini berada pun kemudian berubah total menjadi kawasan yang relijius bahkan kampung letak masjid ini berada kemudian dikenal dengan nama Kampung Mesjid, sedangkan ruas jalan di depan masjid ini dinamai dengan nama Jalan Pangeran Bendahara yang merupakan gelar dari Said Abdurachman bin Assegaf, sebagai bentuk penghargaan atas jasa jasanya.

Masjid Shirothal Mustaqim dan Menaranya, sama sama menurut kayu Ulin masih

kokoh hingga kini setelah lebih dari seratus tahun (foto dari khanan28) Semaraknya syiar Islam di Masjid Shirothal Mustaqim ini telah menarik perhatian seorang Saudagar kaya Belanda yang bernama Henry Dasen untuk memeluk Islam pada tahun 1901. Setelah ber-Islam beliau turut menyumbangkan hartanya untuk masjid dengan mendanai pembangunan sebuah menara tempat muazin mengumandangkan azan di masjid ini. Menara ini juga masih berdiri kokoh hingga kini.

Masjid ini kini menjadi salah satu tempat wisata religi pavorit di kota Samarinda. Ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Bahkan menurut penuturan pengurus masjid Shirothal Mustaqim, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyempatkan diri singgah ke masjid ini untuk Salat Subuh bersama dengan warga Samarinda Seberang dalam sebuah lawatannya ke Samarinda.

Penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia tahun 2003
Di bulan September 2003, Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda ini meraih anugerah sebagai peserta terbaik ke-dua di Festival Masjid Masjid Bersejarah Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia. Selain itu, Masjid Shirothal Mustaqim termasuk sebagai bangunan cagar budaya di kota Samarinda yang dilindungi UU No 5 tahun 1992.

Renovasi & Perbaikan Masjid Shirothal Mustaqim

Masjid Shirothal Mustaqim pernah menjalani perbaikan perbaikan ringan dan penambahan fasilitas penunjang. Berturut pembangunan masjid dilakukan tahun 1970, 1989 dan terahir tahun 2001 oleh Wali Kota Samarinda Achmad Amins, tanpa merubah bentuk tapi menambah fasilitas prasarana masjid misalkan tempat wudhu, rumah kaum, perpustakaan, sekretariat Irma dan taman masjid.

Teras dan dinding masjid Shirothal Mustaqim, suasana hangat & &

bersahaja (foto dari skyscrapercity) Perubahan Nama Masjid Shirothal Mustaqim

Pada bulan Desember 2011, Ishak Ismail, Humas Masjid Sirathal Mustaqim mengungkapkan kepada publik bahwa output penelusuran yang dilakukan didapatkan bukti bahwa masjid Shirothal Mustaqim pada awalnya berdirinya hingga tahun 1960 bernama Masjid Jami. Nama Shirotal Mustaqim mulai disandang masjid ini dari tahun 1960 sehabis datangnya ulama dari Banjarmasin bernama KH Samuri Arsyad yg aktif mengajar pada masjid ini. Perubahan nama masjid itu diawali beberapa musyawarah yang dilakukan KH Samsuri Arsyad bersama beberapa tokoh warga & imam masjid. Setelah meminta petunjuk pada Allah SWT, akhirnya masjid itu berubah nama sebagai Masjid Shirothal Mustaqim hingga waktu ini.

Legenda Sokoguru Masjid Shiratal Mustaqim

Sebagaimana di ungkapkan oleh Imam Masjid Shiratal Mustaqim, H Zainuddin Abdullah, Masjid Shiratal Mustaqim dibangun dengan cara bergotong royong, namun pada saat itu warga yang bergotong royong menghadapi masalah pada saat akan mendirikan empat tiang utama bangunan masjid. Ukuran tiang yang cukup  besar sepanjang ± 7 meter dari kayu ulin sangat sulit untuk didirikan sampai kemudian warga menyerah untuk mendirikan empat tiang besar tersebut.

Masjid Shirothal Mustaqim dicermati menurut arah Sungai Mahakam

(foto dari kaltimpost) Hingga akhirnya datang seorang nenek dengan menggunakan jubah putih ke hadapan mereka. Siapa dia tak ada yang tahu. Namun ia berpesan kepada Pengeran Bendahara dan sejumlah pengikutnya. Disebutkan, ia akan membantu mendirikan 4 tiang utama tersebut dengan syarat tak ada satu wargapun yang melihat prosesi pendiriannya. Keesokan harinya, sejumlah warga tertegun melihat 4 tiang utama sudah berdiri tegak. Bahkan saat warga mencoba mencari sosok seorang nenek tersebut, mereka tak kunjung menemukannya. Sehingga warga tak ada yang tahu pasti siapa dia.

Arsitektural Masjid Shiratal Mustaqim

Areal Masjid Shiratal Mustaqim seluas dua.028 M2 dengan luas bangunannya 718.32m2 terdiri dari ruang primer 418,18 M2, Ruang serambi depan 125,56 M2, dan Ruang serambi kanan kiri 174,58 M2. Dibangun memakai bahan kayu Ulin, membuatnya begitu kuno. Kayu ulin memang kayu dengan kualitas terbaik selain keras, bertenaga dan anti rayap kayu ini pula sangat tahan terhadap cuaca. Wajar jika bangunan masjid ini masih berdiri kokoh sampai sekarang meski sudah berumur 120 tahun lebih.

Page masjid Shirothal Mustaqim yang kini telah diperindah dengan

taman (foto dari suaraikadi) Masjid Shirothal Mustaqim dibangun dalam arsitektural khas Indonesia, berdenah segi empat, dengan atap limas bersusun di topang empat sokoguru masing masing berdiameter lebih kurang 60cm di tengah ruang masjid. Pembeda utama masjid Shirothal Mustaqim dengan masjid masjid tua Indonesia lainnya adalah susunan atapnya yang terdiri dari 4 susun. Kebanyakan masjid masjid tua di tanah air terdiri dari 3 susun saja.

Di tiap sisi bangunan primer dilengkapi menggunakan serambi & disetiap sisi serambi pada lengkapi menggunakan pagar (railing) yang jua dibuat berdasarkan kayu ulin. Mihrab masjid ini dibentuk tersendiri menggunakan atap yg berbentuk sama menggunakan atap bangunan primer. Menara masjid yg dibangun 20 tahun setelah masjid berdiri memang memiliki sedikit disparitas arsitektural dari bangunan utama masjid, meski dibangun menggunakan bahan kayu yg sama. Keseluruhan Jendela dalam bangunan masjid ini berbentuk segi empat menggunakan 2 daun jendela begitupula menggunakan pintu pintunya, namun pada bangunan menara nir menggunakan bentuk segi empat tapi memakai pola lengkungan pada setiap bukaannya.

Menara Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda (foto dari bybay)
Menara masjid Shirothal Mustaqim setinggi 21 meter dengan empat lantai masing masing lantai dilengkapi dengan balkoni terbuka. Bentuk puncak atap menara ini yang sangat unik dan menarik karena sangat berbeda dengan bentuk puncak puncak menara masjid tua lainnya yang ada di Indonesia, ditambah lagi dengan bahan bangunanannya yang menggunakan kayu besi juga menjadikannya begitu istimewa.

Aktifitas Masjid Shiratal Mustaqiem

Dalam perkembangannya Masjid Shirothal Mustaqim pun dilengkapi menggunakan wahana pendidikan. Pada tahun 1956 didirikan Madrasah Dinul Islamiyah (MDI) kemudian dilanjutkan dengan pembangunan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di tahun 1972 & pembangunan perpustakaan masjid. Kegiatan keagamaan di masjid ini begitu semarak menurut siang sampai malam hari mulai berdasarkan taklim ba?Da maghrib hingga pedagogi baca Al Qur?An.

Hal unik lain yang bisa ditemui di Masjid yang sudah berumur lebih dari 127 tahun ini adalah pembuatan bubur pecak (bubur khas Bugis) yang terbuat dari rempah-rempah dan santan kelapa yang dihidangkan setiap bulan suci sebagai menu untuk berbuka puasa bagi para musafir dan masyarakat sekitar. Sedikitnya 250 porsi bubur disediakan setiap hari selama bulan Ramadhan. Adanya tradisi Bugis di masjid ini tentu saja tak lepas dari peran masyarakat keturunan Bugis yang memang telah menempati kawasan Samarinda Seberang sejak masa kesultanan Kutai sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini.

Foto Foto Masjid Shirothal Mustaqim ? Samarinda

sisi mihrab masjid Shirothal Mustaqim (foto dari wisatakaltimsamarinda)
Masjid Shirothal Mustaqim dari sisi timur (foto dari panoramio)
foto dari sky scrapercity
foto dari skyscrapercity
Referensi

khanan28 – masjid shiratal mustaqim masjid tertua di samarinda

sapos.co.id - Nenek Dirikan 4 Pilar Masjid Sirathal Mutaqiem

sapos.co.id - Sejarah Perubahan Nama Masjid Sirathal Mustaqiem

suaraikadi.blogspot.com - masjid-shirathal-mustaqiem-samarinda

poskotakaltim.com - mesjid-shirathal-mustaqiem-tetap-kokoh-di-usia-tua

cintamasjid - Masjid Sirathal Mustaqiem (1881 M), Samarinda - Kalimantan Timur

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Islamic Center Samarinda

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Masjid Raya Makasar ? Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Masjid Agung An-Nur Riau pada Pekanbaru

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Tertua di Pontianak, Kalimantan Barat

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak atau biasa dianggap

dengan Masjid Jami Pontianak (Foto dari ianimaru.com)

Sejarah kota Pontianak setali tiga uang dengan sejarah Islam di kota tersebut. Sejarah Pontianak dimulai di abad ke 18 ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie beserta para pengikut dan keluarganya membabat hutan untuk kemudian mendirikan pemukiman baru yang kemudian berkembangan menjadi kesultanan Pontianak.

Kesultanan Pontianak adalah tempat bertahtanya Sultan Hamid II, Sultan ke delapan sekaligus Sultan terahir dari kesultanan Pontianak sebelumnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia., beliau adalah penggagas dan perancang lambang Negara kita, Garuda Pancasila. Salah satu dari simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masjid Jami Pontianak berdasarkan arah Sungai Kapuas menggunakan latar depan

perahu motor yang adalah galat satu moda transportasi di

kota Pontianak (Foto dari vivanews.com)

Di komplek keraton tempatnya bertahta berdiri megah hingga kini sebuah masjid Jami Kesultanan Pontianak yang dibangun pertama kali oleh sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Masjid yang sekaligus menjadi awal dimulainya sejarah kota Pontianak yang setiap tahun diperingati sebagai hari lahir kota Pontianak, ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Masjid Jami tua tersebut kini dinamai sesuai dengan namanya sebagai Masjid Sultan Abdurrahman – Pontianak.

Lokasi Masjid Sultan Abdurrahman

Masjid Sultan Abdurrahman berada pada dalam lingkup Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, propinsi Kalimantan Barat. Lokasi masjid tua ini berada di kawasan pemukiman padat penduduk menggunakan pasar Ikan yg begitu dekat ke bangunan masjid yang menghadap ke Sungai Kapuas. Masjid Jami? Bisa di jangkau dengan memakai sampan dari pelabuhan Seng Hie atau dengan tunggangan darat melewati jembatan kapuas.

Koordinat geografi : -0°1'36"N   109°20'51"E

View Masjid Sultan Abdurrahman Kota Pontianak in a larger map

Sejarah Kota Pontianak

Sejarah kota Pontianak dimulai dari 23 Oktober 1771 bertepatan dengan lepas 24 Rajab 1181 Hijriah saat rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil & Sungai Kapuas buat membentuk tempat tinggal & sebuah surau sederhana. Tempat tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang sebagai kota Perdagangan dan Pelabuhan.

Dalam bahasa Melayu, Pontianak berarti hantu kuntilanak. Dalam sejarahnya konon dalam waktu awal pembukaan daerah ini buat dijadikan tempat pemukiman baru oleh rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie acapkali diganggu oleh hantu kuntilanak, itu sebabnya tempat tersebut kemudian terkenal dengan nama Pontianak.

Foto dari pontianakpost

Pada hari senin tanggal 8 Sya’ban 1192H, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pertama. Kesultanannya sendiri kemudian terkenal dengan nama kesultanan Kadriah, dinisbatkan kepada namanya. Tercatat 8 Sultan pernah berkuasa di kesultanan Pontianak sejak dari Sultan pertama Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808 hingga sultan terahir atau sultan ke delapan Syarif Hamid Alkadrie. Sultan terahir ini terkenal juga dengan nama Sultan Hamid II yang sudah disinggung di awal tulisan ini.

Letak sentra pemerintahan kesultanan Kadriah ditandai menggunakan berdirinya bangunan Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadriah, kawasan masjid dan istana ini sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Kota Pontianak propinsi Kalimantan Barat.

Sejarah Masjid Sultan Syarif Abdurrahman ? Pontianak

Sultan Hamid II

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman didirikan sang Sultan Syarif Abdurrahman waktu pertama kali membuka kawasan hutan persimpangan 3 Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas tahun 1771. Tempat yg sekarang dikenal sebagai kota Pontianak. Sultan Syarif Abdurrahman pula membangun Istana tidak jauh berdasarkan masjid ini.

Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan seseorang keturunan Arab, anak Al Habib Husein, penyebar agama Islam dari Semarang (Jawa Tengah). Al Habib Husein datang ke Kerajaan Matan pada 1733 Masehi. Al Habib Husein menikah menggunakan putri Raja Matan (sekarang Kabupaten Ketapang) Sultan Kamaludin, bernama Nyai Tua, & dia diangkat menjadi Mufti Kerajaan. Dari pernikahan itu lahirlah Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Dalam perkembangannya, lalu terjadi perselisihan antara Sultan menggunakan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan buat meninggalkan Kerajaan Matan, pindah ke Kerajaan Mempawah dan bermukim pada kerajaan tadi sampai beliau tewas global. Setelah al-Habib Husein tewas dunia, posisinya digantikan sang anaknya. Syarif Abdurrahman. Akan tetapi, Syarif Abdurrahman kemudian menetapkan pulang berdasarkan Mempawah dengan tujuan untuk berbagi agama Islam.

Syarif Abdurrahman melakukan bepergian berdasarkan Mempawah menggunakan menyusuri sungai Kapuas. Ikut dalam rombongannya sejumlah orang yang menumpang 14 perahu. Rombongan Abdurrahman hingga di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak pada 23 Oktober 1771. Kemudian membuka & menebas hutan pada dekat muara itu untuk dijadikan daerah permukiman baru, termasuk bangunan Masjid dan Istana & membangun Kesultanan Pontianak.

Masjid yg dibangun aslinya beratap rumbia & konstruksinya menurut kayu. Ketika Syarif Abdurrahman mangkat pada 1808 Masehi kekuasaanya diteruskan ad interim ketika oleh adiknya yang bernama Syarif Kasim karena putera Syarif Abdurrahman yg bernama Syarif Usman masih kanak-kanak waktu ayahnya mati global. Setelah Syarif Usman dewasa, beliau menggantikan pamannya menjadi Sultan Pontianak pada tahun 1822 sampai menggunakan 1855 Masehi. Pembangunan masjid kemudian dilanjutkan Syarif Usman, & dinamakan menjadi Masjid Abdurrahman, sebagai penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa ayahnya.

Sejak masjid ini didirikan, selain berfungsi sebagai sentra ibadah, jua digunakan sebagai basis penyebaran Agama Islam pada kawasan tadi. Beberapa ulama populer yg pernah mengajarkan Agama Islam pada masjid ini di antaranya Muhammad al-Kadri, Habib Abdullah Zawawi, Syekh Zawawi, Syekh Madani, H Ismail Jabbar & H Ismail Kelantan.

Arsitektural Masjid Sultan Syarif Abdurrahman – Pontianak

Subuh di Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman (foto dari panoramio)

Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman berdenah segi empat ukuran 33,27 meter x 27,74 meter, dikelilingi sang selasar melingkar berpagar dapat menampung lebih kurang 1.500 jamaah salat sekaligus. Bagian dalam masjid terdiri dari 26 shaf, setiap shaf bisa menampung sekitar 50 jemaah ditambah dengan area selasarnya.

Masjid akan penuh terisi jamaah salat, waktu waktu salat Jumat & tarawih Ramadan. Bangunan masjid berdasarkan kayu bulian ini dibangun seperti layaknya bangunan bangunan rakyat lebih kurang yang berupa tempat tinggal anjung. Tiang kayu masjid ini tadinya eksklusif bersentuhan menggunakan tanah tetapi kini telah pada cor setinggi 50 sentimeter pada atas permukaan dan 50 sentimeter ke dalam tanah buat mencegah pelapukan

Sholat Ied di Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman (antara)

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman hampir keseluruhan bangunan memakai kayu bulian, rona kuning mendominasi dinding kayu masjid ini ad interim plafonnya dicat menggunakan warna hijau. Warna kuning melambangkan keagungan sedangkan rona hijau melambangkan rona kenabian atau ke-Islaman. Atap masjid bertumpuk empat ditutup lembaran lembaran kayu bulian ukuran lebih akbar menurut atap sirap biasa. Antara atap paling bawah & ke 2, terdapat celah yang dipakai buat ventilasi. Jendela tersebut mengelilingi seluruh celah tadi, sehingga ruang pada cukup menerima cahaya pada siang hari.

Di atas atap kedua, terdapat teras yang cukup luas berbentuk segi empat panjang, di setiap sudutnya terdapat gardu. Karena ada empat sudut, maka terdapat juga empat gardu. Menurut sebagian warga setempat, gardu tersebut dulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan. Namun, ada pula yang menginterpretasikannya sebagai simbol dari empat sahabat Nabi Muhammad yang menjadi Khulafa’ al-Rasyidin yakni Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Hattab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib.

Nice view from kapuas river

(panoramio)

Teras pada atas lapisan atap kedua ini mengelilingi sebuah unit bangunan yang pula berdenah segi empat. Di atas unit ini terdapat atap lapis ketiga. Di atas atap lapis ketiga terdapat lagi unit mini misalnya gardu, berfungsi sebagai menara. Atap menara ini bersisi empat menggunakan dudur yg menciptakan penampang huruf S. Sehingga secara holistik menara ini berbentuk misalnya lonceng.

Untuk akses keluar masuk masjid, tersedia tiga pintu utama yang tingginya sekitar 3 meter. Satu pintu posisinya di bagian depan, satu di  sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan. Selain itu, di antara pintu-pintu besar tersebut, masih ada lagi 20 pintu lain dengan ukuran yang sedikit lebih kecil (tinggi lebih kurang 2 meter).

Semua pintu pada masjid ini memiliki dua daun yang membuka keluar. Bahan utamanya dari kayu belian & kaca warna-warni yg berbentuk kotak-kotak akbar. Uniknya, fungsi pintu ternyata jua sebagai jendela. Model pintu masjid ini sama dengan rumah contoh usang. Bentuk & berukuran pintunya sama dengan jendela. Hanya saja di empat pintu bagian depan, sengaja dipasangi papan pagar sehingga bentuknya tampak lebih mini dan misalnya ventilasi zaman kini .

Sholat Ied di Masjid Jami Sultan Abdurrahman (antara)

Di pada masjid berdiri kokoh enam sokoguru menurut kayu bulian (kayu Ulin atau kayu besi) menggunakan diameter yang relatif akbar menopang struktur atap masjid. Enam pilar ini jua melambangkan 6 rukun iman. Selain sokoguru bundar tersebut terdapat lagi pilar pilar berbentuk segi empat menjulang ke langit langit masjid. Pilar segi empat ini jua ukuran diatas rata homogen dibandingkan dengan pilar pilar kayu yg biasa dipakai dirumah rumah penduduk.

Mihrab masjid ini berdenah segi enam melambangkan rukun Islam yang enam. Bentuk mihrab ini mirip dengan mihrab Masjid Tanah Grogot, Kalimantan Timur dan pada pada mihrab masih ada sebuah mimbar warna kuning mengkilap dengan ukiran-tabrakan yang latif berwarna emas. Di atas mimbar ini terdapat inskripsi huruf Arab yg menyatakan bahwa Sultan Syarif Usman membangunnya dalam hari Selasa Bulan Muharram tahun 1237H. Sultan Syarif Usman (1819-1855) atau Sultan ke-3 Pontianak tercatat menjadi sultan yang pertama kali meletakkan pondasi masjid ini kurang lebih tahun 1821 M/1237 H menggantikan bangunan bangunan masjid mini (mushola) yg dibangun ayahandanya Sultan Syarif Abdurrahman.

Rasanya sulit menemukan pemandangan seperti ini ditempat lain

tapi ini adalah jemaah sholat Ied di Masjid Jami Pontianak (antara)

Arsitektur dan bentuk dari masjid ini hampir semuanya masih asli. Pengurus masjid memang sengaja mempertahankan keaslian bangunan yang bernilai sejarah tinggi ini. Mengingat Masjid ini adalah ikon budaya sekaligus saksi perkembangan Kota Pontianak dari waktu ke waktu. Upaya mempertahankan keaslian bangunan juga merupakan titah dari Almarhum Sultan Hamid II.

Sekitar tahun 1960-an, pernah ada upaya untuk mengubah arsitektur dan bentuk asli masjid. Waktu itu, sempat dibangun dua buah menara tambahan di pojok masjid yang tingginya kira-kira 25 meter. Pondasi pun ingin diubah. Ketika itu, Sultan Hamid II (1945-1978) datang dari luar kota dan beliau tidak senang melihatnya. Beliau memerintahkan supaya bangunan baru itu dibongkar dan bentuknya dikembalikan lagi ke semula. Padahal menara itu sudah 90 persen jadi. Sejak saat itulah, upaya-upaya untuk mengubah bentuk atau arsitektur masjid ini tidak lagi pernah dilakukan hingga kini.

Di depan masjid terdapat lapangan yang cukup luas, menyerupai alun-alun di tanah Jawa, beberapa puluh meter pada sebelah selatan menurut masjid, terdapat Istana Sultan Kraton Kadriyah. Aspek rapikan letak masjid-istana & alun-alun ini misalnya ini memperlihatkan adanya imbas berdasarkan tradisi kesultanan pada tanah Jawa.

Foto Foto Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman

Masjid Jami Pontianak dipersimpangan sungai (Foto daridesaasri)

Senja di masjid Jami Sultan Abdurrahman Pontianak (skyscrapercity)

Menyembul diantara rumah rumah penduduk kampung Beting

(skyscrapercity)

Jemaah sholat Ied di Masjid Jami Sultan Abdurrahman(skyscrapercity)

Masjid Jami Pontianak (panoramio)

Masjid Jami Pontianak dipandang dari jembatan Kapuas (panoramio)

Referensi

pontianakpost.com - masjid jami sultan syarif abdurrahman pontianak (1)

pontianakpost.com - masjid jami sultan syarif abdurrahman (bagian 2)

pontianakpost.com - pertahankan keaslian bangunan, junjung titah sultan

pontianakkota.go.id - berdirinya kota pontianak

------------------------------------ooOOOoo------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Lainnya

Masjid Raya Darussalam Samarinda ? Kaltim

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua pada Samarinda ? Kaltim

Masjid Islamic Center Samarinda ? Kaltim

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Raya Makasar ? Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done