Islami Pedia: Masjid Kesultanan
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid Kesultanan. Show all posts
Showing posts with label Masjid Kesultanan. Show all posts

Saturday, October 31, 2020

Masjid Sultan Kasimuddin, Bulungan – Kaltara (Bagian-2)

Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (foto dari muzarkasy)

Sejarah Masjid Sultan Kasimuddin

Sejarah kesultanan Bulungan tidak secara spesifik menjelaskan sejarah pembangunan masjid ini. hanya disinggung sedikit bahwa dimasa pemerintahan Sultan ke-6 Bulungan, Datuk Alam bergelar Khalifatul Alam Muhammad Adil yang berkuasa tahun 1873 – 1875, beliau pernah merenovasi Masjid Jami’ Tanjung Palas. Namun tidak menyebutkan kapan persisnya masjid tersebut dibangun. Namun dengan sendirinya kita dapat menyimpulkan bahwa Masjid Jami Kesultanan Bulungan sudah berdiri sebelum masa pemerintahan beliau yang hanya dua tahun itu.

Dan ditambah lagi dengan kenyataan bahwa masjid yang di renovasi oleh Datuk Alam adalah masjid Jami’ yang berbeda dengan Masjid Sultan Kasimuddin, karena lokasinya berbeda tempat. Situs kemenag (kementrian agama RI) menyebutkan bahwa “Masjid Kasimuddin didirikan pada waktu pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Kasimuddin (1901-1925). Setelah meninggal, beliau dimakamkan di halaman masjid sebelah barat,sedangkan makam di sekitarnya merupakan makam keluarga raja.

Semasa hidupnya Sultan Kasimuddin terkenal sebagai sultan bulungan yang gigih melawan pengaruh Belanda di Bulungan, satu ucapan beliau yang sangat terkenal saat ia menghentikan aturan protokoler Belanda yang mengharuskan Sultan menjemput di dermaga ketika pejabat Belanda hendak berkunjung ke isana raja, “kalau kami sendiri harus menjemput tuan Belanda dari kapal untuk menghadap raja, maka raja mana lagi yang harus dikunjungi, karena saya adalah raja !,“

Ruang utama Masjid Sultan Kasimuddin dengan rangkaian tiang tiang kayu ulin yang langsing namun begitu kokoh meski sudah berusia begitu tua (foto darimuzarkasy)

Menurut H. E. Mohd Hasan, dkk, Mesjid Kasimuddin di Bangun sekitar tahun 1900-an, letaknya tak begitu jauh dari bekas mesjid pertama yang dibangun oleh Sultan Datu Alam Muhammad Adil yang berada di dekat tepi sungai Kayan.  Lokasi masjid yang kini berdiri terpaut sekitar 150 meter ke arah darat dari lokasi mesjid pertama. Pemindahan lokasi masjid ini kemungkinan besar karena lokasi masjid lama sangat dekat dengan sungai, sehingga dikhawatirkan pondasinya bisa rubuh dan membahayakan jemaah.

Kondisi tanah agak becek karena berupa tanah rawa sehingga masyarakat bergotong royong membersihkan dan menimbunnya. uniknya waktu penimbunan tanah pada siang hari untuk kaum laki-laki sedangkan pada malam hari dikerjakan oleh kaum wanita. tidak hanya masyarakat biasa, Sultan Kasimuddin, beserta staf istana dan pegawai mesjid juga turut terlibat penuh dalam pembangunan mesjid bersejarah ini.

Pada awalnya lantai masjid ini hanya dilapisi tikar, kemudian dengan biaya Sultan Kasimuddin sendiri lantai tersebut dipercantik dengan marmer sampai sekarang. marmer dimesjid Kasimuddin ini kemduian diperindah dimasa Sultan Djalaluddin. Sisi dalam masjid ini juga diperindah dengan seni kaligrafi Islam. sebagai bangunan bersejarah Masjid Sultan Kasimuddin sudah beberapa kali mengalami pemugaran yang dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Timur dari tahun anggaran 1992/1993-1993/1994.

Sebagai masjid Kesultanan, mesjid Kasimuddin memiliki kaitan yang kuat dengan istana Bulungan. pada awalnya para imam mesjid dijabat secara turun temurun. Jabatan imam merupakan jabatan penting. Di tahun 1933 Sultan Kasimuddin melantik tiga belas pejabat keagamaan di Istana Bulungan. Dan kemungkinan besar Qadi yang dilantik pada saat itu adalah Hadji Baha'Uddin, ulama asal Minangkabau, sedangkan Mufti kemungkinan besar adalah Hadji Syahabuddin Ambo' Tuwo, ulama asal Wajo yang juga guru mengaji di Istana Bulungan tempo dulu. Dimasa Sultan Kasimuddin berkuasa, jabatan Mufti Negeri, Qadi dan Imam Besar memiliki peran dan pengaruh yang besar untuk melakukan pembinaan terhadap umat.

Sisi Mihrab, ruang mihrab dan mimbar di dalam Masjid Sultan Kasimuddin. sekilas saja tampak bahwa arah kiblat di dalam masjid ini sedikit miring. karenanya kemudian deretan sajadah di dalam nya di tata sedikit miring untuk menyesuaikan dengan arah kiblat. (foto darimuzarkasy)n

Legenda Beduk di masjid Sultan Kasimuddin

Seperti masjid masjid tua di Indonesia pada umumnya, masjid Sultan Kasimuddin ini juga dilengkapi dengan Beduk yang sudah sama tuanya dengan bangunan masjidnya sendiri namun masih berpungsi dan kondisi kayunya pun masih sangat baik. Berdasarkan kisah tutur yang berkembang di masyarakat disebutkan bahwa Konon kayu yang dijadikan beduk ini hanyut dari hulu dan terdampar didalam parit dekat lokasi pembangunan mesjid kasimuddin, potongan kayu tersebut sudah berbentuk beduk (mungkin maksudnya sudah berupa potongan kayu besar dengan rongga ditengahnya).

Potongan kayu yang disebut oleh ketua-ketua kampung sebagai "nenek kayu" tersebut kemudian dijadikan beduk di Masjid Sultan Kasimuddin. Beduk berukuran panjang 274 cm, dan ber garis tengah 47 cm dengan ketebalan kayu sekitar 1 inci atau 2,4 cm ini sampai kini masih terawatt dan berfungsi dengan baik di masjid Kasimuddin.

Mimbar di Masjid Sultan Kasimuddin. Mimbar yang sudah berumur sama tuanya denganbangunan utama masjid ini di ukir dengan sangat indah dengan ukiran khas Bulungan. (foto darimuzarkasy)

Tradisi Masjid Sultan Kasimuddin

Dimasa kesultanan, pada bulan-bulan hijriyah yang penting, ada tradisi berkumpulnya para pemuka agama dan masyarakat serta kerabat kesultanan di istana Bulungan, biasanya diawali dengan tembakan salvo "Meriam Sebenua", khususnya pada awal dan akhir Ramadhan serta malam 1 Syawal. Sehari menjelang Ramadhan, semua pengawai mesjid, berkumpul di istana untuk tahlilan menyambut ramadhan. Selesai acara Sultan biasanya memberikan uang kepada pegawai mesjid atau jawatan keagamaan masing masing kepada Qadi dan juga Mufti 35 gulden, para Imam 25 gulden, khatib 15 gulden dan Santri 10 gulden.

Selama Ramadhan seluruh pegawai mesjid dan staf istana tidak ada yang meninggalkan tempat khusus melaksanakan tugas mereka. sepanjang malam mesjid dan istana raja ramai dengan acara Tadarus Al-Qur'an, Istana juga menyediakan makan bagi mereka yang tadarusan, termasuk sajian buka puasa di masjid dan istana. Khatamul Al-Qur’an dilaksanakan di masjid ini dilanjutkan dengan pembagian zakat fitrah oleh pegawai Masjid. Di masjid ini juga pada masa jayanya Sultan mengeluarkan zakat mall (harta) setiap tanggal 27 Ramadhan.

Arsitektural Masjid Sultan Kasimuddin

Luas lahan Masjid Kasimuddin 3.560,25 m2, dan luas bangunan 585,64 m2. Bangunan masjid terbuat dari kayu dan beton, berbentuk bangunan semi permanen. Dinding bangunan terbuat dari papan kayu ulin. Menurut keterangan masyarakat setempat pondasi dan lantainya terbuat dart campuran semen dan batu yang berlapiskan tegel/ubin bermotif arsitektur Eropa yang diimpor dart Belanda. Ruang utama berbentuk bujur sangkar, berukuran 19 × 19 m, tinggi bangunan sampai puncaknya 15,50 m.

Bangunan ruang utama mempunyai beberapa tiang penyangga yang terdiri dari empat tiang utama/saka guru dengan penampang segi empat, tinggi 11,15 m. Duabelas tiang pembantu dengan penampang segiempat tinggi 8 m mengelilingi tiang utama. Lima puluh buah tiang pembantu deretan ke tiga mengelilingi 12 tiang pembantu, merupakan deretan tiang paling bawah yang sekaligus menjadi pegangan konstruksi papan dinding dan pintu-pintu masjid, dan empat puluh tujuh tiang.

Beduk di Masjid Sultan Kasimuddin. (foto darimuzarkasy)

Masjid Kasimuddin tidak mempunyai jendela, namun memiliki 11 pintu yang terletak disekeliling bangunan. terdiri dari 3 pintu depan, 3 pintu kiri, 3 pintu disebelah kanan, dan 2 dua pintu lagi di bagian belakang dekat mimbar menghadap ke kompleks kuburan Sultan Bulungan dan keluarga. Bangunan mihrab masjid ini mempunyai kekhususan pada ruangan dan atapnya. Ruang mihrabnya berukuran 3,60 × 2,80 m dengan bentuk segi lima. Dinding semi permanen terdiri atas bagian bawah setinggi satu meter terbuat dari pasangan ubin/tegel bermotif dengan warna hijau papan kuning, dinding atas terbuat dari bahan papan kayu ulin.

Di bagian dinding sisi mihrab dipasang kaca berwarna putih bening dan bagian atasnya dipasang kaca berwarna hijau yang mengelilingi ruangan tersebut. Kaca kaca ini berfungsi sebagai penerangan alami ruangan masjid di siang hari. Di ruang mihrab ini terdapat enam tiang berfungsi sebagai penopang atap. Atapnya tidak bersusun tiga, berbentuk segi delapan dan meruncing ke atas dan lebih pendek dari pada atap bangunan induk. Dibagian ujung atapnya diletakkan sebuah mahkota terbuat dari kayu ukir.

Sebagaimana masjid masjid lainnya, di Masjid Sultan Kasimuddin ini juga terdapat sebuah mimbar. Mimbar tua didalam Mesjid Sultan Kasimuddin ini dihias dengan ragam seni ukir khas Bulungan yang begitu indah dengan pola ukir dedaunan sangat menonjol dihampir semua bagian mimbar terutama pada bagian tangga, kepala mimbar, bagian dalam mimbar yang semuanya diukir dengan sangat teliti dan dilapis cat berwarna keemasan. Menurut penuturan masyarakat setempat, mimbar tersebut dibuat dan dihadiahkan oleh seorang kerabat Kesultanan yang sangat ahli dalam seni ukir Bulungan. Selesai.

Kembali ke Bagian-1

Referensi

kompas.com - Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara Disambut Gembira

kompas.com - Indonesia Tambah Satu Provinsi dan Empat Kabupaten Baru

kemenag.go.id - Masjid Kasimuddin

muhzarkasy-bulungan - Selayang Pandang Sejarah Mesjid Sultan Kasimuddin.

Situs resmi kabupaten bulungan  - www.bulungan.go.id

depdagri.go.id - Bulungan

-----------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Kalimantan Lainnya

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, tertua di Pontianak (Kalbar)

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda (Kaltim)

Masjid Kiai Gede Kotawaringin, Tertua di Kalimantan Tengah

Masjid Raya Darussalam Samarinda (Kaltim)

Masjid Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Friday, October 30, 2020

Masjid Sultan Kasimuddin, Bulungan – Kaltara (Bagian-1)

Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara (foto dari muhzarkasy)

Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) secara resmi disyahkan dalam sidang paripurna DRPRI pada hari Kamis tanggal 25 Oktober 2012 yang lalu. Provinsi ke 34 yang baru terbentuk ini terdiri dari  lima kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan. Tanjung Selor yang merupakan ibukota kabupaten Bulungan ditetapkan sebagai ibukota Propinsi. Pengesahan tersebut bersamaan dengan pengesahan pembentukan empat kabupaten baru masing masing adalah  Kabupaten Pangandaran, di Jawa Barat, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak di Papua Barat dan Kabupaten Pesisir Barat di Provinsi Lampung.

Pemekaran Propinsi Kaltara dari propinsi induk, Kalimantan Timur ini diharapkan dapat segera memacu pembangunan di kawasan perbatasan negara dengan Malaysia mengingat Kaltara berbatasan darat dan laut langsung dengan Negara jiran tersebut. Kabupaten Bulungan (dulunya disebut Bulongan) yang menjadi Ibukota Propinsi baru ini, merupakan kelanjutan dari Kesultanan Bulungan yang pernah memiliki sejarah gemilang hingga ke masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Di Kabupaten Bulungan masih dapat ditemui satu satunya peninggalan sejarah yang masih utuh hingga kini yakni Masjid Sultan Kasimuddin yang berada di Tanjung Palas, tak seberapa jauh dari Tanjung Selor.

Lokasi Masjid Sultan Kasimuddin

Masjid Sultan Kasimuddin

Desa Tanjung Palas Tengah, Kecamatan Tanjung Palas

Kabupaten Bulungan, Propinsi Kalimantan Utara

Indonesia

Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan

Berdasarkan legenda yang dituturkan masyarakat setempat secara turun temurun, Bulungan, berasal dari perkataan “Bulu Tengon” (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Legenda menyebutkan bahwa dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan.

Meski tak ada catatan tertulis, namun dapat diketahui bahwa masyarakat Bulungan ketika itu sudah memiliki struktur kepimpinan adat yang bernafaskan Islam. Di tahun 1555 – 1595 seorang kepala adat bernama Datu mencang memimpin masyarakat Bulungan dengan gelar Ksatria Wira. Kemudian beliau digantikan oleh menantunya yang berasal dari Filipina Selatan bernama Singa Laut dan berkuasa di kurun waktu 1595 – 1631. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh Wira Kelana lalu Wira Digedung hingga tahun 1731. Tahun 1731 terbentuklah Kesultanan Bulungan dengan Wira Amir sebagai Sultan Bulungan pertama Bergelar Sultan Amiril Mukminin berkuasa hingga tahun 1777. Kepemimpinan kesultanan berlanjut secara turun temurun.

Kota Tanjung Selor, Ibukota Kabupaten Bulungan sekaligus Ibukota bagi Provinsi Kalimantan Utara yang baru terbentuk. Tanjung Palas tempat Masjid Sultan Kasimudin berada diseberang sungai Kayan. dari Tanjung Selor harus menyeberang menggunakan jasa angkutan sungai menuju Tanjung Palas.

Berikut ini adalah para Sultan, Wali Sultan dan Pemangku Kesultanan yang pernah berkuasa di Kesultanan Bulungan, Kalimantan Utara, mulai dari Sultan Pertama yakni Sultan Amiril Mukminin (1731-1777) hingga ke Sultan terahir, Sultan Djalaluddin (1931-1959).

Sultan ke-1 : Wira Digedung, Sultan Amiril Mukminin 1731 – 1777

Sultan ke-2 : Aji Ali, Sultan Alimuddin 1777-1817

Sultan ke-3 : Aji Muhammad, Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin 1817-1861

Sultan ke-4 : Si Kiding, Sultan Muhammad Djalaluddin 1861-1866

Sultan ke-5 : Aji Muhammad, Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin 1866-1873

Sultan ke-6 : Datuk Alam, Khalifatul Alam Muhammad Adil 1873 – 1875

Sultan ke-7 : Ali Kahar, Sultan Kaharuddin II 1875 – 1889

Sultan ke-8 : Sultan Azimuddin  1889 – 1899

Wali Sultan : Puteri Sibut  (permaisuri Sultan Azimudin) 1899 - 1901

Sultan ke-9 : Datu Belembung, Sultan Maulana Muhammad Kasim Al-Din Atau Sultan Kasimuddin (1901 – 1925)

Pemangku Kesultanan : Datuk Mansyur (1925 – 1930)

Sultan ke-10 : Sultan Muhammad Sulaiman (1930 – 1931)

Sultan ke-11 : Datuk Tiras, Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin (1931 – 1959)

Aji Muhammad atau Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin, dua kali menjabat sebagai Sultan Bulungan. Periode pertama dijabatnya tahun 1817 hingga 1861. Tahun 1861 beliau mundur dan mengangkat Putranya Si Kiding sebagai sultan bergelar Sultan Muhammad Djalaluddin namun justru wafat mendahului beliau di tahun 1866. Itu sebabnya kemudian beliau kembali naik tahta untuk kedua kalinya sebagai Sultan Bulungan ke-5 hingga tahun 1873.

Sultan Kasimuddin

Ketika Sultan Bulungan ke-8, Sultan Azimudin wafat ditahun 1899, putra putra beliau masih belia dan belum layak untuk menjadi Sultan. Maka Permaisuri beliau yang juga puteri dari Sultan Kaharudin II, Puteri Sibut atau Pengian Kesuma yang kemudian bertindak sebagai wali Sultan sampai tahun 1901 dibantu oleh perdana menteri Datu Mansyur. Baru kemudian di tahun 1901 putra Sultan Azimudin yang bernama Datu Belembung di angkat menjadi Sultan Bulungan ke 9 bergelar Sultan Maulana Muhammad Kasim Al-Din Atau lebih dikenal dengan nama Sultan Kasimuddin.

Sultan Kasimuddin (1901-1925) meninggal karena tertembak di tahun 1925. Sementara Putranya Ahmad Sulaiman yang semestinya menjadi pewaris tahta waktu itu sedang mengikuti pendidikan Holands Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan. Maka untuk sementara waktu kekuasaan pemerintahan dikendalikan oleh Datu Mansyur hingga tahun 1930 sebagai pejabat pemangku kesultanan. Sultan Ahmad Sulaiman baru naik tahta saat kembali ke Bulungan setelah menyelesaikan pendidikannya. Namun masa jabatannya sangat singkat, hanya Sembilan bulan karena beliau wafat secara mendadak.

Ketika Sultan Bulungan ke-10, Sultan Muhammad Sulaiman (1930 – 1931) mangkat di tahun 1931 beliau digantikan oleh adiknya yang bernama Datuk Tiras bergelar Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin yang berkuasa sebagai Sultan Hingga tahun 1950. Di masa pemerintahan beliau, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan dan Kesultanan menetapkan meleburkan diri ke dalam NKRI. Di masa pemerintahan beliau juga untuk pertama kali dikibarkan bendera merah putih di halaman Istana Kesultanan Bulungan dalam upacara 17 Agustus 1949.

foto lama yang mengabadikan Para Imam, Qadi dan tokoh tokoh Islam sedang bersama Sultan di Istana Sultan Bulungan. Bangunan istana Sultan Bulungan sendiri ludes terbakar dalam kerusuhan massa di awal awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Tahun 1950 Kedudukan Kesultanan Bulungan Ditetapkan Sebagai Wilayah Swapraja melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor : 186/Orb/92/14/1950 dan disahkan dengan Undang-Undang Darurat RI Nomor 3 Tahun 1953 . Setahun kemudian, Melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor : 186/Orb/92/14/1950 Kedudukan Kesultanan Bulungan Ditetapkan Sebagai Wilayah Swapraja . Keputusan gubernur ini disahkan dengan Undang-Undang Darurat RI Nomor 3 Tahun 1953.

Tahun 1955 wilayah Kesultanan Bulungan ditetapkan menjadi Daerah Istimewa sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1955, Sultan Maulana Djalaluddin diangkat menjadi Kepala Daerah Bulungan Pertama sampai beliau mangkat 21 Desember 1958. Setahun setelah wafatnya Sultan Terahir Bulungan ini, di tahun 1959 melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 Status Daerah Istimewa Diubah Lagi Menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Bulungan, dan Bupati pertamanya adalah Andi Tjatjo Datuk Wiharja (1960 – 1963) yang tak lain adalah adik ipar dari Sultan Maulana Djalaluddin . Sejak itu pula pusat pemerintahan dipindahkan dari Tanjung Palas ke Tanjung Selor hingga sekarang ini.

Bersambung ke bagian-2

Referensi

kompas.com - Pembentukan Provinsi Kalimantan Utara Disambut Gembira

kompas.com - Indonesia Tambah Satu Provinsi dan Empat Kabupaten Baru

kemenag.go.id - Masjid Kasimuddin

muhzarkasy-bulungan - Selayang Pandang Sejarah Mesjid Sultan Kasimuddin.

Situs resmi kabupaten bulungan  - www.bulungan.go.id

depdagri.go.id - Bulungan

-----------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Kalimantan Lainnya

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, tertua di Pontianak (Kalbar)

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda (Kaltim)

Masjid Kiai Gede Kotawaringin, Tertua di Kalimantan Tengah

Masjid Raya Darussalam Samarinda (Kaltim)

Masjid Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Sunday, September 27, 2020

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda - Kaltim

Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda (fotoratihkusumawanti)

Kota Samarinda ibukota propinsi Kalimantan Timur, salah satu kota kaya minyak bumi dengan kemajuan yang cukup pesat. Di kota ini berdiri megah Stadion Utama Palaran yang hingga kini masih tercatat sebagai stadion sepakbola termewah di tanah air. Kota ini juga memiliki Islamic Center Samarinda yang menjadi salah satu Islamic Center termegah dan terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Kota Samarinda dibelah oleh sungai Mahakam yang merupakan sungai terbesar di propinsi Kalimantan Timur. Dulunya kota Samarinda hanya terdiri dari 3 kecamatan yang namanya disandarkan pada letak kecamatan kecamatan tersebut terhadap sungai Mahakam, masing masing  adalah Samarinda Ulu,Samarinda Ilir danSamarinda Seberang. Saat ini kedua sisi kota Samarinda dihubungkan dengan dua jembatan yang sudah berfungsi yaitu Jembatan Mahakam (Mahkota I) dan Jembatan Mahakam Ulu, ditambah satu lagi jembatan yang sedang dalam proyek pengerjaan adalah jembatan Mahkota II yang nantinya akan menghubungkan kecamatanSambutan dan Palaran.

Di usia yg telah melampaui 120 tahun, masjid Shirothal Mustaqim

Samarinda masih terlihat kokoh & tampak rapuh bagai usianya

(foto skyscrapercity)

Di Samarinda Seberang ada sebuah kampung yang bernama “Kampung Mesjid”. Kata “Mesjid” pada nama kampung ini memang merujuk pada sebuah masjid yang sudah berdiri ditengah kampung tersebut sejak abad ke 19. Masjid tersebut merupakan masjid tertua di kota Samarinda dibangun pada tahun 1881 dengan nama Masjid Jami’ dan sejak tahun 1960 namanya berganti menjadi Masjid Shirothal Mustaqim.

Lokasi Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda

Masjid Shirotal Mustaqim terletak di Jalan Pangeran Bendahara,Kelurahan Masjid,Kecamatan Samarinda Seberang,Kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapainya dari pusat kota Samarinda, harus menyeberangi sungai Mahakam melalui Jembatan Mahakam.

Lihat Masjid Shirathal Mustaqim - Samarinda di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda

Kota Samarinda dipercayai didirikan oleh orang Bugis dari Kerajaan Gowa setelah Kerajaan Gowa dikalahkan oleh Belanda sekitar abad 16. Sebagian pejuang Bugis yang menentang Belanda memilih untuk berhijrah ke daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Kutai kala itu. Kedatangan mereka ini disambut baik oleh Raja Kutai yang ditunjukkan dengan pemberian lokasi pemukiman di sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan.

Dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh. Orang-orang Bugis Wajo mulai menetap di lokasi tersebut pada bulan Januari 1668. Lama kelamaan kawasan ini berkembang dan dikenal dengan sebutan Samarinda, yang berasal dari kata “sama rendah” yang dimaksudkan untuk menunjukkan persamaan hak dan kedudukan masyarakatnya.

Foto tua menara masjid

shirothal mustaqim

(foto dari wiki)

Sekitar tahun 1880, datang seorang pedagang muslim dariPontianak,Kalimantan Barat bernama Said Abdurachman bin Assegaf ke Kerajaan Kutai untuk berdagang sembari menyiarkan AgamaIslam, ia memilih kawasanSamarinda Seberang sebagai tempat tinggalnya. Hal itu ditanggapi dengan baik oleh Sultan KutaiAji Muhammad Sulaiman. Melihat ketekunan dan ketaatan Said Abdurachman dalam menjalaankan syariat agama Islam, sultan mengizinkan Said Abdurachman tinggal di kawasan Samarinda Seberang dan memberinya gelar sebagai Pengeran Bendahara.

Sebagai tokoh rakyat, Said Abdurachman mengemban tugas & tanggungjawab yang akbar. Berawal dari keprihatianannya terhadap syarat rakyat kala itu yang masih senang berjudi (disiang hari judi sabung ayam, malam hari judi dadu) dan memyembah berhala, beliau tergerak hati buat menciptakan sebuah masjid yg lokasinya pada sentra kegiatan tersebut dengan harapan bisa menghentikan kegiatan maksiat & sesat tadi.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1881M dengan pemancangan 4 tiang utama (soko guru). Ke em[at soko guru tersebut merupakan sumbangan dari tokoh adat kala itu, 1 tiang utama dari Kapitan Jaya didatangkan dari loa Haur (Gunung Lipan), 1 tiang utama dari Pengeran Bendahara didatangkan dari Gunung Dondang, Samboja, 1 tiang utama dari Petta Loloncang di datangkan dari Gunung Salo Tireng (Sungai Tiram) dan 1 tiang utama lainnya dari didatangkan dari Suangai Karang. Pemancangan empat sokoguru ini memiliki cerita sendiri yang melegenda hingga kini ditengah masyarakat Samarinda.

Pembangunan masjid ini memakan waktu cukup lama untuk menyelesaikannya sampai sepuluh tahun. Pada tanggal 27 Rajab 1311 Hijriyah (1891M), pembangunan masjid akhirnya rampung dan diresmikan oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus di daulat menjadi imam sholat untuk pertama kalinya yang diselenggarakan di Masjid Shirothal Mustaqim. Kawasan tempat masjid ini berada pun kemudian berubah total menjadi kawasan yang relijius bahkan kampung letak masjid ini berada kemudian dikenal dengan nama Kampung Mesjid, sedangkan ruas jalan di depan masjid ini dinamai dengan nama Jalan Pangeran Bendahara yang merupakan gelar dari Said Abdurachman bin Assegaf, sebagai bentuk penghargaan atas jasa jasanya.

Masjid Shirothal Mustaqim dan Menaranya, sama sama menurut kayu Ulin masih

kokoh hingga kini setelah lebih dari seratus tahun (foto dari khanan28) Semaraknya syiar Islam di Masjid Shirothal Mustaqim ini telah menarik perhatian seorang Saudagar kaya Belanda yang bernama Henry Dasen untuk memeluk Islam pada tahun 1901. Setelah ber-Islam beliau turut menyumbangkan hartanya untuk masjid dengan mendanai pembangunan sebuah menara tempat muazin mengumandangkan azan di masjid ini. Menara ini juga masih berdiri kokoh hingga kini.

Masjid ini kini menjadi salah satu tempat wisata religi pavorit di kota Samarinda. Ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan. Bahkan menurut penuturan pengurus masjid Shirothal Mustaqim, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyempatkan diri singgah ke masjid ini untuk Salat Subuh bersama dengan warga Samarinda Seberang dalam sebuah lawatannya ke Samarinda.

Penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia tahun 2003
Di bulan September 2003, Masjid Shirothal Mustaqim Samarinda ini meraih anugerah sebagai peserta terbaik ke-dua di Festival Masjid Masjid Bersejarah Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia. Selain itu, Masjid Shirothal Mustaqim termasuk sebagai bangunan cagar budaya di kota Samarinda yang dilindungi UU No 5 tahun 1992.

Renovasi & Perbaikan Masjid Shirothal Mustaqim

Masjid Shirothal Mustaqim pernah menjalani perbaikan perbaikan ringan dan penambahan fasilitas penunjang. Berturut pembangunan masjid dilakukan tahun 1970, 1989 dan terahir tahun 2001 oleh Wali Kota Samarinda Achmad Amins, tanpa merubah bentuk tapi menambah fasilitas prasarana masjid misalkan tempat wudhu, rumah kaum, perpustakaan, sekretariat Irma dan taman masjid.

Teras dan dinding masjid Shirothal Mustaqim, suasana hangat & &

bersahaja (foto dari skyscrapercity) Perubahan Nama Masjid Shirothal Mustaqim

Pada bulan Desember 2011, Ishak Ismail, Humas Masjid Sirathal Mustaqim mengungkapkan kepada publik bahwa output penelusuran yang dilakukan didapatkan bukti bahwa masjid Shirothal Mustaqim pada awalnya berdirinya hingga tahun 1960 bernama Masjid Jami. Nama Shirotal Mustaqim mulai disandang masjid ini dari tahun 1960 sehabis datangnya ulama dari Banjarmasin bernama KH Samuri Arsyad yg aktif mengajar pada masjid ini. Perubahan nama masjid itu diawali beberapa musyawarah yang dilakukan KH Samsuri Arsyad bersama beberapa tokoh warga & imam masjid. Setelah meminta petunjuk pada Allah SWT, akhirnya masjid itu berubah nama sebagai Masjid Shirothal Mustaqim hingga waktu ini.

Legenda Sokoguru Masjid Shiratal Mustaqim

Sebagaimana di ungkapkan oleh Imam Masjid Shiratal Mustaqim, H Zainuddin Abdullah, Masjid Shiratal Mustaqim dibangun dengan cara bergotong royong, namun pada saat itu warga yang bergotong royong menghadapi masalah pada saat akan mendirikan empat tiang utama bangunan masjid. Ukuran tiang yang cukup  besar sepanjang ± 7 meter dari kayu ulin sangat sulit untuk didirikan sampai kemudian warga menyerah untuk mendirikan empat tiang besar tersebut.

Masjid Shirothal Mustaqim dicermati menurut arah Sungai Mahakam

(foto dari kaltimpost) Hingga akhirnya datang seorang nenek dengan menggunakan jubah putih ke hadapan mereka. Siapa dia tak ada yang tahu. Namun ia berpesan kepada Pengeran Bendahara dan sejumlah pengikutnya. Disebutkan, ia akan membantu mendirikan 4 tiang utama tersebut dengan syarat tak ada satu wargapun yang melihat prosesi pendiriannya. Keesokan harinya, sejumlah warga tertegun melihat 4 tiang utama sudah berdiri tegak. Bahkan saat warga mencoba mencari sosok seorang nenek tersebut, mereka tak kunjung menemukannya. Sehingga warga tak ada yang tahu pasti siapa dia.

Arsitektural Masjid Shiratal Mustaqim

Areal Masjid Shiratal Mustaqim seluas dua.028 M2 dengan luas bangunannya 718.32m2 terdiri dari ruang primer 418,18 M2, Ruang serambi depan 125,56 M2, dan Ruang serambi kanan kiri 174,58 M2. Dibangun memakai bahan kayu Ulin, membuatnya begitu kuno. Kayu ulin memang kayu dengan kualitas terbaik selain keras, bertenaga dan anti rayap kayu ini pula sangat tahan terhadap cuaca. Wajar jika bangunan masjid ini masih berdiri kokoh sampai sekarang meski sudah berumur 120 tahun lebih.

Page masjid Shirothal Mustaqim yang kini telah diperindah dengan

taman (foto dari suaraikadi) Masjid Shirothal Mustaqim dibangun dalam arsitektural khas Indonesia, berdenah segi empat, dengan atap limas bersusun di topang empat sokoguru masing masing berdiameter lebih kurang 60cm di tengah ruang masjid. Pembeda utama masjid Shirothal Mustaqim dengan masjid masjid tua Indonesia lainnya adalah susunan atapnya yang terdiri dari 4 susun. Kebanyakan masjid masjid tua di tanah air terdiri dari 3 susun saja.

Di tiap sisi bangunan primer dilengkapi menggunakan serambi & disetiap sisi serambi pada lengkapi menggunakan pagar (railing) yang jua dibuat berdasarkan kayu ulin. Mihrab masjid ini dibentuk tersendiri menggunakan atap yg berbentuk sama menggunakan atap bangunan primer. Menara masjid yg dibangun 20 tahun setelah masjid berdiri memang memiliki sedikit disparitas arsitektural dari bangunan utama masjid, meski dibangun menggunakan bahan kayu yg sama. Keseluruhan Jendela dalam bangunan masjid ini berbentuk segi empat menggunakan 2 daun jendela begitupula menggunakan pintu pintunya, namun pada bangunan menara nir menggunakan bentuk segi empat tapi memakai pola lengkungan pada setiap bukaannya.

Menara Masjid Shirothal Mustaqim - Samarinda (foto dari bybay)
Menara masjid Shirothal Mustaqim setinggi 21 meter dengan empat lantai masing masing lantai dilengkapi dengan balkoni terbuka. Bentuk puncak atap menara ini yang sangat unik dan menarik karena sangat berbeda dengan bentuk puncak puncak menara masjid tua lainnya yang ada di Indonesia, ditambah lagi dengan bahan bangunanannya yang menggunakan kayu besi juga menjadikannya begitu istimewa.

Aktifitas Masjid Shiratal Mustaqiem

Dalam perkembangannya Masjid Shirothal Mustaqim pun dilengkapi menggunakan wahana pendidikan. Pada tahun 1956 didirikan Madrasah Dinul Islamiyah (MDI) kemudian dilanjutkan dengan pembangunan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di tahun 1972 & pembangunan perpustakaan masjid. Kegiatan keagamaan di masjid ini begitu semarak menurut siang sampai malam hari mulai berdasarkan taklim ba?Da maghrib hingga pedagogi baca Al Qur?An.

Hal unik lain yang bisa ditemui di Masjid yang sudah berumur lebih dari 127 tahun ini adalah pembuatan bubur pecak (bubur khas Bugis) yang terbuat dari rempah-rempah dan santan kelapa yang dihidangkan setiap bulan suci sebagai menu untuk berbuka puasa bagi para musafir dan masyarakat sekitar. Sedikitnya 250 porsi bubur disediakan setiap hari selama bulan Ramadhan. Adanya tradisi Bugis di masjid ini tentu saja tak lepas dari peran masyarakat keturunan Bugis yang memang telah menempati kawasan Samarinda Seberang sejak masa kesultanan Kutai sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini.

Foto Foto Masjid Shirothal Mustaqim ? Samarinda

sisi mihrab masjid Shirothal Mustaqim (foto dari wisatakaltimsamarinda)
Masjid Shirothal Mustaqim dari sisi timur (foto dari panoramio)
foto dari sky scrapercity
foto dari skyscrapercity
Referensi

khanan28 – masjid shiratal mustaqim masjid tertua di samarinda

sapos.co.id - Nenek Dirikan 4 Pilar Masjid Sirathal Mutaqiem

sapos.co.id - Sejarah Perubahan Nama Masjid Sirathal Mustaqiem

suaraikadi.blogspot.com - masjid-shirathal-mustaqiem-samarinda

poskotakaltim.com - mesjid-shirathal-mustaqiem-tetap-kokoh-di-usia-tua

cintamasjid - Masjid Sirathal Mustaqiem (1881 M), Samarinda - Kalimantan Timur

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Islamic Center Samarinda

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat

Masjid Raya Natuna, Kepulauan Riau

Masjid Raya Makasar ? Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Masjid Agung An-Nur Riau pada Pekanbaru

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS)

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Tertua di Pontianak, Kalimantan Barat

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak atau biasa dianggap

dengan Masjid Jami Pontianak (Foto dari ianimaru.com)

Sejarah kota Pontianak setali tiga uang dengan sejarah Islam di kota tersebut. Sejarah Pontianak dimulai di abad ke 18 ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie beserta para pengikut dan keluarganya membabat hutan untuk kemudian mendirikan pemukiman baru yang kemudian berkembangan menjadi kesultanan Pontianak.

Kesultanan Pontianak adalah tempat bertahtanya Sultan Hamid II, Sultan ke delapan sekaligus Sultan terahir dari kesultanan Pontianak sebelumnya meleburkan diri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia., beliau adalah penggagas dan perancang lambang Negara kita, Garuda Pancasila. Salah satu dari simbol Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masjid Jami Pontianak berdasarkan arah Sungai Kapuas menggunakan latar depan

perahu motor yang adalah galat satu moda transportasi di

kota Pontianak (Foto dari vivanews.com)

Di komplek keraton tempatnya bertahta berdiri megah hingga kini sebuah masjid Jami Kesultanan Pontianak yang dibangun pertama kali oleh sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan Pontianak, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Masjid yang sekaligus menjadi awal dimulainya sejarah kota Pontianak yang setiap tahun diperingati sebagai hari lahir kota Pontianak, ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Masjid Jami tua tersebut kini dinamai sesuai dengan namanya sebagai Masjid Sultan Abdurrahman – Pontianak.

Lokasi Masjid Sultan Abdurrahman

Masjid Sultan Abdurrahman berada pada dalam lingkup Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, propinsi Kalimantan Barat. Lokasi masjid tua ini berada di kawasan pemukiman padat penduduk menggunakan pasar Ikan yg begitu dekat ke bangunan masjid yang menghadap ke Sungai Kapuas. Masjid Jami? Bisa di jangkau dengan memakai sampan dari pelabuhan Seng Hie atau dengan tunggangan darat melewati jembatan kapuas.

Koordinat geografi : -0°1'36"N   109°20'51"E

View Masjid Sultan Abdurrahman Kota Pontianak in a larger map

Sejarah Kota Pontianak

Sejarah kota Pontianak dimulai dari 23 Oktober 1771 bertepatan dengan lepas 24 Rajab 1181 Hijriah saat rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan di persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil & Sungai Kapuas buat membentuk tempat tinggal & sebuah surau sederhana. Tempat tersebut diberi nama Pontianak. Berkat kepemimpinan Syarif Abdurrahman Alkadrie, Kota Pontianak berkembang sebagai kota Perdagangan dan Pelabuhan.

Dalam bahasa Melayu, Pontianak berarti hantu kuntilanak. Dalam sejarahnya konon dalam waktu awal pembukaan daerah ini buat dijadikan tempat pemukiman baru oleh rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie acapkali diganggu oleh hantu kuntilanak, itu sebabnya tempat tersebut kemudian terkenal dengan nama Pontianak.

Foto dari pontianakpost

Pada hari senin tanggal 8 Sya’ban 1192H, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pertama. Kesultanannya sendiri kemudian terkenal dengan nama kesultanan Kadriah, dinisbatkan kepada namanya. Tercatat 8 Sultan pernah berkuasa di kesultanan Pontianak sejak dari Sultan pertama Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808 hingga sultan terahir atau sultan ke delapan Syarif Hamid Alkadrie. Sultan terahir ini terkenal juga dengan nama Sultan Hamid II yang sudah disinggung di awal tulisan ini.

Letak sentra pemerintahan kesultanan Kadriah ditandai menggunakan berdirinya bangunan Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadriah, kawasan masjid dan istana ini sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Kota Pontianak propinsi Kalimantan Barat.

Sejarah Masjid Sultan Syarif Abdurrahman ? Pontianak

Sultan Hamid II

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman didirikan sang Sultan Syarif Abdurrahman waktu pertama kali membuka kawasan hutan persimpangan 3 Sungai Landak Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas tahun 1771. Tempat yg sekarang dikenal sebagai kota Pontianak. Sultan Syarif Abdurrahman pula membangun Istana tidak jauh berdasarkan masjid ini.

Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan seseorang keturunan Arab, anak Al Habib Husein, penyebar agama Islam dari Semarang (Jawa Tengah). Al Habib Husein datang ke Kerajaan Matan pada 1733 Masehi. Al Habib Husein menikah menggunakan putri Raja Matan (sekarang Kabupaten Ketapang) Sultan Kamaludin, bernama Nyai Tua, & dia diangkat menjadi Mufti Kerajaan. Dari pernikahan itu lahirlah Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Dalam perkembangannya, lalu terjadi perselisihan antara Sultan menggunakan al-Habib Husein. Akhirnya, al-Habib memutuskan buat meninggalkan Kerajaan Matan, pindah ke Kerajaan Mempawah dan bermukim pada kerajaan tadi sampai beliau tewas global. Setelah al-Habib Husein tewas dunia, posisinya digantikan sang anaknya. Syarif Abdurrahman. Akan tetapi, Syarif Abdurrahman kemudian menetapkan pulang berdasarkan Mempawah dengan tujuan untuk berbagi agama Islam.

Syarif Abdurrahman melakukan bepergian berdasarkan Mempawah menggunakan menyusuri sungai Kapuas. Ikut dalam rombongannya sejumlah orang yang menumpang 14 perahu. Rombongan Abdurrahman hingga di muara persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak pada 23 Oktober 1771. Kemudian membuka & menebas hutan pada dekat muara itu untuk dijadikan daerah permukiman baru, termasuk bangunan Masjid dan Istana & membangun Kesultanan Pontianak.

Masjid yg dibangun aslinya beratap rumbia & konstruksinya menurut kayu. Ketika Syarif Abdurrahman mangkat pada 1808 Masehi kekuasaanya diteruskan ad interim ketika oleh adiknya yang bernama Syarif Kasim karena putera Syarif Abdurrahman yg bernama Syarif Usman masih kanak-kanak waktu ayahnya mati global. Setelah Syarif Usman dewasa, beliau menggantikan pamannya menjadi Sultan Pontianak pada tahun 1822 sampai menggunakan 1855 Masehi. Pembangunan masjid kemudian dilanjutkan Syarif Usman, & dinamakan menjadi Masjid Abdurrahman, sebagai penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa ayahnya.

Sejak masjid ini didirikan, selain berfungsi sebagai sentra ibadah, jua digunakan sebagai basis penyebaran Agama Islam pada kawasan tadi. Beberapa ulama populer yg pernah mengajarkan Agama Islam pada masjid ini di antaranya Muhammad al-Kadri, Habib Abdullah Zawawi, Syekh Zawawi, Syekh Madani, H Ismail Jabbar & H Ismail Kelantan.

Arsitektural Masjid Sultan Syarif Abdurrahman – Pontianak

Subuh di Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman (foto dari panoramio)

Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman berdenah segi empat ukuran 33,27 meter x 27,74 meter, dikelilingi sang selasar melingkar berpagar dapat menampung lebih kurang 1.500 jamaah salat sekaligus. Bagian dalam masjid terdiri dari 26 shaf, setiap shaf bisa menampung sekitar 50 jemaah ditambah dengan area selasarnya.

Masjid akan penuh terisi jamaah salat, waktu waktu salat Jumat & tarawih Ramadan. Bangunan masjid berdasarkan kayu bulian ini dibangun seperti layaknya bangunan bangunan rakyat lebih kurang yang berupa tempat tinggal anjung. Tiang kayu masjid ini tadinya eksklusif bersentuhan menggunakan tanah tetapi kini telah pada cor setinggi 50 sentimeter pada atas permukaan dan 50 sentimeter ke dalam tanah buat mencegah pelapukan

Sholat Ied di Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman (antara)

Masjid Sultan Syarif Abdurrahman hampir keseluruhan bangunan memakai kayu bulian, rona kuning mendominasi dinding kayu masjid ini ad interim plafonnya dicat menggunakan warna hijau. Warna kuning melambangkan keagungan sedangkan rona hijau melambangkan rona kenabian atau ke-Islaman. Atap masjid bertumpuk empat ditutup lembaran lembaran kayu bulian ukuran lebih akbar menurut atap sirap biasa. Antara atap paling bawah & ke 2, terdapat celah yang dipakai buat ventilasi. Jendela tersebut mengelilingi seluruh celah tadi, sehingga ruang pada cukup menerima cahaya pada siang hari.

Di atas atap kedua, terdapat teras yang cukup luas berbentuk segi empat panjang, di setiap sudutnya terdapat gardu. Karena ada empat sudut, maka terdapat juga empat gardu. Menurut sebagian warga setempat, gardu tersebut dulu digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan. Namun, ada pula yang menginterpretasikannya sebagai simbol dari empat sahabat Nabi Muhammad yang menjadi Khulafa’ al-Rasyidin yakni Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Hattab, Usman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib.

Nice view from kapuas river

(panoramio)

Teras pada atas lapisan atap kedua ini mengelilingi sebuah unit bangunan yang pula berdenah segi empat. Di atas unit ini terdapat atap lapis ketiga. Di atas atap lapis ketiga terdapat lagi unit mini misalnya gardu, berfungsi sebagai menara. Atap menara ini bersisi empat menggunakan dudur yg menciptakan penampang huruf S. Sehingga secara holistik menara ini berbentuk misalnya lonceng.

Untuk akses keluar masuk masjid, tersedia tiga pintu utama yang tingginya sekitar 3 meter. Satu pintu posisinya di bagian depan, satu di  sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan. Selain itu, di antara pintu-pintu besar tersebut, masih ada lagi 20 pintu lain dengan ukuran yang sedikit lebih kecil (tinggi lebih kurang 2 meter).

Semua pintu pada masjid ini memiliki dua daun yang membuka keluar. Bahan utamanya dari kayu belian & kaca warna-warni yg berbentuk kotak-kotak akbar. Uniknya, fungsi pintu ternyata jua sebagai jendela. Model pintu masjid ini sama dengan rumah contoh usang. Bentuk & berukuran pintunya sama dengan jendela. Hanya saja di empat pintu bagian depan, sengaja dipasangi papan pagar sehingga bentuknya tampak lebih mini dan misalnya ventilasi zaman kini .

Sholat Ied di Masjid Jami Sultan Abdurrahman (antara)

Di pada masjid berdiri kokoh enam sokoguru menurut kayu bulian (kayu Ulin atau kayu besi) menggunakan diameter yang relatif akbar menopang struktur atap masjid. Enam pilar ini jua melambangkan 6 rukun iman. Selain sokoguru bundar tersebut terdapat lagi pilar pilar berbentuk segi empat menjulang ke langit langit masjid. Pilar segi empat ini jua ukuran diatas rata homogen dibandingkan dengan pilar pilar kayu yg biasa dipakai dirumah rumah penduduk.

Mihrab masjid ini berdenah segi enam melambangkan rukun Islam yang enam. Bentuk mihrab ini mirip dengan mihrab Masjid Tanah Grogot, Kalimantan Timur dan pada pada mihrab masih ada sebuah mimbar warna kuning mengkilap dengan ukiran-tabrakan yang latif berwarna emas. Di atas mimbar ini terdapat inskripsi huruf Arab yg menyatakan bahwa Sultan Syarif Usman membangunnya dalam hari Selasa Bulan Muharram tahun 1237H. Sultan Syarif Usman (1819-1855) atau Sultan ke-3 Pontianak tercatat menjadi sultan yang pertama kali meletakkan pondasi masjid ini kurang lebih tahun 1821 M/1237 H menggantikan bangunan bangunan masjid mini (mushola) yg dibangun ayahandanya Sultan Syarif Abdurrahman.

Rasanya sulit menemukan pemandangan seperti ini ditempat lain

tapi ini adalah jemaah sholat Ied di Masjid Jami Pontianak (antara)

Arsitektur dan bentuk dari masjid ini hampir semuanya masih asli. Pengurus masjid memang sengaja mempertahankan keaslian bangunan yang bernilai sejarah tinggi ini. Mengingat Masjid ini adalah ikon budaya sekaligus saksi perkembangan Kota Pontianak dari waktu ke waktu. Upaya mempertahankan keaslian bangunan juga merupakan titah dari Almarhum Sultan Hamid II.

Sekitar tahun 1960-an, pernah ada upaya untuk mengubah arsitektur dan bentuk asli masjid. Waktu itu, sempat dibangun dua buah menara tambahan di pojok masjid yang tingginya kira-kira 25 meter. Pondasi pun ingin diubah. Ketika itu, Sultan Hamid II (1945-1978) datang dari luar kota dan beliau tidak senang melihatnya. Beliau memerintahkan supaya bangunan baru itu dibongkar dan bentuknya dikembalikan lagi ke semula. Padahal menara itu sudah 90 persen jadi. Sejak saat itulah, upaya-upaya untuk mengubah bentuk atau arsitektur masjid ini tidak lagi pernah dilakukan hingga kini.

Di depan masjid terdapat lapangan yang cukup luas, menyerupai alun-alun di tanah Jawa, beberapa puluh meter pada sebelah selatan menurut masjid, terdapat Istana Sultan Kraton Kadriyah. Aspek rapikan letak masjid-istana & alun-alun ini misalnya ini memperlihatkan adanya imbas berdasarkan tradisi kesultanan pada tanah Jawa.

Foto Foto Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman

Masjid Jami Pontianak dipersimpangan sungai (Foto daridesaasri)

Senja di masjid Jami Sultan Abdurrahman Pontianak (skyscrapercity)

Menyembul diantara rumah rumah penduduk kampung Beting

(skyscrapercity)

Jemaah sholat Ied di Masjid Jami Sultan Abdurrahman(skyscrapercity)

Masjid Jami Pontianak (panoramio)

Masjid Jami Pontianak dipandang dari jembatan Kapuas (panoramio)

Referensi

pontianakpost.com - masjid jami sultan syarif abdurrahman pontianak (1)

pontianakpost.com - masjid jami sultan syarif abdurrahman (bagian 2)

pontianakpost.com - pertahankan keaslian bangunan, junjung titah sultan

pontianakkota.go.id - berdirinya kota pontianak

------------------------------------ooOOOoo------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Lainnya

Masjid Raya Darussalam Samarinda ? Kaltim

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua pada Samarinda ? Kaltim

Masjid Islamic Center Samarinda ? Kaltim

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Al-Alam Kota Kendari

Masjid Raya Makasar ? Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Masjid Raya Darussalam Samarinda – Kaltim

Masjid Raya Darussalam Samarinda, Kalimantan Timur. dilihat dari arah

Sungai Mahakam (foto forumbebas)

Berdiri megah di tepian sungai Mahakam, Masjid Raya Darussalam menghadirkan nuansa Turki Usmani di pusat kota Samarinda ibukota propinsi Kalimantan Timur. Masjid bergaya Turki Usmani (Otoman) dapat dengan mudah dikenali dari bentuk menara nya yang dibuat seramping dan setinggi mungkin. Menara dalam bentuk ini memang memberikan kesan yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan masjid bergaya Arabi seperti pada Masjid Islamic Center Samarinda yang juga berlokasi ditepian sungai Mahakam dan terpaut tak terlalu jauh jaraknya dari masjid ini.

kubah utama Masjid Raya Darussalam

(foto dari panoramio)

Masjid Raya Darrusalam adalah masjid terbesar kedua di Samarinda dan di provinsi Kalimantan Timur setelah Masjid Islamic Center Samarinda. Masjid Raya Darussalam dari kejauhan-pun langsung dapat dikenali dengan empat menara tinggginya yang dibangun di ke-empat penjuru bangunan utama masjid ditambah dengan kubah besar warna hijau di atap tengah masjid dan di apit oleh beberapa kubah berukuran kecil.

Lokasi Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Masjid Raya Darussalam berada di di kelurahan Pasar Pagi, Kecamatan Samarinda Ilir, kota Samarinda, propinsi Kalimantan Timur. Kelurahan Pasar Pagi merupakan salah satu pusat keramaian kota Samarinda.  Pasar pagi yang menjadi nama kelurahan ini benar benar bangunan pasar pagi yang letaknya hanya terpisah satu blok bangunan dari Masjid Raya Samarinda.

Koordinat geografi : -0°30'11"N   117°8'51"E

Lihat Masjid Raya Darussalam Samarinda di peta yang lebih besar

Sejarah Masjid Raya Samarinda

Bangunan awal masjid Raya Darussalam dibangun oleh para saudagar Bugis dan Banjar yang tinggal di Samarinda sekitar tahun 1925. Lokasinya saat itu berada di tepian sungai Mahakam diatas lahan berukuran 25 meter x 25 meter. Sejak dibangun pertama kali telah mengalami beberapa kali perbaikan diantaranya tahun 1953 dan 1967 meski tanpa merubah ciri khasnya. Sejak pertama kali dibangun masjid ini sebagai masjid Jami’ (masjid yang dipakai untuk sholat Jum’at selain sholat lima waktu lainnya).

Seiring dengan kemajuan Kota Samarinda yang semakin pesat dibutuhkan bangunan masjid yang lebih besar dengan lahan yang lebih luas, maka lokasi masjidpun bergeser ke Jalan Yos Sudarso dengan lahan seluas sekitar 15 ribu meter persegi. Bangunan masjid yang kini berdiri adalah hasil pembangunan tahun 1990-an, diresmikan penggunaannya oleh Dr. H. Tarmizi Taher - Menteri Agama RI, pada tanggal 21 Rabi'ul Akhir 1418H bertepatan dengan tanggal 25 Agustus 1997M. Masjid berkonstruksi  beton  ini berlantai tiga dan dapar menampung sekitar 14.000 jemaah. Di  lingkungan masjid ini dilengkapi taman, kolam dan perpustakaan.

Masjid Raya Darussalam Samarinda dari arah Jalan Gajah Mada yang

membentang di depan masjid ini (foto skyscrapercity)

Di bulan September tahun 2010 sempat ada wacana untuk mengubah Masjid Raya Darussalam menjadi Masjid Agung. Wacana tersebut dikemukakan Kanwil Kemenag Kaltim, dasarnya adalah Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 394 tahun 2004 tentang penetapan status masjid wilayah. Di sana disebutkan, di satu propinsi, harus ada masjid yang disebut masjid raya. Sementara tingkat kabupaten/kota bernama masjid agung.

Wacana tersebut langsung mendapat penolakan dari Wali Kota Samarinda Achmad Amins, penolakan dari walikota ini di dukung oleh tokoh masyarakat Samarinda termasuk dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) sebagaimana disampaikan oleh sekretaris DMI Samarinda, HM Yusuf Mugenie. Penolakan tersebut didasarkan pada alasan sejarah dan demi menghormati para pendiri masjid Raya Darussalam, ditambah lagi fakta bahwa nama Masjid Raya sudah melekat di hati masyarakat Samarinda dan Kaltim.

Dua Masjid Megah di tepian sungai Mahakam, di latar depan adalah -

Masjid Raya Darussalam Samarinda sedangkan Masjid di belakangnya

adalah Masjid Islamic Center Samarinda, keduanya tampak begitu indah

di gelap malam kota Samarinda (foto skyscrapercity)

Arsitektural Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Turki Usmani atau dalam lidah orang Eropa yang tak pandai menyebut Usmani berubah menjadi Otoman, mewariskan seni bina bangunan masjid dengan gayanya sendiri ditandai dengan beberapa ciri utama diantaranya adalah bentuk menara seperti yang sudah sedikit disinggung di awal, menara masjid bergaya Usmani ditandai dengan bentuk bundar, ramping, tinggi menjulang dengan puncak menara yang meruncing dan tak pernah absen lambang bulan sabit di ujung tertinggi menara.

Di Masjid Raya Darussalam Samarinda empat menara masjid diletakkan di empat penjuru bangunan utama masjid. Warna putih mendominasi bangunan menara. Sedikit keunikan pada kubah utama Masjid Raya Darussalam ini, kubah utama berukuran besar itu diapit oleh delapan kubah berukuran lebih kecil yang menempel pada kubah utama. Empat kubah lebih kecil juga menghias ke empat penjuru atap masjid ini. Ornamen khas Kalimantan menghias sisi luar masing masing kubah memberi keistimewaan tersendiri bagi masjid ini.

Masjid Raya Darussalam dipandang dari menara utama Masjid Islamic -

Center Samarinda (kompasiana)

Masjid Raya Samarinda dilengkapi dengan Beranda dengan bukaan besar berlengkung, sana seperti beranda keseluruhan jendela masjid ini juga dilengkapi dengan ornamen lengkungan. Masuk ke dalam masjid, akan dijumpai ruang sholat yang lega tanpa tiang tiang penyanggah struktur atap di tengah masjid. Ruang sholat Masjid Raya Samarinda dilengkapi dengan lantai mezanin. Secara keseluruhan Masjid Raya Samarinda mampu menampung jemaah hingga empat belas ribu jemaah sekaligus.

Warna hijau mendominasi warna karpet sejadah di ruang sholat, warna yang senada dengan warna plafon (langit langit) masjid. Seperti kebanyakan masjid masjid lainnya, dinding sisi mihrab masjid Raya Darussalam Samarinda juga dilapis dengan bahan bewarna lebih gelap dibandingkan sisi dinding yang lain. Dan tak ketinggalan juga lampu lampu gantung di pasang dilangit langit masjid turut memperindah masjid ini.

Fasad masjid Raya Darussalam Samarinda (foto dari skyscrapercity)

Aktivitas Masjid Raya Darussalam – Samarinda

Walaupun Masjid Islamic Center Samarinda telah rampung dibangun, tetapi masyarakat samarinda masih tetap menyukai beribadah di Masjid Raya. Karena dari segi letak masih dekat dengan lingkungan pemukiman. Masjid ini pun pernah mengukir sejarah. Pada bulan Ramadhan 2006, Presiden SBY bersama Ibu Ani Yudhoyono pernah singgah ke ke Masjid Raya Darussalam untuk melaksanakan sholat Tarawih berjamaah bersama masyarakat Kaltim dipimpin imam K.H.Ramly.

Di dua hari raya Masjid Raya Darussalam ini dipadari ribuan jamaah dari berbagai penjuru kota Samarinda seperti yang terjadi pada sholat hari raya idulfitri pada Rabu 31 Agustus 2011 lalu. Pada kesempatan tersebut turut hadir Walikota Samarinda Syaharie Jaang dan Wakil Walikota Nusyirwan Ismail serta para ulama dan tokoh masyarakat diantara ribuan jemaah lainnya.

Foto Foto Masjid Raya Darussalam Samarinda

Masjid Raya Darussalam dengan kubahnya yang sudah diperindah dengan

ornamen khas Kalimantan

Interior Masjid Raya Darussalam Samarinda (foto halamanrohmad)
pemandangan malam yang begitu indah di tepian sungai Mahakam

dengan dominasi kubah dan menara masjid Raya Darussalam

(foto dari herryimagery)

Menjelang malam di Masjid Raya Darussalam Samarinda (skyscrapercity)
Presiden SBY di Masjid Raya Darussalam Samarinda (presidensby)

Referensi

berita.liputan6.com - masjid raya darussalam, simbol islam di samarinda

kaltim.tribunnew.com - ribuan jamaah padati masjid raya darussalam

http://fatawisata.com/kalimantan-timur/1174-kota-samarinda

kaltimpost.co.id - jangan ubah masjid raya

presidensby.info - ditata kembali, pipanisasi gas dari bontang ke pulau jawa

----------------------------------ooOOOoo----------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Lainnya

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda – Kaltim

Masjid Islamic Center Samarinda – Kaltim

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Al-Alam Kota Kendari Masjid Raya Makasar – Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Saturday, September 26, 2020

Masjid Kiai Gede Kotawaringin, Tertua di Kalimantan Tengah

Masjid Kiai Gede Kotawaringin, tertua pada propinsi KalimantanTengah

(foto dari flickr)

Masjid Jami Kiai Gede di Kotawaringin merupakan masjid tertua di propinsi Kalimantan Tengah warisan dari kesultanan Kotawaringin. Kesultanan Kotawaringin merupakan kesultanan pertama dan satu satunya yang pernah berdiri di wilayah propinsi Kalimantan Tengah. Nama Kiai Gede yang menjadi nama masjid ini merupakan nama dari nama seorang Ulama dari tanah jawa yang berjasa menyebarkan Islam di Kotawaringin.

Masjid tua dari kayu ulin yang masih berdiri kokoh dan menjalanakan fungsinya dengan baik hingga hari ini. Kesultanan Kotawaringin awalnya merupakan sebuah kepangeranan yang menjadi bagian dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan. Wilayah Kesultanan kotawaringin kini masuk dalam dalam wilayah administrasi Kabupaten Kotawaringin Barat yang berpusat di Kota Pangkalan Bun, Propinsi Kalimantan Tengah.

Masjid Kiai Gede Kotawaringin (foto dari flickr)

Lokasi Masjid Kiai Gede

Masjid Kiai Gede berada di desa Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Sekitar 61km menyusuri sungai Limandau dari kota Pangkalan Bun (ibukota kabupaten Kotawaringin Barat), Kota Pangkalan Bun sendiri berjarak sekitar 449Km dari Palangkaraya ibukota propinsi Kalimantan Tengah. Pada pencitraan satelit tahun 2002 di google earth lokasi masjid ini masih belum terlihat jelas, Selain kualitas foto penginderaan nya yang masih beresolusi rendah ditambah dengan gumpalan awan menutupi lokasi nya.

Masjid Kiai Gede menghadap Sungai yang membelah Kota Waringin Barat karena sarana angkutan air masih menjadi pilihan utama. Kontruksi kayu pilihan dan pondasi panggung memungkinkan bangunan lebih tahan menghadapi perubahan cuaca. Arsitektur yang dipilih bersusun, meski tidak sama persis dengan Masjid Agung Demak, namun memiliki struktur yang sama.

View Masjid Kiai Gede Kotawaringin in a larger map

Sejarah Masjid Kiai Gede

Masjid Jami Kiai Gede di bangun tahun 1632 Miladiyah yg bertepatan menggunakan tahun 1052 Hijriyah. Saat itu Kerajaan Banjarmasin yg membawahi Kasultanan Kotawaringin dengan pemerintahan dipegang Pangeran Adipati Muda (1010-1055 H). Jauh sebelum masuknya kaum imperialis kolonial Belanda, Kotawaringin adalah wilayah kerajaan/kesultanan.

Menurut catatan sejarah kota berdasarkan penanggalan Hijriyah berturut-turut tampil menjadi pemimpin, Pangeran Adipati Antakusuma (893-908 H), Pangeran Mas Adipati (908-939 H), Pangeran Penembahan Anom (939-954 H), Pangeran Prabu (954-1010 H), Pangeran Adipati Muda (1010-1055 H), Pangeran Penghulu (1055-1095 H), Pangeran Ratu Begawan (1095-1162 H), Pangeran Ratu Anom Kusuma Yuda (1162-1225 H).

Masjid Kiai Gede (foto dari panoramio)

Pangeran Ratu Imanuddin (1225-1275) atau lebih kurang tahun 1814 Miladiyah sentra pemerintahan yang semula di Kotawaringin dipindahkan ke Pangkalan Bun. Di sentra pemerintahan yg baru ini Pangeran Ratu Imanuddin membangun istana yg megah & bernama Istana Indra Kencana.

Pangeran Ahmad Hermansyah (1275-1281 H), Pangeran Anom Kesuma Udha (1281-1323 H), Pangeran Ratu Sukma Negara (1323-1333 H). Pangeran Ratu Sukma Alamsyah memerintah sesudah mengalami masa kekosongan pada tahun 1914-1939 Miladiyah. Setelah mati beliau digantikan Pangeran Ratu Anom Alamsyah yg memerintah tahun 1939-1947 Miladiyah.

Masjid Kiai Gede (foto dari gustimele)

Ketika Kerajaan Majapahit memerintah pada Tanah Jawa, daerah ini sebagai bagian wilayah kekuasaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh dan digantikan Kasultanan Demak Bintoro bergantilah penguasa, demikian halnya menggunakan Kerajaan Banjarmasin pernah menguasai wilayah ini.

Kiai Gede Dan Demak Bintoro

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Kiai Gede adalah seorang ulama dari Kesultanan Demak, beliau pernah berguru kepada Sunan Giri di Gresik, beliau dan para pengikutnya yang setia berangkat ke pulau Kalimantan sekitar tahun 1591 M. Ketika itu Kasultanan Banjarmasin dibawah perintahan Sultan Mustainubillah raja keempat yang memerintah tahun 1650-1678 Miladiyah.

Masjid Kiai Gede (foto dari detik.travel)

Namun demikian, sejarah yang menyebutkan bahwa Kiai Gede merupakan utusan dari Kesultanan Demak tampaknya perlu di klarifikasi ulang mengingat tahun keberangkatan Kiai Gede ke Pulau Kalimantan di tahun 1591M terjadi 23 tahun setelah berahirnya Kesultanan Demak. Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Demak dimulai dengan dilantiknya Raden Fatah sebagai Sultan Demak pertama pada tanggal 12 Robiul awal tahun Caka 1425 (28 Maret 1503 M) setiap tanggal tersebut selalu diperingati sebagai hari jadi kota Demak.

Raden Fatah memerintah di Demak dari tahun 1478 M – 1518M, dilanjutkan oleh Sultan kedua Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor (1518M – 1521M). Lalu dilanjutkan oleh Sultan Trenggono (1521M – 1546M) sekaligus menjadi sultan terakhir di Kesultanan Demak. Setelah itu terjadi perebutan kekuasaan antar anggota keluarga antara Aryo Penangsang dan Jaka Tingkir yang dimenangkan oleh Jaka Tingkir. Tahun 1568 Jaka Tingkir mendirikan Kerajaan Pajang menandai berahirnya sejarah Kesultanan Demak.

Masjid Kiai Gede dengan atapnya yg bersusun tiga mirip menggunakan

Masjid Agung Demak, struktur atap seperti ini sekarang telah menjadi

ciri khas masjid masjid khas Indonesia (foto dari panoramio)

Kesultanan Banjar (selaku kesultanan Induk dari kesultanan kotawaringin) memang pernah menjadi kesultanan bawahan dari Kesultanan Demak pada masa pemerintahan Pati Unus (1518M ? 1521M) sebelum penaklukan Malaka, Kesultanan Banjar sebagai kesultanan pembayar Upeti pada Kesultanan Demak. Tetapi berdirinya kesultanan kotawaringin berikut Masjid Kiai Gede jauh sehabis berahirnya era kesultanan Demak, tetapi memang sulit untuk menyimpulkan ditambah lagi dengan sejarah masjid ini yg senantiasa dihubung hubungkan menggunakan Kesultanan Demak bahkan beduk di masjid ini pun disebut menjadi bantuan gratis berdasarkan kesultanan Demak.

Kiai Gede dan Masjid Kesultanan Kotawaringin

Kiai Gede tiba di Kesultanan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV, Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah (1595-1642). Namun lagi lagi terdapat selisih antara tahun keberangkatan Kiai Gede di tahun 1591M dengan masa kekuasaan Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah 1595-1642. Namun semua sumber menyebutkan bahwa kedatangan Kiai Gede di Kesultanan Banjar di Masa Kekuasaan Sultan Mustain Billah.

Salah satu sisi masjid Kiai Gede (foto dari panoramio)

Sulit buat menyimpulkan atau menganggap duga, apakah memang butuh ketika 4 tahun untuk menempuh perjalanan laut menurut Demak ke Banjarmasin, atau memang dia dan rombongan tidak eksklusif menuju Banjarmasin tapi singgah & menetap dulu ke beberapa tempat yang lain atau mungkin terdapat hal lain yang dapat menyebutkan selisih nomor tahun tersebut.

Disebutkan bahwa kedatangan Beliau diterima dengan baik pada Kesultanan Banjar. Sultan Banjar menugaskan Kiai Gede buat membuatkan ajaran Islam di Kotawaringin, sekaligus merintis pendirian sebuah kasultanan baru. Kelak Kiai Gede yang berjasa mengembangkan ajaran Islam mendapat kedudukan menjadi Adipati pada Kotawaringin dengan pangkat Patih Hamengkubumi yang bergelar Adipati Gede Ing Kotawaringin.

Masjid Kiai Gede sekarang sudah menjadi bangunan cagar budaya

yang dilindungi dibawah UU No. 5 Tahun 1992

Bersama para pengikutnya Kiai Gede membentuk Kotawaringin berdasarkan belantara sebagai sebuah tempat pemukiman, berawal berdasarkan 40 orang yang dikirim dari Kasultanan Banjarmasin terus berkembang & hingga kini menjadi galat satu wilayah hunian yg maju. Setelah pembangunan relatif untuk sebuah kawasan pemukiman tahun 1680 Miladiyah saat pemerintahan dipegang Pangeran Adipati Antakusuma, Kiai Gede dikukuhkan menjadi adipati yang berkedudukan di Kotawaringin. Sejak waktu itu perkembangan warga muslim terus maju hingga sekarang menjadi keliru satu wilayah pemukiman yang terus berkembang.

Arsitektur spesial

Masjid Jami Kiai Gede terbuat dari bahan kayu pilihan, kayu ulin yg memungkinkan bertahan buat jangka saat usang. Pondasi bangunan dirancang memakai bahan yang tahan cuaca, untuk menghindari lapuk dimakan usia tiang-tiangnya tidak ditanam melainkan diletakkan pada atas mangkuk terbuat berdasarkan kayu ulin, spesial Kalimantan.

Masjid Kiai Gede (foto dari YAMP)

Bangunan masjid dilingkupi pagar kayu dengan tinggi ? 1,25 cm, berdiri dalam page seluas 900 m2. Denahnya berbentuk bujur sangkar ukuran 15,5 ? 15,lima m, dengan tipe joglo. Masjid ini merupakan tempat tinggal anjung/rongga di bawah rumah dengan ketinggian ? 1,lima m dari permukaan tanah. Lantai dan dinding terbuat dari kayu ulin. Untuk masuk ke pada ruangan digunakan tangga yang terbuat menurut kayu pada samping bangunan. Di pada bangunan masih ada 36 buah tiang yg terdiri menurut tiga jenis yaitu:

1.Tiang 20 ini menjadi penguat dinding/penyangga. Tiang primer (soko guru) berjumlah empat butir terdapat di tengah ruangan. Bentuk-nya segi delapan & pada keempat sisinya penuh dengan ukiran ber-matif sulur-sulur & spiral.Tiang berdiri di atas umpak yg ber-bentuk kelopak bunga teratai.

Masjid Kiai Gede pada Kotawaringin Lama dengan pagar kelilingnya

yang juga terbuat dari kayu (foto dari timeinholiday)

dua.Tiang menggunakan bentuk silinder (bundar ) berjumlah 12 buah berukuran-nya lebih kecil dari tiang soko pengajar, nir berukir. Pada bagian tengah bulatannya lebih kecil dari bagian bawah dan atas, juga. Berdiri di atas umpak lebih sederhana menurut umpak sokoguru. Letaknya mengelilingi tiang sokoguru.

Tiga.Tiang yg berjumlah 20 buah merupakan formasi ke dua mengelilingi sokoguru. Bentuk bundar & lebih mini menurut tiang 12, letaknya menempel dalam dinding pada masdjid. Fungsi tiang 20 ini sebagai penguat dinding/penyangga.

Selain tiang dalam bangunan utama masih ada mihrab & mimbar. Sebagai pelengkap masjid dalam ruangan pula terdapat bedug yg adalah hibah dari kerajaan Demak. Ukuran panjang 161 cm menggunakan garis tengah 58 cm dan digantung menggunakan rantai akbar. Bagian bawahnya terdapat tulisan Jawa Kuno menggunakan tahun Saka. Pada bagian belakang terdapat bangunan tambahan berukuran 5 ? 12 m, tepat pada tengah-tengah bangunan induk. Fungsi bangunan mi menjadi loka jamaah yang terlambat datang. Sebenarnya bangunan ini untuk jamaah wanita.

Masjid Kiai Gede Kotawaringin lengkap dengan 3 papan namanya

foto dari hees-di-leuweung

Dinding terbuat dan kayu dengan lubang angin di bagian atasnya. Bangunan memiliki atap misalnya atap zenit bangunan induk. Di muka masjid terdapat bangunan kecil buat loka wudhu. Pelengkap masjid lain merupakan jam penunjuk saat shalat yg terbuat dari kayu dan berupa tugu. Atap bangunan merupakan atap tumpang tiga menurut bahan sirap. Di antara strata atap terdapat dinding berdasarkan kayu. Pada atap ke tiga bentuk misalnya kerucut & di puncaknya masih ada hiasan bunga 3 tangkai. Di bagian bawah atap, bagian ujungnya ada hiasan sulur. Antara atap ke dua & ke tiga dalam ujung bawah dinding atap tingkat 2 terdapat tiang sebagai penyangga atap teratas dilengkapi indera pengeras suara buat mengumandangkan adzan.

Perbaikan Masjid Kiai Gede

Masjid Kiai Gede sudah mengalami tiga kali pemugaran yaitu tahun 1951 dilakukan penambahan bagian teras, atap sirap dengan dana swadaya berdasarkan rakyat setempat dan dibantu oleh para jamaah masjid. Perbaikan kedua pada bagian mimbar tahun 1968. Tahun aturan 1980/1981-1985/1986 dilaksanakan pemugaran sang Bidang Permuseuman Sejarah & Keprubakalaan Kantor Wilayah Depdikbud Provinsi Kalimantan Tengah melalui Proyek Pemugaran & Pemeliharaan peninggalan Sejarah & Purbakala Kalimantan Tengah.

Referensi

yamp.or.id - Masjid Kiai Gede menjadi monumen hidup bagi masyarakat muslim.

aci.detik.travel - Kesultanan Islam Pertama di Kalimantan Tengah

kangluk.wordpress.com – awal sejarah demak bintoro

id.wikipedia – kesultanan demak

fatawisata.com – masjid kiai gede

------------------------------------ooOOOoo------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Lainnya

Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, tertua pada Pontianak ? Kalimantan Barat

Masjid Raya Darussalam Samarinda ? Kaltim

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua pada Samarinda ? Kaltim

Masjid Islamic Center Samarinda ? Kaltim

Masjid Sultan Suriyansyah, Banjarmasih (Kalsel)

Masjid Djami Keraton Landak (Kalbar)

Masjid Agung Al-Karomah, Martapura (Kalsel)

Masjid Agung Demak

Masjid Raya Makasar ? Sulawesi Selatan

Masjid Raya Al-Munawaroh, Ternate - Maluku Utara

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done