Islami Pedia: Masjid Brunei Darussalam
News Update
Loading...
Showing posts with label Masjid Brunei Darussalam. Show all posts
Showing posts with label Masjid Brunei Darussalam. Show all posts

Thursday, November 5, 2020

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam

Dalam catatan sejarah Brunei, bangunan masjid memang sudah sejak lama menjadi pemandangan utama di negeri itu. berdasarkan catatan seorang pengelana Spayol bernama Alonso Beltran menyebutkan bahwa, di tahun 1578 ketika dia singgah ke Brunei semasa kekuasaan Sultan Syaiful Rizal dia melihat sebuah bangunan masjid utama yang disebutnya bersusun lima. Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang kini berdiri megah di pusat kota Bandar Seri Begawan merupakan masjid modern pertama yang dibangun Brunei.

Di Abad ke 13 Brunei sempat memiliki wilayah yang membentang diseluruh pulau Kalimantan, saampai ke jajaran kepulauan Sulu dan pulau pulau lainnya di Filippina Selatan. Negara ini sempat mengalami beberapa kali kejatuhan termasuk menjadi wilayah seberang lautan Majapahit di abad ke 14 dan harus menyerahkan upeti tahunan berupa 40 kati kapur barus ke Majapahit. Catatan terahir pengelana China tahun 1371 menyebutkan bahwa Brunei seluruhnya menjadi wilayah Majapahit.

wilayah Brunei saat ini.

Islam mengakar di Brunei di abad ke 16. Dan untuk kedua kalinya Brunei menguasai kembali wilayahnya di seluruh pulau Kalimantan hingga ke Filippina selatan. Namun lagi lagi intervensi asing termasuk serbuan Spanyol dan Inggris ahirnya menciutkan wilayah Brunei hingga tersisa dia wilayah Brunei saat ini yang terpisah oleh daratan Sarawak (Malaysia).

Merunut Masjid Pertama di Brunei Darussalam

Masuknya kekuatan spanyol ke Brunei tak lepas dari pertikaian internal di kalangan Istana. Perebutan tahta kesultanan membuat salah satu anggota kerajaan mengungang Spanyol menyerbu ke negara itu. Spanyol berhasil menaklukkan sultan Syaiful Rijal atas permintaan saudaranya sendiri Pengiran Seri Lela dan Pengiran Seri Ratna. Dalam masa itulah pengelana Spanyol, Alonso Beltran, di tahun 1578 mendiskripsikan bahwa dia melihat masjid besar bersusun lima di pusat kota Brunei. Spanyol Ahirnya terusir dari Brunei namun meninggalkan kerusakan parah bagi negeri itu, masjid besar milik kesultanan habis dibakar oleh pasukan Spanyol.

Masjid Marbut Pak Tunggal atau Masjid Pekan Brunei, merupakan masjid utama yang berdiri di pusat Pekan Brunei (nama lama kota Bandar Seri Begawan). Masjid ini hancur semasa perang dunia kedua.

Sebelum pecahnya perang dunia kedua, sudah dibangun beberapa masjid di daerah daerah pedalam Brunei, dan hanya ada satu masjid yang berdiri di ibukota (kala itu masih disebut sebagai Pekan Brunei – Kini Bandar Seri Begawan). Masjid tersebut bernama Masjid Marbut Pak Tunggal (juga dikenal sebagai Masjid Pekan Brunei) yang dibangun semasa kekuasaan Sultan Mohammad Jamalul Alam II, Sultan Brunei ke 26.

Lokasi Masjid Marbut Pak Tunggal berdiri memang di sisi sungai Brunei, kira kira berada di lokasi masjid Sultan Omar Ali Saifuddin saat ini. kala itu masjid tersebut dibuat dari bahan kayu dengan atap asbes dilengkapi dengan menara kecil di atapnya. Bangunan utamanya dibangun dalam bentuk rumah panggung beberapa senti lebih tinggi dari permukaan tanah menggunakan tiang beton.

Foto udara sekitar areal masjid Marbut Pak Tunggal (dalam lingkaran kuning) diabadikan oleh tentara pendudukan Dai Nipon (Jepang) di Brunei semasa perang dunia kedua. selama pendudukan Jepang di Brunei Masjid ini hancur tak bersisa.

Keberadaan Masjid Marbut Pak Tunggal itu tidak saja didasarkan dari kisah tutur dari para tetua tapi memang sempat terekam dalam foto udara di kawasan tersebut yang diambil semasa perang dunia kedua. Sayangnya bangunan masjid kayu tersebut hancur tak bersisa semasa pendudukan tentara Jepang di Brunei.

Segera setelah berahirnya perang dunia ke dua, sebuah masjid sementara, dibangun dengan kapasitas sekitar 500 jemaah di lokasi sekitar tempat berdirinya TAIB Building dimasa kini. Bangunanya sama sekali tak berbentuk masjid, baik masjid universal dengan kubah dan menara dan juga tak berbentuk masjid Nusantara (Masjid Tradisonal Jawa) dengan atap limas bersusun seperti masjid yang dilihat oleh Alonso Beltran di tahun 1578.

Masjid Kajang di Pekan Brunei ::: Masjid Kajang, berupa bangunan sederhana beratap dan berdinding anyaman daun nipah atau daun kajang.  Dibangun sebagai masjid darurat segera setelah berahirnya perang dunia kedua. disebut masjid Kajang merujuk pada atap daun kajang yang dipakai untuk menutup atap masjid ini.

Tapi hanya sekedar bangunan sementara dengan ruangan luas untuk tempat sholat berjamaah. Dindingnya menggunakan papan sebagian lagi menggunakan anyaman bamboo dan daun nipah, atapnya juga menggunakan daun nipah atau daun Kajang. Mungkin lebih tepat bila disebut sebagai gubuk berukuran besar. Sejak dibangun masjid darurat itu tak pernah diberi nama, hanya karena atapnya yang menggunakan daun kajang / Nipah maka dikenal masyarakat dengan sebutan sebagai Masjid Kajang,

Ukuran masjid Kajang memang terlalu kecil bagi jemaah muslim Pekan Brunei, pada pelaksanaan sholat sebagian besar jemaah mengambil tempat di “padang” atau area terbuka luar bangunan, termasuk baginda Sultan Haji Omar Ali Saifuddien bersama para petinggi kerajaan Brunei. Padang di sekitar masjid Kajang tersebut kini menjadi Taman Haji Omar Haji Omar Ali Saifuddien di komplek Masjid Sultan Omar Haji Omar Ali Saifuddien.

Sultan Omar Ali Saifuddin bersama para petinggi kesultanan juga melaksanakan sholat di 'padang' lapangan di sekitar Masjid Kajang.  Beliau lah yang kemudian membangun masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang kini berdiri megah di pusat kota Bandar Seri Begawan sebagai Masjid Nasional bagi Negara Brunei Darussalam.
Masjid Nasional Brunei Darussalam ::: memang tak setara dan tak sebanding untuk membandingkan masjid nasional Brunei yang kini berdiri megah di pusat kota Bandar Seri Begawan dengan dua masjid sebelumnya yang menjadi cikal bakal masjid nasional Brunei, masing masing adalah : masjid Marbut Pak Tunggal (foto paling kiri) dan Masjid Kajang (foto tengah).

Kehidupan beragama di Brunei memang begitu kental. seperti dalam rekaman foto lama ini ketika Masjid Kajang menjadi satu satunya masjid yang berdiri di Pekan Brunei (nama lama kota Bandar Seri Begawan), masyarakat bersama Sultan rela Sholat di lapangan terbuka. sedangkan foto kiri adalah suasana pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Qur'an tingkat Nasional yangjuga diselenggarakan di dalam masjid Kajang.

Bersambung ke Bagian 3

Referensi

bruneiresources.com – sultan omar ali saifuddien mosque

islamicfinder.org - Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin

en.wikipedia.org  - Sultan_Omar_Ali_Saifuddin_Mosque

Artikel Terkait

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 3)

Baca Juga artikel Masjid Asean Lain nya

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 2)

Masjid Negara, Kuala Lumpur – Malaysia

Masjid Putra, Putrajaya – Malaysia

Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putrajaya – Malaysia

Masjid Sultan Singapura – Singapore

Masjid Al-Dahab Manila – Philippina

Wednesday, November 4, 2020

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 3)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan. Masjid Nasional Negara Brunei darussalam.

Pembangunan Masjid Sultan Haji Omar Ali Saifuddien

Di tahun 1949 atau empat tahun paska usainya perang dunia kedua, dibentuk sebuah Komunite bagi kemungkinan untuk membangun sebuah masjid nasional bagi Brunei Darussalam. Komite tersebut diketuai oleh YTM Seri Paduka Pengiran Bendahara Pengiran Anak Haji Muhammad Yasin. Di tahun 1952 beliau mengusulkan agar pembangunan masjid nasional Brunei dilaksanakan di “padang” disekitar Masjid Kajang. Namun Sultan Haji Omar Ali Saifuddien lebih memilih untuk membangun masjid Nasional Brunei didirikan lokasinya sekarang, di tepian sungai Brunei yang merupakan kawasan pusat keramaian Pekan Brunei kala itu.

Merujuk kepada penjelasan dari Pangeran Adnan, Arsitek senior di Departemen Pekerjaan Umum, beliau menjelaskan bahwa arsitek yang menanganani rancangan masjid Sultan Omar Ali Saifuddien adalah arsitek Italia bernama Cavalieri R. Nolli. Rancangan yang dilakukan oleh Cavalieri di dasarkan kepada rancangan awal yang dibuat sendiri oleh Sultan Omar Ali Saifuddin dibantu oleh Awang Besar Sagap, Seorang Juru Gambar dari Departemen Pekerjaan Umum.

1954 ::: foto lama tahun 1954 saat pembangunan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien mulai dilaksanakan.

Rancangan detil pembangunan masjidnya ditangani oleh Firma arsitek Booty and Edwards Chartered Architects, sedangkan pelaksanaan pembangunanya dilaksanakan oleh Sino-Malayan Engineer. Keseluruhan proyek pembangunan masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ini diperkirakan menelan biaya sebesar 7,7 juta dolar hingga 9,2 juta dolar

Rancangan masjid ini sangat dipengaruhi oleh gaya arsitektural dinasti Mughal yang berkuasa selama lebih kurang 350 tahun sejak abad ke 16 di seluruh wilayah India, Pakistan, Bangladesh dan sekitar nya. Dinasti Islam Mughal memang sangat terkenal dengan warisan seni arsitektural yang menawan tersebar diseluruh bekas wilayah kekuasannya, termasuk salah satu bangunan 7 keajaiban dunia, Taj Mahal di kota Acra, India. Di komplek Taj Mahal Juga dibangun bersebelahan disisi kiri dan kanan nya masing masing Masjid Taj Mahal dan Istana Peristirahatan Taj Mahal.

dan beginilah Masjid dan jembatan menuju Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien saat ini.

Proses pembangunan masjid dimulai pada tanggal 4 Februari 1954, di atas lahan seluar 5 acre (2 hektar) dengan masjidnya sendiri berukuran 225 kaki x 86 kaki (68.5 meter x 26.2 meter) dan mampu menampung sekitar 3000 jema’ah sekaligus. Tinggi bangunan utama masjidnya mencapai 52 meter, atapnya ditutup dengan kubah besar berlapis emas murni, ditopang dengan dinding dinding tebal berlapis pualam dari Italia sama dengan pualam yang digunakan untuk pilar pilar, lengkungan dan menara masjid.

Bangunan masjid ini memang sebagian besar menggunakan material dari luar negara termasuk penggunaan Batu Pualam dari Italia, Batu Granit dari Shanghai (China), stainglass atau kaca patri dan lampu gantung dari Inggris serta karpet rajutan tangan dari Belgia dan Saudi Arabia.

dua foto udara diwaktu yang berbeda ::: foto kiri dibuat oleh Tony Wilson seorang fotografer tentara Inggris ketika masih berkuasa di Brunei sedangakn foto kanan adalah foto udara Masjid Sultan Ali Saifuddin yang di abadikan dalam selembar kartu pos tahun 1970-an.

Satu satunya elemen lokal tempatan Brunei yang dipakai di masjid ini adalah penggunaan Kalat, yakni semacam tali yang sangat tebal dan dibentuk berkelok kelok pada semua pilar masjid. Kalat, aslinya digunakan pada pembangunan bangunan ‘lapau’ atau aula di Brunei. Kalat berfungsi sebagai tali pengikat pilar pilar bangunan. Karena keberadaannya yang terlihat oleh mata, maka kalat ini dalam aplikasinya diberi corak warna warni dan tak jarang dilapis dengan emas.

Dari sisi arsitektural, menara tunggal masjid ini memang cukup unik. Penggabungan gaya Italia dengan gaya Mughal menghasilkan menara dengan denah segi empat bergaya italia di sisi bawah sedangkan puncaknya menggunakan kubah bawang khas Mughal. Sedangkan interior masjid ini begitu mewah dengan berbagai seni ilami khususnya seni kaligrafi dan pola pola geometrik, floral dan lain nya.

Kata Wow saja rasanya memang tak cukup untuk memuji masjid satu ini. Wajar bila kemudian banyak orang yang menyebut masjid ini sebagai salah satu masjid terindah di kawasan asia pasifik. kubah masnya memang bukan satu satunya masjid dengan kubah berlapis emas. ukurannya pun kalah jauh dibandingkan dengan Masjid Kubah Mas Dian Al-Mahri di Depok - Jawa Barat, namun keindahan bangunan dan kebesaran sejarahnya yang membuat masjid ini begitu menarik.

Masjid Sultan Omar Ali Syaifuddien diresmikan sendiri oleh Sultan Omar Ali Syaifuddien pada tanggal 26 September 1958. Dan Sembilan tahun kemudian tepatnya di tahun 1967 masjid ini dilengkapi dengan bangunan tambahan berupa Replika Kapal Mahligai Sultan Bolqiah abad ke 16 yang dibangun ditengah laguna di depan masjid lalu dihubungkan dengan jembatan pualam. Pembangunan mahligai tersebut menandai peringatan 1400 tahun (14 abad) Nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an untuk pertama kali) dengan pembangunan sebesar 250 ribu dolar.

Kini, masjid Sultan Omar Ali Saifuddien menjadi landmark yang begitu terkenal di Brunei Darussalam, dan menjadi tempat ibadah utama di negeri itu. memang ada larangan resmi untuk tidak memotret di dalam masjid ini, mungkin itu sebabnya sangat sulit menemukan foto interior masjid ini di dunia maya meski masjid ini merupakan salah satu objek foto paling menarik bagi siapapun yang pernah ke sana, dan foto keindahannya bertebaran di dunia maya.***

Refleksi ::: Foto malam hari sepertinya menjadi pavorit para fotografer untuk mengabadikan keindahan masjid ini dengan merekam keindahan bangunan masjid berikut bayangannya yang terpantul dipermukaan air laguna tempatnya berdiri.
Kota Bandar Seri Begawan memang tak sebesar dan seluas Jakarta, ditambah lagi dengan penduduknya yang tak sepadat ibukota Republik Indonesia itu membuat masjid ini bertahan sebagai landmark utama kota Bandar Seri Begawan dari sejak masjid ini pertama kali dibangun hingga hari ini tetap mendominasi pemandangan kota.

Referensi

bruneiresources.com – sultan omar ali saifuddien mosque

islamicfinder.org - Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin

en.wikipedia.org  - Sultan_Omar_Ali_Saifuddin_Mosque

Artikel Terkait

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 3)

Baca Juga artikel Masjid Asean Lain nya

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 2)

Masjid Negara, Kuala Lumpur – Malaysia

Masjid Putra, Putrajaya – Malaysia

Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putrajaya – Malaysia

Masjid Sultan Singapura – Singapore

Masjid Al-Dahab Manila – Philippina

Sunday, August 30, 2020

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien di Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. dibangun tahun 1958 dan menjadi masjid Nasional Bagi Negara Brunei Darussalam.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien adalah masjid Nasional bagi Kesultanan Brunei Darussalam di kota Bandar Seri Begawan, Ibukota negaraBrunei Darussalam. Masjid mewah dengan kubah berlapis emas murni ini dibangun sebagai simbol bahwa Islam adalah agama negara dan menjadi pegangan hidup rakyat Brunei Darussalam. Sejak dibangun hingga hari ini, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien menjadi salah satu masjid yang paling terkenal di dunia karena keindahan dan kemegahannya.

Sebagai masjid kerajaan masjid Sultan Omar Ali Saifuddien memang dibangun di Ibukota Negara Brunei Darussalam. Tepatnya di Kampong Ayer (Kampung Air) bersebelahan dengan komplek Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah di Bandar Seri Begawan. Sekali dalam setahun, bangunan replika Bahtera (kapal) Sultan Bolkiah yang berdiri di tengah laguna di depan masjid ini dijadikan mimbar Tilawah dalam Lomba Seni Baca Al-Qur’an / Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Nasional Brunei Darussalam.

Lokasi dan Alamat Masjid Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien

Kg. Ayer (Water Village), Brunei town centre.,

Bandar Seri Begawan, KA1321, BRUNEI DARUSSALAM

Phone: +673246120

View Larger Map

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien dinamai sesuai dengan nama Sultan Brunei Darussalam ke 28, Omar Ali Saifuddien III. Sebuah bangunan masjid yang dibangun sebagai symbol bahwa Islam adalah agama resmi dan menjadi nafas kehidupan negara tersebut. Kemegahan masjid yang mendominasi pemandangan kota Bandar Seri Begawan ini selesai dibangun tahun 1958.

Arsitektural Masjid Omar Saifuddien

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien merupakan salah satu contoh impresif dari arsitektur Islam modern yang memadukan arsitektur Islam dari era kejayaan dinasti Mughal (kini Pakistan, India, Bangladesh, Afganistan & Iran) dan gaya arsitektural Italia. Proses perencanaannya dilaksanakan oleh firma arsitek Booty and Edwards Chartered Architects merujuk kepada hasil rancangan arsitek Italia Cavaliere Rudolfo Nolli, seorang arsitek yang cukup berpengalaman selama beberapa dekade di kawasan negara negara Teluk Siam.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien di malam Indah, tampak begitu menawan dengan refleksi bangunannya di permukaan laguna.

Masjid Omar Ali Saifuddien dibangun di atas sebuah laguna buatan di tepian Sungai Brunei di tengah Kampong Ayer (Kampung Air), kota Bandar Seri Begawan. Sengaja dibangun diatas laguna, karena pembangunan masjid nya sendiri dibarengi dengan pembangunan sebuah bangunan kapal yang merupakan replika dari Bahtera Sultan Bolkiah dari abad ke 16. Lokasi replika bahtera ini tepat di tengah laguna di depan masjid dan dihubungkan dengan jembatan dari batu pualam.

Replika Bahtera Sultan Bolkiah tersebut dibangun dalam rangka memperingati 1400 tahun (14 Abad) Nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an untuk pertama kali), keseluruhan pembangunannya selesai dilaksanakan tahun 1967 dan digunakan sebagai mimbar tilawah (mimbar atau podium yang digunakan oleh Qori & Qori’ah) pada perhelatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat nasional di Brunei Darussalam.

Selain dibangun di atas sebuah laguna buatan, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ini juga dilengkapi dengan taman yang indah, sebuah taman luas di atas bekas 'padang' yang tadinya merupakan tanah lapang di sekitar "Masjid Kajang" masjid darurat di Pekan Brunei paska perang dunia ke dua.

Komplek masjid ini juga dilengkapi dengan menara pualam serta kubah besar berlapis emas murni di atap masjid. Kawasan ini juga dilengkapi dengan taman yang ditata begitu apik. Ada dua jembatan pualam penghubung ke masjid ini melintasi laguna, satu jembatan ke Kampong ayer dan satu lagi jembatan menuju ke Mahligai Bahtera di tengah laguna.

Dari kejauhan pun masjid ini sudah dapat dikenali dengan jelas dari kubah nya yang berlapir emas murni dan menara tingginya itu. bila dipandang dari arah kampung Ayer terlihat sangat kontras antara kemewahan bangunan masjidnya dengan rumah rumah kayu diatas air warga kampung Ayer.

dan ini adalah pemandangan menarik masjid Sultan Omar Ali Saifuddien dengan latar depan rumah rumah penduduk di sepanjang sungai Brunei.

Namun begitu, penduduk Brunei termasuk di kampung ayer ini memang jauh di atas garis kemiskinan mengingat bahwa Brunei sendiri merupakan salah satu negeri islam yang makmur dan kaya raya. Dan penduduk negerinya tidak hanya jadi penonton dari kekayaan negaranya tapi juga menjadi penikmat dari semua itu dengan cukup  berkeadilan. Bangunan masjid ini memang begitu menyolok dengan ketinggian 52 meter, dapat dipandang dari sisi manapun di kota Bandar Seri Begawan. Menara tunggal masjid ini dilengkapi dengan elevator sehingga pengunjung dapat naik ke puncak menara untuk memandang keindahan kota dari ketinggian.

Ruang dalam masjid ini hanya difungsikan untuk ruang sholat. Jendela jendela masjid ini dibuat dari stained glass atau kaca patri warna warni, lengkungan dan semi kubah serta pilar pilar dari batu pualam. Sebagian besar bahan bangunan yang digunakan di datangkan dari luar Brunei Darussalam, batu pualam didatangkan dari Italia, Batu granit di import dari Shanghai (China), lampu gantung nya di beli dari Inggris sedangkan karpetnya di datangkan dari Belgia dan Saudi Arabia.

Bersambung ke Bagian 2 dan Bagian 3

ada tiga akses menuju masjid ini dua diantaranya melalui jembatan. satu jembatan menuju kampung Ayer dan satu jembatan lainnya menuju ke Bangunan Mahligai Bahtera Sultan Bolkiah.

Foto kenangan ::: Dua helikopter milik Angkatan Bersenjata Inggris sedang terbang melintas di atas komplek Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. semasa Inggris masih berkuasa di Brunei Darussalam.
Taman Sultan Omar Ali Saifuddien ::: di sebelah daratan masjid Sultan Omar ini dibangun taman dengan nama yang sama. areal taman ini tadinya adalah 'padang' atau lapangan disekitar masjid kajang, cikal bakal Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien.
Satu lagi foto lama Masjid Sultan Omar dalam selembar kartu pos.

Referensi

bruneiresources.com – sultan omar ali saifuddien mosque

islamicfinder.org - Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin

en.wikipedia.org  - Sultan_Omar_Ali_Saifuddin_Mosque

Artikel Terkait

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 3)

Baca Juga artikel Masjid Asean Lain nya

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 1)

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 2)

Masjid Negara, Kuala Lumpur – Malaysia

Masjid Putra, Putrajaya – Malaysia

Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putrajaya – Malaysia

Masjid Sultan Singapura – Singapore

Masjid Al-Dahab Manila – Philippina

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done