Islami Pedia: Bukan Masjid Biasa
News Update
Loading...
Showing posts with label Bukan Masjid Biasa. Show all posts
Showing posts with label Bukan Masjid Biasa. Show all posts

Friday, October 9, 2020

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (bagian kedua)

Peresmian IMAAM Center oleh Presiden SBY

Penantian 20 Tahun

Kisah berubah tatkala terpampang iklan pada sebuah media online yg menyebut soal planning penjualan gereja tua pada daerah Georgia Avenue, Silver Spring, MD, Maryland. Iklan itu ditayangkan oleh pengurus gereja yang mengaku terpaksa menjual gedung itu karena tidak terdapat lagi kegiatan ibadah pada sana. Sejak lima tahun terakhir, gereja itu dibiarkan kosong melompong karena sebagian akbar jemaahnya sekarang menganut atheis. Sehingga gereja itu tak lagi digunakan buat aktivitas ibadah.

Ukuran gereja itu relatif besar . Luas gedungnya saja mencapai tiga.520 m persegi, menggunakan luas tanahnya mencapai 15.625 m persegi. Kapasitas ruangan di pada sanggup menampung sekitar 350 orang. Lapangan parkirnya pula cukup luas, bisa menampung lebih berdasarkan 100 mobil. Harga jualnya US$3 juta atau lebih kurang Rp 33 miliar, dengan kurs kurang lebih Rp 11.000 perdolar. Gedung yg dibangun tahun 1955 itu, berada di tengah kota Maryland. Merujuk pada izinnya, gedung itu hanya spesifik buat aktivitas rumah ibadah. Pihak gereja sebenarnya telah usang ingin menjual gedung itu, tapi nir laku karena biar penggunaannya nir mampu digunakan selain buat ibadah.

Lantai 2 IMAAM Center yang adalah ruang utama masjid.

Ini yang menciptakan pengurus IMAAM tertarik buat membelinya. Apabila gedung itu sanggup dibeli, maka tidak perlu lagi memohon izin pendirian rumah ibadah menurut pemerintah setempat karena sejak awal peruntukannya memang buat rumah ibadah. Namun masalahnya, darimana pengurus IMAAM sanggup menerima dana $3 juta? Kalaupun dua unit gedung yang ditempati IMAAM Center dijual, diperkirakan harganya $1 juta. Itu berarti masih kurang lebih kurang $2 juta lagi. Jelas ini bukan jumlah yg mini . Butuh bisnis ekstra buat menambal kekurangannya.

Bantuan Pemerintah Indonesia

Sampai akhirnya muncullah pandangan baru menurut pengurus IMAAM buat menyampaikan kasus ini dengan Dino Pati Djalal yg ketika itu menjabat menjadi Duta Besar Indonesia buat Amerika. Dino yg menyambut baik pandangan baru itu lalu mengungkapkan berita ini eksklusif ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Gayung bersambut, SBY rupanya sangat tertarik dengan ide itu. Ia pun pribadi membahas kasus ini menggunakan DPR. Kebetulan waktu itu masih ada sisa aturan $5 juta yang belum terpakai. Tak butuh ketika lama bagi DPR & pemerintah buat menyepakati pemberian hibah $3 juta untuk IMAAM menjadi modal buat membeli gereja pada Amerika itu. Sedangkan sisanya yg $2 juta digunakan buat membangun gedung mahasiswa Indonesia pada Mesir.

Presiden SBY memimpin sholat berjamaah selesainya pelantikan masjid IMAAM Center

12 Juni 2014 IMAAM resmi mengambil alih First Baptist Church Montgomery Maryland buat dijadikan sebagai masjid. Upaya renovasi langsung dilakukan secara sedikit demi sedikit. Kursi panjang yang biasa dipakai buat beribadah pada gereja dibongkar dan digantikan dengan karpet menurut Arab. Para Muslim Amerika beramai-ramai urun rembuk dan mengumpulkan dana buat renovasi gedung tersebut. Berbagai aktivitas syiar Islam mulai aktif dilakukan di dalamnya. Beberapa tokoh Islam di Washington diundang buat menaruh ceramah agama di sana.

Awal September 2014, suasana di dalam gedung itu terlihat sangat asri. Selain papan nama yg tengah dihapus, di bagian luar tak ada indikasi-pertanda lagi yang memberitahuakn bangunan itu adalah bekas gereja. Di bagian pada, hanya ada pentas di bagian depan yg biasa digunakan rahib atau penyanyi koor gereja buat tampil di depan jamaahnya. Dekorasi itu memang agak unik buat dihadirkan di dalam masjid. Tapi pengurus IMAAM berencana akan mengubahnya secara sedikit demi sedikit sebagai akibatnya nantinya desain khas masjid itu bernuansa Indonesia.

Diresmikan sang Presiden SBY

Sesuai dengan rencana, IMAAM Center diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Jum’at 25 September 2014 pukul 12.30 waktu setempat. Acara peresmian berlangsung di lantai bawah, hadir dalam acara ini Utusan Khusus Komunitas Muslim Kemlu AS Sharif Gaffar, para tokoh muslim setempat, dan anggota komunitas muslim Indonesia. Seusai peresmian, para undangan menunaikan salat Jumat berjamaah bersama denganPresiden SBY dan rombongan dari Jakarta.

Dalam pidatonya, Presiden SBY ‎mengaku sangat bersyukur dan bahagia setelah mendengar sambutan Presiden IMAAM Center Aris Mustofa dan Sharif Gaffar. “Hati kita teduh dan damai, ingin menjalin kerjasama dan kebersamaan untuk membuat dunia adil dan sejahtera,” Menurut Presiden SBY, Masjid tersebut diharapkan menjadi duta umat muslim di Indonesia yang ingin bersahabat dengan bangsa manapun. “Kami akan menjadi agent of peace, kami akan tunjukkan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin,” ujar SBY. Kunjungan Presiden SBY ke Amerika Serikat adalah bagian dari lawatan Presiden Indonesia ke tiga negara, yaitu Portugal, Amerika Serikat dan Jepang dari tanggal 17 September hingga 30 September 2014.

Presiden Joko Widodo saat menunaikan sholat tahiyatul masjid di IMAAM Center

Dikunjungi Presiden Jokowi

Hari selasa 27 Oktober 2015 pukul 15:20 waktu setempat atau hari Rabu 28 Oktober 2015 Pukul 14:20 Waktu Indonesia Bagian Barat, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri berkunjung ke Masjid IMAAM Center ini dalam perjalanan dinasnya ke Amerika Serikat. Selama kunjungan singkat tersebut presiden Jokowi langsung menuju ke lantai dasar masjid yang merupakan area untuk keperluan umum, disambut oleh para pengurus masjid yang sudah menunggu kemudian berkunjung ke perpustakaan masjid.

Presiden Jokowi kemudian menuju ke area sholat di lantai dua masjid, namun karena waktu asyar belum tiba, maka beliau menunaikan sholat sunah tahiyatul masjid, setelah itu presiden menyempatkan diri berfoto bersama dengan jemaah warga Indonesia yang ada disana termasuk memenuhi permintaan beberapa warga Indonesia yang meminta ber-selfie bersama beliau. Presiden berangkat meninggalkan IMAAM Center pada pukul 15:45 waktu setempat menuju ke the Blair House, tempat beliau menginap selama kunjungan kerja di Amerika Serikat. ***

Kembali ke Bagian Pertama

Referensi

dream.co.id – muslim indonesia beli gereja amerika untuk dijadikan masjid

bubblews.com - indonesian Muslims to cite this Buy American Church Mosque

atjehpost.co - Muslim-Indonesia-di-Amerika-Mengubah-Gereja-Menjadi-Masjid

aktualita.co - presiden-sby-resmikan-masjid-imaam-centre-di-amerika-serikat/

muslimlinkpaper.com - IMAAM Center Realizes 20 Year Old Dream

antara.com – Jokowi sholat tahiyatul masjid di imaam center

setkab.go.id - before-return-to-homeland-president-jokowi-visits-imaam-mosque

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia pada Luar Negeri Lainnya

IMAAM Center, Masjid Indonesia pada Amerika (bagian pertama)

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia pada New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia pada Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia di Wina ? Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia pada Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

IMAAM Center, Masjid Indonesia di Amerika (Bagian Pertama)

TIDAK MIRIP MASJID. Bangunan masjid IMAAM Center ini sama sekali nir seperti dengan bangunan masjid seperti yang biasa kita kenal. Karena memang sebelumnya adalah sebuah Gereja bergaya Amerika dengan empat pilar akbar pada depan nya mirip dengan bangunan gedung putih, Istana Presiden Amerika.

Bekas gereja yang sebagai masjid muslim Indonesia pada Amerika

IMAAM Center adalah masjid komunitas muslim Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat. Masjid ini menjadi masjid kedua yang dimiliki dan dikelola oleh muslim Indonesia setelah Masjid Al-Hikmah di New York City. IMAAM Center berada di Georgia Avenue, Silver Spring, Maryland, Amerika Serikat, tak jauh dari Washington DC, Ibukota Amerika Serikat. IMAAM Center dibangun diatas tanah seluas 1,15 hektar ini beralamatkan di 9100 Georgia Ave, Silver Spring, Washington, DC. Lokasi masjid ini cukup strategis, karena berada di perbatasan Washington DC dengan Maryland.

Sebelum dibeli pada lepas 12 Juni 2014, bangunan 2 lantai berbatu bata merah ini merupakan gereja First Baptist Church Montgomery Maryland yg sudah 5 tahun nir dipakai lantaran sebagian besar jemaahnya beralih menganut atheis & lalu dibeli oleh komunitas Muslim Indonesia buat dijadikan menjadi masjid. Gereja tersebut dibangun tahun 1955 dengan biar resmi dari pemerintah hanya buat digunakan sebagai tempat peribadatan. Itu sebabnya pengurus gereja kesulitan buat menjual bangunan tersebut buat keperluan lain, tetapi justru hal tersebut yg sebagai nilai tambah bagi muslim Indonesia disana lantaran menggunakan membeli gedung gereja tersebut nir perlu lagi mengurus izin buat membentuk tempat ibadah.

Imaam Center

Address: 9100 Georgia Avenue, Silver Spring, MD 20910

Phone: 240-233-6967

Website : http://www.imaamcenter.org

Facebook : IMAAM Center

Telepon: 1 301-588-0693

Tentang IMAAM

IMAAM (Indonesian Muslim Association in America) atau Komunitas Muslim Indonesia di Amerika Serikat. Awalnya dibentuk oleh beberapa belas muslim Indonesia yang tinggal di kawasan Washington DC dan sekitarnya yang memiliki perhatian terhadap pentingnya keseimbangan hubungan horizontal dan vertikal bagi generasi mendatang, maka pada tanggal 21 Desember 1993 dibentuklah IMAAM dan didaftarkan sebagai organisasi nirlaba keagamaan di negara bagian Maryland.  Organisasi ini aktif menggelar kegiatan keagamaan, termasuk berupaya mendirikan masjid di Washington DC.

Kepengurusan IMAAM dipilih secara periodik setiap tiga tahun dalam sidang generik tahunan. Ada sembilan pengurus primer IMAAM yang terdiri menurut;

  1. Bpk. Firdaus Kadir, Chairman of the Board, 2015-2018.
  2. Bpk. Amang Sukasih, President, 2015-2018
  3. Bpk. Bambang Achiruddin, Vice President, 2013-2016
  4. Bpk. Varga Syahroni, Secretary, 2013-2016
  5. Ibu. Waty Yirka, Treasurer, 2015-2018
  6. Bpk. Syafrin Murdas, Regular Trustee, 2014-2017
  7. Bpk. Arif Mustofa, Regular Trustee, 2013-2016
  8. Ibu. Nurul Fathiyah, Regular Trustee, 2014-2017
  9. Bpk. Andri Antoni, Regular Trustee, 2014-2017

GEREJA TAK TERPAKAI. Begini bentuk aslinya bangunan masjid IMAAM Center ketika muncul di situs iklan penjualan properti, sebelum lalu dibeli & pada alih fungsi sebagai masjid oleh IMAAM Center.

Perjalanan Panjang Masjid Imam Center

Impian memiliki masjid sendiri pada Amerika menjadi tempat berkumpul beserta bagi muslim Indonesia bukanlah perkara gampang. Selain terkendala dengan masalah dana yang tidak sedikit buat membeli properti disana, tetapi pula perkara perizinan yg memang nir gampang diperoleh. Upaya IMAAM buat mendirikan masjid nyaris terwujud pada 1995. Kala itu, organisasi yg sekarang beranggotakan sekitar 2000 orang ini bisa membeli dua unit tempat tinggal pada daerah Veirs Mill Rd, Rockville, Maryland.

Rumah itulah yg hendak dijadikan masjid, namun rencana itu mendapat protes dari warga setempat. Apa boleh buat, keinginan mendirikan masjid bernuansa Indonesia di Amerika terpaksa ditunda. Jika ke 2 rumah itu bisa difungsikan menjadi masjid kala itu, maka warga Muslim Indonesia yg tinggal di Amerika lebih menyatu & kompak, sehingga memudahan buat melaksanakan aktivitas sosial lainnya. Namun virtual itu belum berhasil lantaran kendala menurut warga setempat. Pemerintah Maryland pula tidak memberi biar jikalau rakyat lebih kurang masih menolak.

Akibat penolakan itu, dua gedung yang dibeli di kawasan Rockville hanya bisa dijadikan sebagai IMAAM Center. Tidak ada aktivitas ibadah di sana. Sementara untuk salat atau kegiatan ibadah lainnya, warga Muslim Indonesia harus menyebar di sejumlah masjid yang ada di Washington dan sekitarnya. Masalah perizinan ini bahkan pernah dikemukakan oleh Imam Masjid Istiqlal Jakarta, Ali Musthafa Ya'qub langsung kepada Presiden Barack Obama saat kunjungannya ke Masjid Istiqlal pada 10 Nopember 2010.

Bersambung ke Bagian Kedua

----------ZZZ----------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Indonesia di Luar Negeri Lainnya

Masjid Al-Hikmah, Masjid Indonesia pada New York City

Masjid Daarut Tauhiid Indonesia di Gaza Palestina

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia pada Wina ? Austria

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian I

Masjid Komunitas Muslim Indonesia di Den Haag - bagian 2

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia pada Berlin, Jerman

Masjid Istiklal Indonesia di Bosnia & Herzegovina

Masjid Aceh di Pulau Pinang – Malaysia

Masjid Islamic Society of Papua New Guinea

Monday, October 5, 2020

Masjid di Atap Dunia, Masjid Jami Nepal

Masjid Jami' Nepal di Kathmandu, satu menurut dua masjid akbar pada kota

metropolitan Khatmandu, ibukota Republik Demokratik Federal Nepal

(foto dari panoramio)

Bila dalam artikel sebelumnya sudah di ulas tentang Masjid Kashmiri Taqiya di KathmanduNepal, kali ini kita akan mengulas tentang masjid bersejarah dan terbesar ke dua di Nepal, Masjid Jami Nepal atau Kathmandu Jama Masjid, masjid Hindustan, masjid India atau Masjid Nepali dan kadang kadang media juga menyebut masjid ini sebagai Masjid Nasional Nepal, meski dengan jelas papan nama masjid ini tertulis “Nepali Jame Masjid”. Sejarah pembangunan awal masjid ini memang dilaksanakan oleh muslim dari India yang berimigrasi ke Nepal beberapa abad yang lalu.

Lokasi Masjid Jami Nepal

Alamat : Bag Bazaar, Kathmandu, Nepal

Tak jauh dari kampus Tri Chandra, perguruan tinggi ternama di Nepal.

Masjid Jami Nepal berada di sebelah selatan Masjid Kashmiri Taqiya hanya terpisah beberapa blok bangunan. Diantara kedua masjid ini berdiri Kampus Tri Chandra, perguruan tinggi ternama di Nepal. Lokasi dua masjid ini memang berada di kawasan boulevard utama kota metropolitan Kathmandu, tak jauh dari (bekas) Istana Raja Nepal di era Nepal masih berbentuk kerajaan Hindu. Masjid ini terbuka untuk umum. Secara tradisi masjid ini merupakan masjid Islam Sunni, menyelenggarakan sholat berjamaah lima waktu, sholat Jum’at juga dua sholat hari raya. Bahasa pengantar yang dipakai menggunakan bahasa Arab. Imam masjid saat ini dijabat oleh Hammad Fareed.

Sebagaimana fungsi masjid bagi ummat Islam, masjid Jami Nepal memiliki peran sentral bagi ummat Islam di Nepal. Hampir keseluruhan masjid di Nepal dijadikan semacam pusat komunitas ummat Islam, masjid Jami’ Nepal memilki bangunan sekolah Islam (madrasah) dan kawasan niaga. Meski selama ber-abad abad ummat Islam di Nepal dilarang menyebarkan Islam kepada pemeluk agama Hindu, hal tersebut masuk dalam katageri pelanggaran hukum berat dan dapat dikenai sangsi hukuman penjara selama tiga tahun. Perubahan signifikan pada masjid ini terjadi sejak tahun 1990-an, merubahnya menjadi sebuah simbol kehadiran muslim di Kathmandu khususnya di Nepal umumnya.

Pengurus dan jemaah masjid ini tidak terkait dengan kepentingan politik manapun di negeri tersebut. Namun masjid memang menjadi tempat titik berkumpul utama bagi muslim manapun termasuk muslim Kathmandu, secara khusus perubahan karakter simbolis masjid ini menarik perhatian dari golongan sayap kanan Hindu Nepal yang kerap kali memandang masjid ini sebagai pusat muslim termasuk pusat bagi “hal hal yang lain”. Boleh jadi itu sebabnya masjid ini sempat menjadi sasaran serangan dalam beberapa tahun terahir.

Sebuah menara tinggi melengkapi arsitektual Masjid Jami Nepal ini.

Masjid tiga lantai tak cukup lega buat menampung jemaah sholat Jum'at

apalagi di dua sholat hari raya (foto dari virtualtourist.com)

Sejarah Masjid Jami? Nepal

Muslim Hindustani (India) merupakan kelompok muslim kedua yang menetap di Nepal, gelombang pertama muslim yang mukim di Nepal adalah Muslim Khasmiri yang kemudian mendirikan Masjid Kashmiri Taqiya dan sudah di ulas dalam artikel sebelumnya. Kelompok pertama muslim Hindustani masuk ke Nepal semasa kekuasaan Raja Pratap Malla (1641-1674) dari dinasti Malla. Raja mengizinkan mereka menetap dan mendirikan masjid di selatan Masjid Kashmiri Taqiya yang sudah lebih dahulu berdiri.

Masjid yang dibangun oleh kelompok pertama Muslim Hindustani ini kemudian terkenal sebagai masjid Hindustani, Masjid India, Masjid Nepali atau Masjid Jami Kathmandu (Kathmandu Jama’ Mosque). Konon masjid ini pertama kali dibangun dengan beraliran syiah (boleh jadi itu sebabnya muslim Hindustani meminta izin kepada raja untuk membangun masjid sendiri terpisah dari Masjid Kashmiri Taqiya yang beraliran Suni). Bangunan masjid Hindustani ini saat itu dilengkapi dengan sebuah imambara, sekarang bangunan tersebut sudah tidak ada lagi.

Tahun  1857 tatkala Nepal dibawah kekuasaan Jang Bahadur dari dinasti Rana, sejumlah besar muslim Hindustani berimigrasi ke wilayah Terai – Nepal, sebagai akibat tekanan dari tentara Inggris yang menjajah India kala itu. Jang Bahadur memang bersedia menerima migrasi muslim India tersebut sebagai bagian dari persekongkolannya dengan Inggris untuk mengurangi konsentrasi muslim di kawasan yang bergelok di India utara. Konsentrasi muslim dalam jumlah besar di satu kawasan bergolak dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi Inggris di India. Para pengungsi ini sebagian tinggal di tinggal di Terai ini berdagang bahan bahan dari kulit atau bekerja sebagai buruh tani.

Pemberontakan muslim India utara tahun 1857 terhadap penindasan tentara Inggris, terkenal dengan sebutan Pemberontakan Sepoy. Pemberontakan tersebut berahir dengan kekalahan muslim dari tentara Inggris. Kalangan istana Lucknow yang memberontak terpaksa mengungsi ke Nepal termasuk diantara mereka adalah Maulana Sargaraz AH Shah (Mufti terahir dari dinasti Mughal semasa Sultan Bahadur Shah Zafar) yang mengungsi ke Kathmandu mengiringi kepergian Putri Begum Hazrat Mahal istri dari Nawab Wajid Ali penguasa Begum dari Lucknow berserta putra Mahkota Birjis Qadr).

Pasukan keamanan bersenjata lengkap dengan tunggangan militer

mengamankan masjid Jami' Nepal menurut rusuh massa 1 September 2004

militayphotos.Net

Maulana Sargaraz AH Shah yang kemudian mengubah Masjid Jami’ Kathmandu menjadi Masjid beraliran suni dan merenovasi keseluruhan bangunan masjid, dan membangun kediaman bagi keluarga kerajaan yang menetap disana, keseluruhan dana renovasi dan pembangunan tersebut berasal dari dana pribadi Putri Begum Hazrat Mahal.

Maulana Sargaraz dan Putri Begum Hazrat Mahal ketika wafat di Kathmandu keduanya dimakamkan di areal masjid Jami’ Kathmandu sesuai keinginan mereka semasa hidup. Putri Begum Hazrat Mahal wafat di Kathmandu pada tanggal 7 April 1879. Makam mereka masih dapat di jumpai disana meski selama berpuluh puluh tahun makam dan masjid tersebut sama sekali luput dari perhatian pemerintah Nepal. Sampai sampai Pandit Jawaharlal Nehru tokoh kemerdekaan India sempat kecewa ketika mengetahui kondisi makam pejuang India tersebut sama sekali tak terawat. Belakangan pemerintah Nepal mulai memperhatikan masjid dan makam ini.

Massa muslim pendukung Faizan Ahmad Ansari, berdemo di depan

masjid Jami' Nepal menuntut pengusutan tuntas perkara penghilangan nyawa

keji terhadap Faizan Ahmad Ansari & tokoh muslim lain nya

(foto demotix.com)

Saksi Bisu penghilangan nyawa Tokoh Islam Nepal

26 September 2011 Masjid Jami Nepal menjadi saksi bisu pembunuhan keji terhadap salah satu tokoh muslim Nepal, Faizan Ahmad Ansari (36 tahun), Sekretaris Jenderal Persatuan Islam Nepal. Beliau dibunuh oleh dua orang pria bersenjata api yang memberondongnya dengan peluru di jalan di depan Masjid ini sesaat setelah beliau menunaikan sholat Asyar.  Tubuh beliau terkapar bersimbah darah di bawah guyuran hujan deras. Imran saudara beliau bersama jemaah masjid yang kemudian melarikan nya ke rumah sakit Bir di pusat kota Kathmandu namun nyawanya tak tertolong.

Pembunuhan keji tersebut memicu kemarahan para pendukung dan keluarganya yang menggelar demonstrasi menuntut pengusutan tuntas kasus pembunuhan tersebut. Kasus ini juga bukan kasus pembunuhan pertama terhadap tokoh muslim Nepal. Lebih ironis lagi karena lokasi masjid ini dan lokasi kejadian justru tak jauh dari markas kepolisian kota metropolitan Kathmandu. Persatuan Islam adalah ormas Islam Nepal yang bergerak di bidang pendidikan dengan tujuan utama memajukan pendidikan bagi muslim Nepal.

Sepasukan polisi mengamankan aksi demo ummat Islam yang menuntut

pengusutan tuntas pembunuhan Faizan Ahmad Ansari (demotix.com).

Meski kemudian pemerintahan maois Nepal mencopot kepala kepolisan metro Kathmandu, namun massa yang sudah terlanjur kecewa menuntut pengunduran diri wakil perdana menteri dan Mendagri Nepal sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kegagalan mereka melindungi warga negaranya dari rangkaian aksi pembunuhan.

Masjid ini juga nyaris menjadi sasaran amuk massa pada 1 September 2004 silam yang melampiaskan kemarahan mereka atas terbunuhnya 12 pekerja Nepal di Iraq. Massa yang marah merusak dan menghancurkan kantor pengerah tenaga kerja di pusat Kathmandu yang dituduh bertanggung jawab atas pengiriman 12 pekerja tersebut ke Iraq, kantor kantor maskapai penerbangan asing tak luput dari amuk massa termasuk Masjid Kashmiri Taqiya yang tak terpisah jauh dari Masjid ini. Aparat keamanan kemudian memblokir kawasan ini dengan pengerahan pasukan dan kendaraan berat militer untuk menghentikan amuk masa, meski sebagian kalangan mengecam pihak keamanan yang dianggap terlambat mengantisipasi tindakan anarkis tersebut.

Nama resmi Masjid ini tertulis dengan hurup besar di gedung tempat kerja

pengelola masjid. Sedangkan menara kecil ini adalah tempat muazin

mengumandangkan azan di masjid Jami Nepal (flickr)

Arsitektural Masjid Jami Nepal

Masjid Jami’ Nepal yang kini berdiri merupakan bangunan baru bukan bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh muslim india di tahun 1641-1674 dan kemudian di renovasi total oleh Putri Begum Hazrat Mahal pada tahun 1857. Bangunan masjid ini kini berdiri tiga lantai dalam arsitektur yang lebih modern. Dilengkapi dengan sebuah bangunan menara tinggi sedikit terpisah dari bangunan masjid. Uniknya ada satu bangunan menara lain yang tidak seberapa tinggi di halaman masjid ini yang dijadikan tempat muazin mengumandangkan azan.

Kawasan masjid Jami Nepal di Kathmandu ini kini menjadi pusat aktivitas muslim di kota metropolitan Kathmandu. Berderet toko menyajikan berbagai kebutuhan ummat Islam termasuk rumah makan muslim yang menyediakan makanan halal dan toko toko yang menyediakan berbagai kebutuhan lainnya. Di kawasan masjid ini juga berdiri sekolah islam yang dikelola oleh pengurus masjid. Selama bulan suci Ramadhan secara khusus pengurus masjid menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi jemaah masjid. Penyediaan makanan untuk berbuka ini menjadi suatu perhelatan rutin yang cukup besar di masjid ini.

Foto foto Masjid Jami Nepal

bangunan misalnya menara kecil disebelah kiri adalah tempat muazin

mengumandangkan azan di masjid ini (foto dariflickr)

Massa muslim pendukung Faizan Ahmad Ansari, berdemo di depan

masjid Jami' Nepal menuntut pengusutan tuntas perkara penghilangan nyawa

keji terhadap Faizan Ahmad Ansari & tokoh muslim lain nya

(fotodemotix.com)

dua remaja sedang berbincang di depan Masjid Jami Nepal (ibtimes)
Sholat Jum'at di Masjid Jami' Nepal (allposters)
Referensi

travelpod.com – Kathmandu mosque

salatomic.com – Kathmandu jama masjid

himalmag.com – how crescent fares in Nepal

asianshcolarship.org - a study of contemporary nepalese muslim political discourse.pdf

pdf file - nepali times edisi 10-16 September 2004.

sabili – tokoh pemimpin organisasi islam Nepal ditembak mati

oudh.tripod.com – begum hazrat mahal

--------------

Artikel terkait :

Masjid di Atap Dunia, Masjid Kashmiri Taqiya ? Nepal

Masjid pada Atap Dunia, Masjid Agung Lhasa - Tibet

Masjid pada Atap Dunia, Masjid Amburiq - Pakistan

Masjid di Atap Dunia, Masjid Chaqchan, Pakistan

Masjid 4000 kilometer

Sunday, October 4, 2020

Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Ho Purbalingga

# Masjid Masjid bergaya Tiongkok pada Indonesia

Pertama kali Rosulullah S.A.W membangun masjid, hanya menggunakan material bangunan dari pohon kurma, pelepah dan daunnya, bangunan masjid yang teramat sederhana sebagai tempat berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah dan pusat ke-Islaman. Masjid yang kini berubah menjadi Mega Masjid dikebal dengan Masjid Nabawi. Di kemudian hari bangunan bangunan masjid bertebaran di muka bumi dibangun dengan beragam bentuk sesuai dengan adat dan tradisi muslim setempat. Masjid dengan Gaya Tiongkok yang mirip Kelenteng seperti Masjid di Purbalingga ini  menambah khazanah perbendaharaan rancangan masjid masjid di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kabupaten Purbalingga provinsi Jawa Tengah. Salah satu kabupaten yg di anugerahi keindahan panorama alam gunung Slamet. Di kota ini telah bermukim beberapa generasi etnis Thionghoa yang telah sebagai bagian dari warga disana, pada keseharianpun mereka fasih berbahasa Jawa. Sejak tahun 2011 yang kemudian Purbalinga mempunyai satu masjid unik yang dibangun oleh Muslim Thionghoa disana. Masjid menggunakan bentuk mirip Klenteng yg sangat spesial . Menambah khasanah bangunan masjid serupa yang telah ada di tanah air, dan tentu saja menambah khasanah kekayaan arsitektur Masjid pada Nusantara tercinta.

Di beberapa kota di Indonesia yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Laksamana Cheng Ho sudah berdiri masjid serupa dengan nama yang sama, yakni di kota Palembang ibukota provinsi Sumatera Selatan, di Kota Jambi provinsi  Jambi, Pasururuan dan Kota Surabaya provinsi Jawa Timur dan di Kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Selain dari masjid masjid tersebut, di Indonesia juga sudah berdiri masjid masjid dengan arsitektur mirip kelenteng namun tidak dengan nama Cheng Ho, diantaranya adalah Masjid Latze Pasar Baru Jakarta, masjid Lautze-2 di kota Bandung provinsi Jawa Barat, Masjid Tan Kok Liong di dalam komplek pesantren Ustadz Anton Medan di Cibinong provinsi Jawa Barat, dan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.

Kesemua masjid yang bergaya bangunan tradisional Tiongkok tadi nir lantas berarti hanya boleh dipakai dan dipakai sang Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, holistik masjid tersebut dibangun buat dipakai oleh semua kaum muslimin tanpa memandang suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan & lain sebagainya, sama halnya dengan Masjid Cheng Ho Purbalingga ini.

Alamat & Lokasi Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Ho Purbalingga

Desa Selaganggeng Kecamatan Mrebet

Kabupaten Purbalingga, provinsi Jawa Tengah

Indonesia

Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini mulai dibangun tahun 2005 sempat terhenti di tahun 2006 karena berbagai kendala, dan diresmikan enam tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Juli 2011 bertepatan dengan 3 Sya’ban 1432H oleh H.A Zaky Arslan Djunaid selaku Ketua Umum Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) JASA. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai wadah kegiatan ke-Islaman dan dakwah bagi masyarakat muslimTionghoa terutama para mualaf di daerah Purbalingga. Muslim Thionghoa di Purbalingga ada sekitar 130-an orang mereka tersebar di 18 kecamatan, berdirinya masjid ini diharapkan bisa lebih memajukan Purbalingga khususnya dibidang dakwah Islam.

Sekilas mengenai Laksamana Cheng Ho

Haji Muhammad Cheng Ho (1371-1435) mempunyai berbagai varian nama diantaranya Ma He, Ma San Bao, Sam Po Bo atau Haji Mahmud Shams adalah seseorang Laksamana Muslim menurut kekaisaran ketiga Dinasti Ming. Beliau dari menurut suku Hui yg secara fisik mirip dengan suku Han, sempat ditangkap saat pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunan sampai lalu menjadi Laksamana armada angkatan laut dinasti Ming yg melegenda menggunakan perjalanan keliling dunia yang dilakukannya ke berbagai pelabuhan laut di daerah Asia Tenggara, Asia Selatan sampai ke Afrika Timur dari tahun 1405 sampai tahun 1433. Dunia Internasional kini bahkan telah mengakui dia menjadi pengeliling dunia pertama jauh sebelum para penjelajah Eropa manapun.

Perjalanannya ke banyak sekali kepulauan Nusantara meninggalkan jejak yg masih mampu ditemui hingga kini . Sebagai keliru satu contoh, rekam jejaknya pada wilayah barat pulau Jawa sebagai pembuka jalan bagi dakwah Islam pada daerah kerajaan Pajajaran. Disetiap perjalanannya Laksamana Cheng Ho selalu membawa mubaligh bagi para anggota ekspedisinya yg beragama Islam. Salah seseorang mubaligh yg menyertai ekspedisinya bernama Syekh Hasanudin, dalam pelayaran pertama-nya ke Nusantara, Syech hasanuddin sempat singgah di daerah Cirebon.

Arsitektur itu seperti bungkus, Seperti sampul buku. Acapkali orang tertipu sang sampul buku hanya karena tak tertarik dengan sampulnya. Meskipun ternyata isinya adalah sesuatu yg dicari carinya. Seperti Arsitektur Masjid, bagaimanapun bentuknya tetaplah masjid.

Dalam pelayaran keduanya ke Nusantara, Syech Hasanudin dan rombongan mendarat di daerah (yang sekarang dikenal menjadi) kabupaten Karawang pada provinsi Jawa Barat yang dalam waktu itu masih menjadi wilayah Kerajaan Pajajaran. Syech Hasanudin bersama dengan Syech Bentong kemudian mendirikan pesantren yg dikenal dengan nama Pondok Quro & Syech Hasanuddin dikenal menggunakan nama Syech Quro lantaran ke-mahiran-nya melantunkan ayat suci Al-Qur?An. Dari pondok Quro itulah Islam lalu menyebar ke daerah Pajajaran dengan menikahnya Pangeran Jaya Dewata putra Mahkota Kerajaan Pajajaran dengan Subang Larang, salah satu santriwati menurut Syech Quro.

Bermula dari sana di lalu hari berdirilah Kesultanan Cirebon melepaskan diri menurut kekuasaan Kerajaan Pajajaran, tak usang selesainya berdirinya Kesultanan Demak menggunakan dukungan menurut para Wali. Pendiri & Sultan Pertama di Kesultanan Cirobon merupakan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yg tidak lain adalah cucu kandung berdasarkan Pangeran Jaya Dewata yg ketika itu sudah menjadi Mahajara pada Kerajaan Pajajaran menggunakan gelar Sri Baduga Maharaja yang dikenal juga menggunakan nama Pangeran Pamanah Rasa atau lebih dikenal sang rakyatnya menggunakan sebutan Prabu Siliwangi.

Meski di wilayah Jawa Barat rakyat nya lebih mengenal Syech Quro daripada Laksamana Cheng Ho sebagai tokoh pembawa Islam pada wilayah tadi namun nir bisa dipungkiri besarnya peranan Sang Laksamana dalam mengantarkan Islam ke wilayah Jawa Barat khususnya dan Nusantara pada umumnya. Maka wajar apabila lalu pada banyak sekali tempat di Indonesia masyarakat muslim menghormati beliau menggunakan cara mengabadikan namanya menjadi nama bangunan masjid masjid yang juga dibangun menggunakan bentuk bangunan tradisional yg biasa ditemui pada wilayah dari beliau yang kini menjadi bagian berdasarkan daerah Negara Republik Rakyat China.

Serba Merah. Interior Masjid Cheng Ho Purbalingga.

---------------ooo000ooo---------------

Artikel Terkait

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Masjid Cheng Ho Palembang

Masjid Cheng Ho Pasuruan

Masjid Muhammad Cheng Ho - Surabaya

Lautze, Masjid Ruko menggunakan Ornamen Klenteng

Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta

Masjid Lautze-2 Bandung

Masjid Jami? Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono

Wednesday, September 30, 2020

Masjid Hukuru Miskiiy, Masjid Tertua di Maladewa

Hukuru Miskiiy atau Hukuru Miskit merupakan masjid tertua di Maladewa. Dibangun menurut sebuah candi.

Maladewa atau Maldives negara kepulauan di tengah samudera Hindia, terdiri rangkaian 1192 pulau pulau kecil yang sebagian besar tak berpenghuni karena ukurannya yang memang terlalu kecil dan hanya berupa pulau karang mungil di tengah samudera. Maladewa masuk dalam daftar negara terkecil di bumi. Keseluruhan luas pulau pulau nya bila digabung jadi satu seluas 298 Km2 bahkan masih lebih kecil dari luas pulau Batam (415 Km2). Ukuran pulau pulaunya yang mini dan letaknya yang berada di tengah samudera Hindia menjadikan Maladewa sebagai negara yang begitu mengkhawatirkan dampak dari pemanasan global. Elevasi pulau pulau di Maladewa paling tinggi hanya 2 meter dari permukaan laut, wajar bila meski jaraknya terpisah lebih dari 2000 kilometer dari Aceh, sebagian pulau pulau Maladewa turut luluh lantak akibat tsunami yang melanda Aceh (Indonesia) di tahun 2004 lalu.

Malé adalah kota terbesar di Maladewa dan juga Ibukota negara, dengan luas hanya 2.6 Km2, sedikit lebih luas dari pulau Penyengat (1,87 Km2) di kota Tanjung Pinang – propinsi Kepulauan Riau (Indonesia), tempat berdirinya Masjid Putih Telur Sultan Riau. Dengan luasnya tersebut menjadikan Malé sebagai ibukota negara berbentuk pulau paling kecil di bumi sekaligus sebagai ibukota negara paling padat penduduknya (90,000 dari total 385,000 penduduk Maladewa tinggal di Malé), paling rapat pula jarak antara satu masjid dengan masjid berikutnya. Maladewa juga merupakan sebuah republik yang menerapkan hukum Islam sebagai hukum negara. Islam adalah satu satunya agama yang di akui di Maladewa. Di kota Malé ibukota Maladewa berdiri sebuah masjid kuno bernama Hukuru Miskiiy, masjid pertama yang berdiri di Maladewa. Meski bentuknya sangat sederhana untuk sebuah masjid yang pernah menjadi Masjid Negara, namun masjid ini menyimpan sejarah panjang peradaban Islam di Maladewa.

Alamat dan Lokasi Masjid Huruku Miskiy ? Maladewa

Medhuziyaarai Magu Malé, Maldives

Koordinat geografi : 4° 10' 40.69" N  73° 30' 45.01" E

Masjid Huruku Miskiy hanya berjarak sekitar 140 meter dari Masjid Masjid Agung Jum’ah Malé (Grand Friday Mosque Malé) yang merupakan Islamic Center dan Masjid Nasional Maladewa atau nama resminya Masjid-al-Sultan Mohammed Thakurufaanu-al-A'z'am, Menara Masjid Islamic Center tersebut bahkan dapat dilihat dengan jelas dari halaman masjid ini. Dan hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai, sejajar dengan Istana Kepresidenan Maladewa, yang berada di tepi pantai.

Tentang Maladewa

Maladewa awalnya adalah kerajaan Budha kemudian berubah menjadi kesultanan Islam. Sejarah masuknya Islam ke Maladewa menjadi cerita tutur turun temurun dari generasi ke generasi. Letaknya yang begitu jauh dari pusat pusat peradaban dunia Islam menjadikan Maladewa seakan luput dari perhatian umat Islam dunia. Maladewa lebih dikenal dunia Internasional sebagai surga pariwisata yang tersembunyi di tengah samudera Hindia. Tak mengherankan bila disebut tersembunyi, karena letak geografisnya memang begitu terpencil dari negara manapun. Berikut gambaran betapa terpencilnya letak geografis Maladewa.

Satu satunya tetangga terdekat dan berbatasan langsung dengan Maladewa di sebelah utara adalah gugus kepulauan Lhaksadweep - India, kepulauan Lhaksadweep memilki kesamaan budaya, sejarah dan agama dengan Maladewa, bahkan salah satu pulau dari gugus kepulauan Lhaksadweep pernah diklaim sebagai milik Maladewa. Namun begitu jarak kota Malé Ibukota Maladewa ke ujung paling selatan daratan Jazirah India di kota Kanyakumari negara bagian Tamil Nadu terpisah sejauh 621 km.

Ibukota negara tetangga terdekat dengan Malé adalah kota Kolombo Ibukota Sri Lanka, berada di sebelah timur laut kota Malé. Jarak antara Masjid Hukuru Miskiiy di Malé ke Masjid Jami Ul-Alfar di Pelabuhan kota Kolombo (Sri Lanka) terpaut jarak 766 km, bukan jarak yang dekat tentunya. Jarak antara pantai timur Malé ke pantai paling barat pulau Simeulue di Aceh sejauh 2469 km. Tetangga terdekat Maladewa di sebelah tenggara adalah pulau keeling (milik Australia) sejauh 3149km.

Maladewa berada ditengah tengah Samudera Hindia membuatnya begitu terpencil menurut daerah negara lainnya.

Tetangga terdekatnya disebelah selatan adalah pulau karang Diego Garcia sejauh 1270Km. Diego Garcia adalah bagian dari gugus kepulauan British Indian Ocean Teritory (BIOT) milik Inggris namun disewa oleh Amerika Serikat untuk dijadikan sebagai pangkalan Militer. Jarak dari Pulau Malé ke kota Victoria di Seycelles yang berada di sebelah barat daya sejauh 2226Km. Pantai paling barat pulau Malé berjarak 3140 Km dengan pelabuhan Mogadishu, Somalia di pantai timur benua Afrika, Sedangkan ujung selatan Jazirah Arab di Kesultanan Oman berjarak sejauh 2470 km dari barat Laut pulau Malé.

Selain keindahan alam dan hasil laut, Maladewa terbilang miskin sumber daya alam. Pembangkit listrik di negara ini sangat bergantung dari BBM import, sumber air bersih salah satunya di dapat dari hasil penyulingan air laut. Selama berabad abad peradaban disana menggunakan batu karang laut sebagai bahan bangunan termasuk untuk membangun masjid masjid mereka. Pulau pulau mereka yang kecil bahkan tak cukup untuk membangun sebuah bandara berlandasan pacu ukuran panjang. Agar bisa didarati pesawat berbadan lebar, bandara Internasional Malé lebih dari setengahnya berdiri di atas pulau buatan. Baik warganegara biasa, pejabat pemerintah hingga presiden Maladewa harus menyeberangi laut untuk menuju dan dari bandara karena letaknya yang berada di pulau berbeda. Kota baru Hulhumale di sebelah utara pulau bandara, sebuah kota yang diproyeksikan sebagai kota masa depan Maladewa, juga dibangun di atas pulau buatan.

Kota Male, kota terbesar di Maladewa. Pada bagian belakang merupakan pulau bandara & pulau hulhumale yang dibangun menurut diatas pulau protesis output reklamasi.

Ibnu Batutah, Sejarawan Islam dari Maroko pernah singgah ke Maladewa di Abad ke 14, beliau menyebut Maladewa “sebagai salah satu keajaiban dunia, menyebut Maladewa sebagai rangkaian ratusan pulau pulau yang membentuk seperti cincin, masing masing pulau itu berdekatan saat kita meninggalkan pulau yang satu pucuk pucuk pohon kelapa di pulau berikutnya sudah nampak dengan jelas” dalam catatannya Ibnu Batutah juga menyebutkan bahwa pada saat itu Maladewa sudah menjadi sebuah kesultanan Islam di bawah pimpinan seorang muslimah bergelar Sultanah.

Ahli sejarah memang belum sepakat bulat tentang sejarah awal kerajaan kerajaan di Maladewa. Ada yang menyebut bahwa kerajaan kerajaan disana berasal dari para bangsawan Ceylon (Sri Lanka) sementara lainnya menyebut berasal dari Kerala (India). Namun penggalian arkeologi di beberapa pulau disana menemukan reruntuhan candi dan artefak artefak yang membuktikan bahwa kerajaan Budha memang pernah eksis di Maladewa disekitar abad ke 12.

Sejak tahun 1153 hingga tahun 1968 Maladewa berbentuk Kesultanan Islam. Selama jangka waktu 16 December 1887 hingga 25 Juli 1965 Maladewa menjadi daerah protektorat Inggris dibawah kendali gubernur Jendral Inggris di Ceylon (Sri Lanka) atas permintaan Sultan. Inggris memberikan proteksi dan tidak akan menyerang Maladewa namun mengontrol urusan luar negeri Maladewa. Tahun 1957 Inggris membangun pangkalan militer di pulau karang Addu dengan sewa £2000 per tahun tapi kemudian ditutup tahun 1976. Tanggal 26 Juli 1965 Inggris menyerahkan kekuasaan penuh kepada Maladewa dalam sebuah perjanjian yang ditanda tangani di kediaman Komisi Tinggi Inggris di Kolombo. 11 November 1968 kesultanan Maladewa berahir dengan Sultan Terahirnya Muhammad Fareed Didi. Ibrahim Nasir terpilih sebagai presiden pertama Maladewa.

Menara masjid Hukuru Miskiiy di perangko Maladewa

Sejarah Islam pada Maladewa

Maladewa berubah menjadi sebuah kesultanan Islam di tahun 1153 (abad ke 12) oleh seorang ulama Magribi (Afrika Utara) bernama Abul Barakat Yoosuf Al Barbary. Ketika beliau singgah di Maladewa di masa kekuasaan raja Sri Tribuvana Aditiya alias Dhovemi Kalaminja Siri Thiribuvana-aadiththa Maha Radun alias Donei Kalaminjaa alias Dhovemi of The Maldives. Raja Sri Tribuvana Aditiya naik tahta tahun 1138 sebagai raja kedua dari dinasti Theemuge (Lunar Dinasty). Setelah masuk Islam beliau berganti nama menjadi Muhammad Ibnu Abdullah Bergelar Dharumavantha (Dharumas) Rasgefaanu Dia mengirimkan para dai ke berbagai pelosok Maladewa untuk menyebarkan dan mengajarkan Islam.

Sultan Muhammed Ibnu Abdullah adalah orang Maladewa pertama yang masuk Islam di ikuti oleh istri dan anak anaknya lalu kalangan ningrat Istana dan pada ahirnya menjadi agama kerajaan, sejak itu agama Budha ditinggalkan, candi candi dirobohkan dan arca arca Budha dihancurkan dan diganti dengan bangunan Masjid. Masjid Jum’at (Friday Mosque)dan Masjid Dharumavantha Rasgefaanu Miskiy pertama kali dibangun di Malé oleh Sultan Muhammad Ibnu Abdullah.

Tentang pembawa Islam ke Maladewa, sumber cerita tutur di tengah masyarakat menyebutkan bahwa di masa pemerintahan raja Dhovemi datang seorang ulama dari Tabriz (Iran) bernama Yusuf Shamsud-din yang mengalahkan iblis Rannamaari sang penguasa laut penebar bencana. Dan sejak itu raja Dhovemi dan seluruh rakyat Maladewa masuk Islam. Namun para ahli sejarah sepakat bahwa Yusuf Shamsud-din dan Abul Barakat Yoosuf Al Barbary adalah orang yang sama.

Add caption

Konversi seluruh Maladewa ke dalam Islam terjadi di tanggal 2 Rabi'-ul-Akhir 548 H (1153M) bertepatan dengan tahun ke 17 pemerintahan Al-Muqtafi, Khalifah Islam dari dinasti Abbasiah di Baghdad memerintah tahun 1136–1160, dan sejak itu Maladewa menjadi sebuah negara Islam. Abul Barakat Yoosuf Al Barbary tetap tinggal di Maladewa untuk mengajarakan Islam, beliau wafat masih dimasa kekuasaan Sultan Muhammad Ibnu Abdullah dan dimakamkan di Medhuziyaaraiy, Malé. Tak lama setelah wafatnya Abul Barakat Yoosuf, Sultan Muhammad Ibnu Abdullah berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji di tahun 1166 namun tak pernah kembali, tampuk pemerintahan kemudian diteruskan oleh sepupunya yang bernama Sultan Muthey (Al-Sultan Muthey Kalaminja Siri Bavana Abaarana Mahaa Radun).

Sejarah Masjid Hukuru Miskiiy - Maladewa

Masjid Hukuru Miskiiy atau Hukuru Miskit atau Friday Mosque merujuk kepada masjid yang dipakai untuk keperluan sholat lima waktu dan sholat Jum’at di Malé - Maladewa. Pertama kali dibangun atas permintaan dari Siri Kalo dan perintah Sultan Muhammad Ibnu Abdullah di tahun 1153. Siri Kalo adalah saudara dari Sultan Muhammad Ibnu Abdullah. Pembangunan masjid dilaksanakan oleh Al-Wazir Shanivirazaa. Sultan Muhammad Ibnu Abdullah juga membangun masjid Dharumavantha Miskyii yang merupakan masjid untuk sholat Idul Fitri dan Idul Adha.

Masjid ini dibangun diatas pondasi sebuah candi tua yg menghadap ke arah timur loka dimana matahari terbit, bukan menghadap kiblat. Konsekwensinya baris shaf pada masjid ini menyerong tak sejajar menggunakan garis bangunan. Arah Kiblat pada mekah yang tidak segaris menggunakan bangunan membuat jemaah sholat harus menghadap ke sudut ruangan buat mendapatkan arah kiblat yang sempurna.

Add caption

Pengurus masjid sudah memasang sederetan sajadah pada arah yang tepat sehingga sangat membantu jemaah yang bukan warga setempat, untuk menemukan arah kiblat yang benar. Masjid Hukuru Miskiy kemudian dibangun ulang pada tahun 1656 di masa pemerintahan Sultan Ibrahim Iskandhar ke I (memerintah 1648-1687). Menara masjid ini terpisah jauh dari bangunan masjid. Bentuk dan bahan menara ini sama sekali tak menyiratkan umurnya yang sudah begitu tua, padahal menara ini sudah berdiri sejak tahun 1675.

Departemen warisan budaya Maladewa sudah mendaptarkan 16 situs masjid bersejarah di Maladewa untuk di damasukkan ke dalam daftar warisan budaya dunia UNESCO. Salah satunya adalah masjid Hukuru Miskiy ini bersama masjid masjid lainnya yang juga diperindah dengan ukiran batu batu karang. 5 orang dari departemen tersebut bulan Maret 2011 lalu berada di Malaysia selama tiga minggu untuk belajar tentang ‘konservasi bangunan dan situs warisan budaya’ di Malaya University, Malaysia. Upaya tersebut dilakukan untuk mengkonservasi masjid masjid bersejarah di Maladewa serta memperkenalkan masjid masjid yang tak biasa tersebut ke dunia internasional. Sekaligus menggali potensi wisata yang menjadi salah satu urat nadi devisa negeri rangkaian kepulauan di tengah samudera Hindia tersebut.

Masjid Hukuru Miskiy awalnya merupakan sebuah kuil yg dikonversi sebagai masjid. Perhatikan garis sajadah pada pada masjid ini yg terpaksa pada miringkan buat menyesuaikan menggunakan arah kiblat yg tak segaris dengan bangunannya.

Arsitektural Masjid Hukuru Miskiiy ? Maladewa

Sekilas pandang, masjid ini memang tampak sangat sederhana. Dengan bentuknya yang tak lebih berdasarkan sebuah bangunan tempat tinggal dengan atap seng gelombang rona perak. Atap masjid ini terdiri berdasarkan 3 susunan atap, mirip menggunakan struktur atap masjid masjid di Indonesia. Sepertinya bentuk atap seperti ini memang warisan menurut bentuk bentuk kuil dimasa sebelum Islam di Maladewa.

Masjid ini terkenal dengan ukiran ukiran kayunya yang detil dan dipernis  dengan baik, ukiran kaligrafi Alqur’an serta rancangan ornamen ornamenya di bagian dalam dan luar bangunan turut memperindah bangunan masjid ini. Bahan utama pembangunanya menggunakan batu karang, letak geografis kepulauan Maladewa yang berada di tengah samudera Hindia menjadikannya lebih mudah mendapatkan batu karang daipada bahan bangunan lain nya. Batu batu karang tersebut di pahat dengan ukiran ukiran indah kaligrafi Al-Qur’an dan ornamen ornamen indah lainnya. Bermacam jenis kayu juga digunakan dalam pembuatan pintu, kusen jendela serta sisi langit langit masjid tua ini.

Di lebih kurang masjid ini jua terdapat pemakaman muslim berusia tua dengan batu batu nisannya yang sangat khas pada ukuran besar . Batu nisan misalnya pemakaman di lebih kurang masjid ini memang ukuran tidak biasa bagi kita muslim Indonesia. Tinggi masing masing batu nisan itu mencapai dengan tinggi orang dewasa. Makam disekitar masjid ini terdiri berdasarkan makam para sultan, bangsawan, ulama & pahlawan Nasional Maladewa. Beberapa antara lain sudah sangat kuno.

Foto Foto Masjid Hukuru Miskiy

Baru dan lama. Menara Masjid Hukuru Miskiiy yang khas, sementara dibelakangnya adalah menara masjid dan Islamic Center Maladewa, sebuah bangunan moderen yang dibangun kemudian.
Komplek makam tua di sekitar masjid Huskuru Miskiiy.

Referensi

Lonelyplanet.com – hukuru miskiiy old

Maldives.tourism-srilanka.com – hukuru miskiiy

mymaldives.com - maldives-to-submit-sites-for-world-heritage-list

exploguide.com - hukuru-miskiiy-friday-mosque-male

maldivesstory.com.mv - Conversion of the Maldives to Islam

maldivesculture.com – history of maldives

en.wikipedia - List_of_sultans_of_the_Maldives

deplu.go.id - maladewa

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga

Masjid dan Islamic Center Sultan Mohammed Thakurufaanu Al-A zzam - Maladewa

Jejak Indonesia pada Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Jami Ul-Alfar, Kolombo - Sri Lanka

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun sang Tentara Resimen Melayu

Masjid Jami? Cheraman, Masjid Pertama di India

Tuesday, September 29, 2020

Masjid dan Islamic Center Sultan Mohammed Thakurufaanu Al-A zzam - Maladewa

Masjid Dan Islamic Center Maladewa (foto dari picasaweb)

Masjid dan Islamic Center Sultan Mohammed Thakurufaanu Al-Azzam adalah masjid terbesar di Republik Maladewa, lebih terkenal dengan nama Grand Friday Mosque Male. Masjid ini sekaligus menjadi masjid nasional dan kantor Dewan Agung Agama Islam Maladewa. Masjid megah ini berada di kota Male, Ibukota Republik Maladewa. Lokasinya hanya terpaut kurang dari seratus meter dari Masjid Hukuru Miskiiy “Masjid Nasional” pertama di Maladewa sebelum fungsi sebagai “Masjid Nasional” berpindah ke Masjid dan Islamic Center Sultan Mohammed Thakurufaanu Al-A’zzam seiring dengan selesainya pembangunan Islamic Center tersebut tahun 1984.

Penyebutan masjid di Maladewa memang agak membingunkan bagi orang luar. Maladewa tak mengenal masjid Jami’ seperti di Nusantara. Semua masjid yang menyelenggarakan sholat Jum’at disebut Hukuru Miskiiy atau Hukuru Miskit. Hukuru artinya Jum’at dan Miskiiy atau Miskit berarti Masjid. Di kota Male sebelumnya sudah ada Hukuru Miskiiy (dibangun tahun 1153) yang hanya sejengkal jaraknya dari istana Sultan (kini menjadi istana presiden). Untuk membedakan Hukuru Miskiiy yang pertama dengan Hukuru Miskiiy yang baru (yang sedang kita bahas dalam artikel ini), maka Hukuru Miskiiy yang baru lebih dikenal sebagai dengan sebutan “Islamic Center”, tapi orang luar termasuk para turis asing di Maladewa lebih mengenalnya dengan nama Grand Friday Mosque Male. Grand Friday Mosque, menjadi pusat kegiatan beberapa even internasional termasuk diantaranya pertemuan SAARC yang pernah diselenggarakan di masjid ini.

Lokasi & Alamat Grand Friday Mosque Male

Islamic Centre?

156 Ameer Ahmed Magu

Mal?, Maldives

Lokasi masjid ini yang berada di kawasan pusat pemerintahan Maladewa, dekat dengan pelabuhan utama Male, menjadikannya sebagai landmarknya kota Male dan Maladewa. Ditambah lagi dengan ukuran kota pulau Male yang tak telalu besar membuat masjid ini dapat terlihat hampir dari seluruh bagian kota. Saking kecilnya hanya butuh waktu setengah jam untuk berjalan kaki dari ujung timur ke ujung barat kota Male atau dari ujung utara ke ujung selatan, dan kurang dari dua jam berjalan kaki untuk mengitari seluruh kota pulau ini.

Sejarah Singkat Maladewa

Sejarah Maladewa nyaris identik dengan sejarah Islam di Maladewa. Para ahli memperkirakan pulau pulau Maladewa mulai dihuni sejak 500 tahun sebelum masehi. Sampai awal abad ke 12 Maladewa masih berbentuk kerajaan Budha sampai kemudian berubah menjadi kesultanan Islam di tahun 1152 seiring dengan masuk Islamnya Raja Maladewa berikut seluruh keluarga di ikuti seluruh rakyatnya. Portugis sempat menjajah Maladewa selama 15 tahun (1558-1573) dan tersingkir dari Maladewa dengan kekalahan besar dalam serbuan mendadak namun mematikan dari pasukan yang dipimpin oleh Sultan Mohammed Thakurufaanu Al-Azzam, pahlawan nasional Maladewa yang namanya di abadikan sebagai nama masjid dan Islamic Center Maladewa.

Temaram di Masjid Islamic Center Maladewa (foto dari picasaweb)

Selain itu Maladewa sempat dikuasai oleh Ali Raja dari India dan lagi lagi Kesultanan Maladewa membebaskan diri dari kekuasaan asing di negeri mereka. Ali Raja hanya mampu bertahan menguasai Maladewa tak lebih dari dua minggu. Tahun 1887 Sultan meminta proteksi dari kerajaan Inggris yang berkedudukan di Ceylon (Sri Lanka) dan sejak itu Maladewa menjadi wilayah protektorat Inggris. Secara berkala kapal angkatan laut inggris melakukan patroli laut di perairan Maladewa. Tahun 1932 konstitusi pertama mulai berlaku namun tak bertahan lama dan berahir di tahun 1939.

Tahun 1953 Maladewa menjadi Negara Republik berubah dari Kesultanan, namun keluarga kerajaan masih sangat berpengaruh di pemerintahan. Tahun 1965 inggris melepaskan status protektorat Maladewa. Republik Maladewa Jilid ke dua dibentuk tanpa campur tangan Inggris. Ibrahim Nasir menjadi Presiden pertama. Meski telah berganti bentuk dari kesultanan menjadi Republik namun Maladewa tetap mempertahankan Islam sebagai dasar negara sejak tahun 1152 hingga saat ini.

malampun jatuh di Masjid Islamic Center Maladewa (foto dari clecstrotter)

Peran Masjid di Maladewa

Dalam kehidupan masyarakat Maladewa, Miskiiy atau Masjid memegang peran sentral bagi pelaksanaan syariat Islam. Disetiap hari Jum’at, toko toko dan perkantoran tutup pada pukul 11.00 untuk memberi waktu kepada jemaah guna mempersiapkan diri untuk sholat Jum’at yang dimulai pukul 12.30 siang waktu setempat. Masing masing komunitas masyarakat memiliki masjid mereka sendiri yang biasanya dibangun menggunakan bahan utama batu karang warna putih dengan atap seng gelombang. Di tahun 1991 Maladewa memiliki setidaknya 724 masjid dan 266 masjid khusus untuk wanita. Walaupun kemudian masjid masjid khusus untuk wanita teresbut ditutup untuk mengurangi biaya operasional Negara, dan mendorong jemaah wanita untuk sholat di rumah sesuai dengan sunnah bahwa muslimah lebih utama melaksanakan sholat di rumah.

Bila di Indonesia kita mengenal sebutan Marbot untuk pengurus masjid. Di Maladewa mereka menyebutnya Mudimu. Bedanya lagi di Indonesia para marbot biasanya bekerja sukarela alias tak di bayar, tapi di Maladewa Mudimu merupakan pegawai resmi pemerintah. Mudimu juga bertindak sebagai muazin yang mengumandangkan azan lima kali sehari. Toko toko dan kegiatan perdagangan biasanya berhenti sejenak setidaknya 15 menit setiap kali terdengar azan. Selama bulan Ramadhan semua kafe dan rumah makan tutup disiang hari dan hanya buka dalam waktu yang sangat terbatas di malam hari.

Begitu pentingnya kedudukan masjid ini, pemerintahMaladewa

melalui otoritas moneter negara tersebut mengabadikannya

dalam uang kertas pecahan 500 Rufiyaa tahun emisi 1996.

Sejarah Grand Friday Mosque, Maladewa

Grand Friday Mosque Male diresmikan oleh Presiden Maladewa, Mumoon Abdul Gayoom pada 11 November 1984. Keseluruhan masjid terdiri dari bangunan berlantai tiga lengkap dengan perpustakaan umum dan balai pertemuan serta perkantoran. Majelis Agung Urusan Islam Maladewa berkantor di Masjid ini. Proses pembangunan masjid didanai oleh Negara Negara Teluk Persia, Pakistan, Brunai Darussalam dan Malaysia.

Penduduk Maladewa merupakan muslim sunni, islam telah menjadi agama negara sejak pertama kali kesultanan Maladewa berdiri di abad ke-12 dan Islam menjadi syarat utama warganegara Maladewa. Hukum Islam atau Syariah, dalam bahasa Dhivehi yang menjadi bahasa resmi Maladewa disebut sebagai Sayriatu menjadi hukum dasar Maladewa. Impelementasinya di dalam kehidupan masyarakat menjadi tanggung jawab utama Presiden, Hakim Agung, Mendagri serta Majelis Agung Urusan Islam.

Fasad depan Masjid Islamic Center Maladewa (foto dari virtualtourist.com)

Arsitektural Grand Friday Mosque Male

Masjid ini berarsitektur terkini menggunakan sentuhan arsitektur Timur Tengah yg sangat kental, lengkap menggunakan sebuah bangunan menara tinggi & kubah akbar di atap bangunan primer. Masing-masing kubah tadi berbalut rona kuning ke-emasan, mengingatkan dalam kubah pada masjid Kubatus Shakrah (Kubah batu) di tengah komplek Masjidil Aqso pada Palestina. Mungkin lantaran nama masjid nya yang relatif panjang, hampir seluruh goresan pena & resensi di global maya lebih suka menyebut masjid ini menggunakan nama Grand Friday Mosque Male.

Bangunan masjid terdiri dari tiga lantai. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang termasuk perpustakaan Islam dan kantor bagi Dewan Agung Urusan Agama Islam Maladewa. Grand Friday Mosque Male berkapasitas 5000 jemaah. Ukiran dari batu karang putih menjadi cirri khas masjid masjid Maladewa, termasuk di Masjid Islamic Center ini. Batu karang tentu saja memang bahan bangunan yang paling mudah diperoleh di Maladewa yang terletak di tengah Samudera Hindia. Pola ukiran batu karang ini didominasi pola pola segi empat. Tak ketinggalan ukiran dari kayu dan ukiran Kaligrafi ayat suci Al-Qur’an.

Masjid Islamic Center Maladewa dari arah laut (foto dari atoltravel.com)

Exterior depan masjid dilengkapi dengan lima bukaan berlengkung berukuran akbar masing masing 5 di sebelah kiri dan lima disebelah kanan. Gerbang primer masjid ini terbuka lebar meski wajib melewati serangkaian anak tangga yg relatif tinggi buat menuju gerbang utama masjid menuju ruang sholat primer. Menara masjid ini terdiri berdasarkan tiga lantai menggunakan balkoni dimasing masing lantai. Balkoni teratas dibuat terbuka seperti dengan masjid masjid menurut dinasti Mughal India. & tentu saja sebuah bulan sabit warna emas menghias zenit tertinggi menara, sama halnya dengan pada ujung tertinggi kubah primer masjid.

Sebuah papan peringatan menurut Dewan Tinggi Urusan Islam dalam ukuran besar berbahasa inggris menggunakan tegas menaruh arahan bagi pengunjung non muslim.

?Non muslim diperkenankan masuk ke masjid Al-Al-Sultan Muhammadh Thajurufaan ? Al-A?Zam dan Islamic Center diantara pukul 9.00 sampai pukul 17.00 setiap hari, kecuali selama saat sholat. Mereka diminta buat mengormati ajaran agama & budaya kami dan diminta dengan sangat untuk nir berisik selama pada berada pada area sholat, pemotretan dan rekaman video di bagian dalam masjid & Islamic center wajib menerima biar menurut pengurus, tanpa seizin pengurus, semua kamera dan media rekaman apapun hanya diperkanankan sebatas tangga masjid?

Foto foto Grand Friday Mosque Male

Lokasinya yang berada di tengah Samudera Hindia menjadikan masjid

ini salah satu masjid di lokasi yang tak biasa

Dibelakang kapal nelayan (foto dari flickr)

Dibawah bendera Maladewa (Foto dari cia.gov)

Masjid Islamic Center Maladea diantara mendominasi langit kota Male,

di sebelah kiri adalah dermaga kepresidenan Maladewa. Untuk menuju

dan dari bandara presiden dan pejabat Maladewa harus menggunakan

angkutan air, karena letaknya yang berada di pulau yang berbeda

(foto darithecaptainslog))

Masjid Islamic Center Maladewa dari udara (foto holidaysatmaldives.com)

Masih dari sudut pandang tengah samudera Hindia (foto sinyutnyut.com)

Referensi

En.wikipedia – mohammad thakurufaanu al azam

maldives.tourism-srilanka.com – grand Friday mosque

en.wikipedia – Islamic center (maldives)

--------------------------------ooOOOoo---------------------------------

Baca Juga

Masjid Hukuru Miskiiy, Masjid Tertua pada Maladewa

Jejak Indonesia di Masjid Masjid Sri Lanka

Masjid Jami Ul-Alfar, Kolombo - Sri Lanka

The Colombo Grand Mosque - Sri Lanka, Warisan Bangsawan Indonesia

Wekande Jummah Masjid - Sri Lanka, Wakaf Muslim Indonesia Abad 18

Java Lane Mosque - Sri Lanka, dibangun oleh Tentara Resimen Melayu

Masjid Jami? Cheraman, Masjid Pertama pada India

Asal SEO

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done